Jejak Syafridawati di Malaysia Masih Kabur
Jejak keberadaan Syafridawati di Malaysia masih belum jelas. Pertemuan tim investigasi dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA)
BANDA ACEH - Jejak keberadaan Syafridawati di Malaysia masih belum jelas. Pertemuan tim investigasi dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) dengan Mutia (agen yang membawa Syafridawati), pada Sabtu (18/1/2020) kemarin belum menemukan titik terang tentang keberadaan gadis asal Gampong Krueng Lingka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, ini.
Tim investigasi YARA telah berada di Kuala Lumpur, Malaysia, sejak Jumat (17/1/2020). Begitu tiba, tim langsung melakukan pertemuan dengan Mutia di Hotel Regency, kawasan Chowkit, Kuala Lumpur. Dalam pertemuan itu, tim YARA turut didampingi oleh Bukhari, salah satu tokoh Aceh di Malaysia.
“Dalam pertemuan itu, Mutia didampingi Darniati atau lebih di kenal dengan panggilan Kak Cut,” kata Ketua YARA, Safaruddin SH, melalui pesan WhatsApp kepada Serambi, Sabtu (18/1/2020). Belakangan diketahui, Darniati adalah temannya Mutia.
Menurut Safaruddin, Mutia dan Darniati adalah agen yang sering mencarikan pekerjaan kepada orang-orang yang baru tiba di Malaysia. Kepada keduanya, YARA menyampaikan bahwa permasalahan Syafridawati sudah dilaporkan ke Polda Aceh dan meminta kepada Mutia selaku orang yang membawanya ke Malaysia untuk mencari keberadaan Syafridawati.
"Kami informasikan kepada Kak Cut dan Kak Mutia bahwa permasalaham ini sudah dilaporkan ke Polda Aceh. Oleh karena ini kami minta agar permasalahan ini cepat selesai, untuk segera menemukan keberadaan Syafridawati,” ujar Safaruddin.
Dalam pertemuan itu, YARA antara lain mempertanyakan kepada Mutia dan Darniati di mana alamat tempat Syafridawati pertama sekali dipekerjakan, dan menanyakan nomor kontak majikan Syafridawati yang pertama. Hal ini agar memudahkan pencarian keberadaan Syafridawati.
"Tolong bantu kami, berikan alamat dan nomor kontak majikan tempat Syafridawati yang kalian antar saat itu, supaya kami mudah melalukan pencariannya,” kata Bukhari tokoh Aceh di Malaysia yang mendampingi YARA.
Sementara Darniati mengatakan, pihaknya selama ini juga sudah melakukan upaya pencarian, namun tak mengetahui keberadaan Syafridawati.
"Tapi sampai saat ini belum mendapatkan informasinya. Kalau alamat tempat dia pertama bekerja kami tidak tahu, karena kami antarkan dia bertemu dengan majikannya di halte kawasan Chowkit, dan nomor teleponnya saya tidak punya lagi," jawab Darniati.
Mutia sendiri tidak banyak berkomentar karena dirinya mengaku hanya membawa Syafridawati ke Malaysia dan selanjutnya di Malaysia diserahkan ke Darniati. Pertemuan tersebut berlangsung selama satu jam lebih, hadir juga Fakhrutrazi (Sekretaris YARA), Muzakir (Kordinator Paralegal) dan M Dahlan (Humas YARA).
Seperti telah diberitakan, hilangnya Syafridawati juga membuat heboh masyarakat Aceh di Malaysia. Kehebohan itu malah telah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir. Bukhari bersama beberapa tokoh Aceh lainnya bahkan telah membawa Mutia ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Malaysia. Di KBRI, Mutia telah mengaku bahwa dirinya yang membujuk dan membawa Syafridawati ke Malaysia pada 2015 silam.
Dalam penjelasannya kepada petugas KBRI, Mutia mengaku mengantar Syafridawati ke majikannya di pinggir jalan, tepatnya di salah satu halte. Mutia mengaku menyerahkan Syafridawati ke majikan lalu mereka pergi. Sejak saat itu, Mutia tak lagi mengetahui kemana Syafridawati.
"Penjelasan pertama saat di KBRI, katanya Mutia mengantar Syafridawati menggunakan taksi. Lalu mereka turun di pinggir jalan, kemudian menuju sebuah halte. Di situlah Syafridawati diserahkan ke seorang majikannya. Mutia mengaku tak mengetahui di mana alamat majikan tersebut," kata Bukhari.
Setelah penjelasan pertama di KBRI, beberapa waktu setelahnya Bukhari kembali menemui Mutia untuk mengklarifikasi ulang ke mana dan kepada siapa dia menyerahkan Syafridawati. Saat itu Bukhari datang bersama delapan warga Aceh lainnya ke kediaman Mutia di Malaysia. Saat ditanyai, jawaban Mutia ternyata sudah berbeda dengan apa yang dijelaskannya di KBRI.
"Saat kami datang ke rumahnya, dia bilang jalan kaki saat mengantar Syafridawati ke sebuah halte, sedangkan saat di KBRI dia bilang naik taksi. Ini dua penjelasan menurut saya yang bertolak belakang. Sangat aneh, tapi kita kan tidak bisa berbuat apa-apa juga, hanya bisa mendengar penjelasan dan mengumpulkan informasi," kata Bukhari.(dan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/gadis-aceh-hilang-6868.jpg)