Banda Aceh
Tiga Mahasiswi Teknik Kimia USK Ciptakan Membran Antibakterial Ramah Lingkungan
Sebagaimana diketahui, limbah antibiotik yang terbuang ke perairan dapat memicu resistensi bakteri dan mengganggu ekosistem.
Laporan Yarmen Dinamika | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM - Tiga mahasiswi Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) membuktikan bahwa ide sederhana bisa berdampak besar bagi pelestarian lingkungan.
Lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), mereka menggagas teknologi membran Poliviniliden Fluorida (PVDF) yang dimodifikasi dengan Graphene Oxide dan ekstrak daun mimba (Azadirachta Indica) untuk membantu menyaring limbah antibiotik agar tak mencemari perairan.
Tim ini diketuai oleh Haziqia Aulia Putri, bersama dua anggota, A.R Yana Sunarti dan Sheila Rizkia Azzahra, yang juga mahasiswa Teknik Kimia USK.
Dengan memanfaatkan keunggulan Graphene Oxide untuk memperkuat struktur membran dan daun mimba sebagai antibakteri alami, mereka yakin membran ini dapat bekerja lebih optimal dibandingkan filtrasi konvensional.
“Selain lebih efektif, kami ingin teknologi ini tetap ramah lingkungan dengan memanfaatkan bahan alami yang mudah diperoleh, seperti daun mimba,” ungkap Haziqia kepada Serambinews.com di Banda Aceh, Selasa (12/8/2025) sore.
Baca juga: Antibiotik Bukan Solusi Segalanya, Penting Mengetahui Penggunaannya Sesuai Petunjuk
Sebagaimana diketahui, limbah antibiotik yang terbuang ke perairan dapat memicu resistensi bakteri dan mengganggu ekosistem.
Selain itu, dapat pula menyebabkan kontaminasi antibiotik di lingkungan serta meningkatkan konsentrasi zat antibiotik di perairan.
Jadi, melalui inovasi ini, mereka berharap bisa memberikan solusi praktis untuk pengolahan air di tingkat industri maupun rumah tangga.
Saat ini, tim sedang menjalankan tahap uji coba membran di laboratorium. Mereka juga aktif membagikan perkembangan riset melalui akun Instagram @goxmimba.membran.
Melalui platform tersebut, publik dapat mengikuti proses riset, diskusi, hingga update hasil inovasi ke depannya.
Dengan semangat riset dan kolaborasi, mereka berharap inovasi ini bisa menjadi langkah kecil menuju solusi besar bagi masalah lingkungan, terutama di Aceh.
Berdasarkan penelusuran Serambinews.com ke sejumlah referensi, bahaya limbah antibiotik terhadap perairan sangatlah serius.
Ia dapat mencemari lingkungan perairan dan membahayakan organisme laut lainnya.
Selain itu, limbah antibiotik juga dapat mempercepat penyebaran resistensi antimikroba di lingkungan. (*)
Baca juga: Dea Permata Karisma Tewas Dibunuh di Purwakarta, Sempat Lapor Polisi Dapat Teror tapi Tak Ditanggapi
Baca juga: Dimutasi Jadi Kakankemenag Pidie, Samhudi Sampaikan Salam Perpisahan untuk Warga Nagan Raya
Baca juga: Hasil Kejuaraan Dunia Voli U21 2025: Indonesia Gagal Lolos 16 Besar, Nyaris Kejutkan Argentina
| Korban Penipuan Aplikasi Kencan Lapor ke Satpol PP-WH Banda Aceh, Begini Modusnya |
|
|---|
| 9 Titik Panas Terpantau, Ini Prakiraan Cuaca Banda Aceh Sekitarnya saat Akhir Pekan Menurut BMKG |
|
|---|
| Buntut Penemuan Janin di Banda Aceh, Warga Diimbau Segera Lapor Jika Ada Hal Mencurigakan |
|
|---|
| Pemko Banda Aceh Bahas Penataan PKL, Ini Zona yang Diperbolehkan dan Dilarang Berjualan |
|
|---|
| Sambut HKB 2026, GEN-A Perkuat Kapasitas Riset Fasilitator Tangguh Bencana |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Tiga-mahasiswi-Teknik-Kimia-USK-Haziqia-Aulia-Putri-AR-Yana-Sunarti-dan-Sheila-Rizkia-Azzahra.jpg)