Senin, 8 Juni 2026

Opini

Antibiotik Bukan Solusi Segalanya, Penting Mengetahui Penggunaannya Sesuai Petunjuk

Resistensi antibiotik adalah kondisi ketika antibiotik tidak lagi efektif dalam membunuh bakteri yang menginfeksi tubuh. Resistensi

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
Kompas.com
Ilustrasi 

Oleh: Maulafi Alhamdi Stivani dan Said Usman*)

ANTIBIOTIK adalah salah satu penemuan terpenting dalam sejarah medis modern. Sejak pertama kali ditemukan, antibiotik telah menyelamatkan jutaan nyawa dari infeksi bakteri yang sebelumnya mematikan. 

Namun, dengan semakin maraknya penggunaan antibiotik, muncul permasalahan yang sangat serius: resistensi antibiotik. Di era sekarang, resistensi antibiotik menjadi ancaman besar bagi kesehatan global. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat, baik dalam praktik medis maupun dalam sektor pertanian, memperburuk situasi ini.

Resistensi antibiotik adalah kondisi ketika antibiotik tidak lagi efektif dalam membunuh bakteri yang menginfeksi tubuh. Resistensi antibiotik menyebabkan bakteri tetap berkembang biak dan sulit diobati. Akibatnya, penderita dapat mengalami komplikasi yang berat, bahkan kematian.

Resistensi antibiotik merupakan salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan masyarakat dan pembangunan global. Diperkirakan  angka kematian global pada tahun 2019 resistensi antibiotik terhadap bakteri mencapai 1,27 juta jiwa dan sebanyak 4,95 juta jiwa berujung kepada kematian.

Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri menjadi kebal terhadap efek antibiotik. Hal ini membuat infeksi yang sebelumnya mudah diobati menjadi sulit atau bahkan tidak bisa disembuhkan. 

Penyebab utama resistensi ini adalah penggunaan antibiotik yang berlebihan atau tidak tepat. Ketika seseorang menggunakan antibiotik tanpa resep yang tepat, atau ketika antibiotik digunakan untuk mengobati penyakit yang sebenarnya tidak memerlukannya, seperti infeksi virus, maka bakteri menjadi terbiasa dengan obat tersebut.

Menurut Dr.dr. Hari Paraton Resistensi terjadi ketika seseorang menggunakan antibiotik dengan tidak rasional sehingga memperbanyak jumlah bakteri jahat dan menekan jumlah bakteri baik. Penyebab lain dari resistensi antibiotik yaitu penggunaan antibiotik tanpa indikasi dan penggunaan di bawah dosis yang dianjurkan.

Salah satu masalah yang paling mencolok di masyarakat adalah kebiasaan membeli antibiotik tanpa resep dokter. Banyak orang yang menganggap antibiotik sebagai solusi segala penyakit, termasuk flu dan pilek yang sebenarnya disebabkan oleh virus. Hal ini tidak hanya mempercepat proses resistensi, tetapi juga memperburuk kondisi kesehatan secara keseluruhan. Bakteri yang seharusnya mati justru menjadi semakin kuat, dan infeksi yang dihasilkan menjadi lebih sulit diobati.

Di sektor pertanian, penggunaan antibiotik secara besar-besaran untuk hewan ternak juga berkontribusi terhadap meningkatnya resistensi. Antibiotik sering digunakan pada hewan bukan hanya untuk mengobati penyakit, tetapi juga untuk mempercepat pertumbuhan. Hal ini menyebabkan penyebaran bakteri resisten di lingkungan, yang pada akhirnya bisa berpindah ke manusia melalui rantai makanan.

Selain itu, kurangnya kesadaran akan pentingnya menyelesaikan seluruh dosis antibiotik yang diberikan oleh dokter juga menjadi masalah. Banyak pasien yang berhenti mengonsumsi antibiotik begitu mereka merasa lebih baik, padahal bakteri yang tersisa bisa kembali berkembang biak dan menjadi kebal terhadap obat tersebut. Ini merupakan salah satu alasan utama mengapa infeksi yang awalnya ringan bisa berkembang menjadi penyakit yang sulit disembuhkan.

Penggunaan antibiotik yang berlebihan di rumah sakit juga menjadi perhatian utama. Dalam lingkungan rumah sakit, di mana pasien seringkali memiliki sistem imun yang lemah, penyebaran bakteri resisten dapat berlangsung sangat cepat. Jika tidak diatasi dengan baik, situasi ini bisa mengakibatkan lonjakan infeksi nosokomial yang sulit dikendalikan.

World Health Organization (WHO) telah memperingatkan bahwa resistensi antibiotik adalah salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global. Jika tindakan drastis tidak segera diambil, dunia mungkin akan memasuki era pasca-antibiotik, di mana infeksi sederhana bisa kembali menjadi mematikan. Penelitian menunjukkan bahwa setiap tahun, lebih dari 700.000 orang meninggal akibat infeksi yang disebabkan oleh bakteri resisten.
Salah satu upaya penting dalam menanggulangi resistensi antibiotik adalah meningkatkan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya penggunaan antibiotik yang tepat. Program edukasi yang efektif dapat membantu mengubah pandangan masyarakat yang masih menganggap antibiotik sebagai obat ajaib. Dokter dan petugas kesehatan juga memiliki peran penting dalam mengingatkan pasien untuk tidak meminta antibiotik kecuali benar-benar diperlukan.

Di samping edukasi, regulasi ketat mengenai distribusi dan penggunaan antibiotik juga diperlukan. Pemerintah harus mengambil langkah tegas untuk mengatur penjualan antibiotik di apotek, memastikan bahwa antibiotik hanya bisa didapatkan dengan resep yang sah. Hal ini penting untuk mengurangi pembelian antibiotik tanpa pengawasan medis.

Penelitian lebih lanjut untuk menemukan antibiotik baru juga sangat diperlukan. Saat ini, perkembangan antibiotik baru berjalan sangat lambat, sementara resistensi terhadap antibiotik yang ada semakin meningkat. Dunia medis perlu berinovasi untuk mengatasi masalah ini, baik dengan menemukan antibiotik yang lebih efektif maupun dengan mengembangkan terapi alternatif, seperti penggunaan bacteriophage atau terapi imun.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved