Berita Aceh Timur
Thailand-Kamboja Perang, 18 Nelayan Aceh Timur Terimbas, Masih tanpa Kabar
Ia bahkan tak pernah tahu bagaimana kondisi suaminya saat ini, semenjak terakhir kali komunikasi pada Senin (19/5/2025) malam lalu.
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Saifullah
Laporan Maulidi Alfata | Aceh Timur
SERAMBINEWS.COM, IDI - Keluarga nelayan Aceh Timur yang ditahan otoritas Thailand karena melewati batas wilayah dilanda keresahan dan khawatir akan nasib sanak saudaranya.
Pasalnya, pihak keluarga masih belum ada kabar terbaru terkait 18 nelayan asal Aceh Timur yang ditahan Thailand sampai saat ini.
Seperti diketahui, Thailand saat ini sedang terlibat perang dengan Kamboja.
Situasi itu membuat keluarga para nelayan resah dan sering menangis mengingat orang-orang yang mereka sayangi masih dalam tahanan.
Badrul Muna, istri Nahkoda Kapal Motor (KM) Jasa Cahaya Ikhlas yaitu Umar Johan mengungkapkan, bahwa kekhawatirannya dengan kondisi suami dan 17 ABK lainnya, yang masih ditahan di Chalong, Thailand.
Ia bahkan tak pernah tahu bagaimana kondisi suaminya saat ini, semenjak terakhir kali komunikasi pada Senin (19/5/2025) malam lalu.
Baca juga: Pemilik Kapal Desak Pemerintah Serius Tangani 18 Nelayan Aceh Timur Ditangkap di Thailand
"Sampai saat ini tidak pernah lagi ada panggilan dari sana, dan kami khawatir, apa lagi Thailand sedang berperang, kami ingin pemerintah serius mengurus masalah ini," tuturnya, Jumat (25/7/2025).
Muna yang setiap harinya berharap suaminya pulang, kini semakin cemas saat ia mendengar kabar Thailand berperang dengan Kamboja.
Mengingat suaminya yang sudah dua bulan ditahan di Negara Gajah Putih, akibat melanggar batas wilayah saat mencari ikan di laut.
"Kabar terakhir dari Haji Uma katanya belum disidangkan, itu saat bulan lima kemarin, tapi setelah itu kami tidak pernah menerima info apapun," ungkapnya.
Umar Johan adalah Nahkoda KM Jasa Cahaya Ikhlas, kapal nelayan asal Aceh yang ditangkap bersama 17 anak buah kapal (ABK) lainnya, karena dituduh melewati batas wilayah perairan Thailand.
Baca juga: Satpolairud Polres Pidie Periksa Dokumen Kapal Nelayan Saat Cuaca Ekstrem
Peristiwa itu terjadi pada Senin malam, 19 Mei 2025.
Ke-18 nelayan itu ditahan di penjara Pengadilan Chalong.
Sampai saat ini, tidak ada yang tahu apakah ke-18 ABK itu sudah disidangkan, atau masih ditahan di penjara Chalong.
Atau mereka dievakuasi akibat peperangan di Negara Gajah Putih itu.
Semua pertanyaan itu dipendam Badrul Muna.
Ia tak tahu harus mengadu ke mana, harapannya suami dia bisa segera dipulangkan dengan selamat dan kembali dengan keluarganya.
"Saya sudah mendatangi Bupati Aceh Timur, katanya pihak Pemkab sudah menyurati Kemenlu,” ucap dia.
Baca juga: Detik-detik Kapal Nelayan Aceh Timur Terhantam Kargo Hongkong, Sempat Terapung-apung di Laut Lepas
“Namun sampai sekarang belum ada kabar terbaru, saya harap pihak pemerintah segera bertindak, kami ingin keluarga kami kembali bersama tolong," pintanya.
Fakta Perang Thailand-Kamboja
Perang antara dua negara bertetangga tersebut dimulai pada 24 Juli 2025.
Bentrokan pecah di sekitar Candi Prasat Ta Moan Thom di Provinsi Surin, Thailand, yang juga diklaim oleh Kamboja sebagai warisan budaya mereka.
Kedua negara saling tuduh sebagai pihak yang memulai serangan.
Thailand menyebut Kamboja menembakkan roket BM-21 ke wilayah sipil.
Sementara Kamboja menuduh Thailand menggunakan jet tempur F-16 dan bom cluster.
Bentrokan menyebar ke enam titik perbatasan, termasuk wilayah Ta Krabey dan Phnom Khmao.
Ekses bentrokan bersenjata dua negara anggota ASEAN ini menyebabkan sedikitnya 16 orang tewas, dan lebih dari 46 luka-luka, mayoritas adalah warga sipil.
Lebih dari 138.000 warga Thailand telah mengungsi ke hampir 300 lokasi penampungan di empat provinsi perbatasan.
Di sisi lain, Thailand menutup seluruh titik perbatasan dan menurunkan hubungan diplomatik dengan Kamboja.
Kamboja membalas dengan mengusir diplomat Thailand dan menyerukan kecaman internasional terhadap agresi militer.
Pemerintah Indonesia dan ASEAN berharap konflik tidak meningkat dan menyerukan penyelesaian damai.
Latar Belakang Sengketa
Sengketa berakar dari klaim wilayah perbatasan yang merujuk pada peta kolonial Prancis tahun 1907.
Wilayah seperti Candi Preah Vihear dan Prasat Ta Moan Thom menjadi titik panas karena nilai sejarah dan identitas nasional.(*)
perang
Thailand
Kamboja
perang Thailand-Kamboja
nelayan aceh timur
nelayan
Aceh Timur
Serambinews.com
Serambi Indonesia
| Sembunyikan Sabu di Celana Dalam, Pria di Aceh Timur Diringkus Polisi |
|
|---|
| MaTA Temukan Indikasi Korupsi di Proyek Jalan Kuta Binjei-Alue Ie Mirah, Desak Polda Lakukan Lidik |
|
|---|
| Dansatgas TMMD Beri Dukungan Moril Lewat Sembako kepada Warga Alue Canang Aceh Timur |
|
|---|
| Wakil Bupati Aceh Timur Lepas 247 JCH ke Asrama Haji |
|
|---|
| Sinergi TNI dan Warga Alue Canang Aceh Timur Wujudkan Hunian Layak Warga Kurang Mampu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/istri-nelayan-Atim-yang-ditahan-di-Thailand.jpg)