Abrasi Krueng Seumanyam Mengganas
Abrasi atau pengikisan di Krueng Seumanyam, Kecamatan Babahrot, tepatnya di perbatasan antara Kabupaten Aceh
* Jarak Sungai dengan Abutmen Tersisa 10 Meter
BLANGPIDIE – Abrasi atau pengikisan di Krueng Seumanyam, Kecamatan Babahrot, tepatnya di perbatasan antara Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dan Kabupaten Nagan Raya, dilaporkan makin mengganas sejak Sabtu (18/10) lalu.
Akibat abrasi tersebut, ratusan meter tebing sungai kini telah amblas, dan mengancam puluhan rumah warga di Desa Gunung Samarinda, lahan perkebunan, bahkan kepala jembatan (abutmen) Krueng Seumanyam, juga terancam putus. Padahal, jembatan tersebut merupakan satu-satunya sarana perhubungan darat antara wilayah barat selatan Aceh dengan Sumatera Utara (Sumut).
Keuchik Gampong Gunung Samarinda, M Akhir, kemarin menjelaskan, abrasi semakin parah setelah meluapnya Krueng Seumanyam, Sabtu (18/10) malam lalu. Lokasi terparah terjadi di dua lokasi yakni di sebelah atas jembatan. “Jika abrasi di lokasi ini tak segera ditangani, air sungai akan masuk ke permukiman penduduk melalui alue matee (bekas sungai). Sehingga akan menenggelamkan Dusun Serba Jadi dan Dusun Alue Jambee,” kata M Akhir.
Sementara, lokasi lainnya yang juga terancam yaitu, sekitar 500 meter arah bawah jembatan. Aliran sungai akan berpindah ke permukiman warga Dusun Karya Baru, serta kebun sawit milik warga dikhawatirkan akan berubah menjadi sungai. “Bahkan, kondisi kepala jembatan di jalan nasional itu kini terancam putus,” ujarnya.
Ia mengaku sudah melaporkan hal ini kepada Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK). Bupati Abdya, Jufri Hasanuddin, juga sudah turun ke lokasi bersama pejabat terkait, tapi hingga saat ini belum ada tindak lanjutnya, sementara kondisinya semakin mengkhawatirkan.
Plt Kepala BPBK Abdya, Empi Syafril, sebelumnya telah menginformasikan kepada Keuchik Gampong Gunung Samarinda, M Akhir, bahwa Pemkab Abdya hanya bisa mengusulkan pembangunan pengaman tebing sungai tersebut ke Pemerintah Provinsi Aceh.
“Pemkab Abdya sudah mengusulkannya ke Pemerintah Aceh karena pembangunannya menyerap anggaran lumayan besar, sehingga tak bisa ditangani dengan dana APBK Abdya,” kata Empi kepada Keuchik M Akhir.(nun)
Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |