Balai Pustaka
103 Tahun Balai Pustaka, Karyawan Wajib Membaca 15 Menit Sebelum Kerja
Dirut PT Balai Pustaka, perusahaan penerbitan tertua di Indonesia, Achmad Fachrodji mewajibkan karyawannya membaca 15 menit sebelum mulai bekerja...
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Dirut PT Balai Pustaka, perusahaan penerbitan tertua di Indonesia, Achmad Fachrodji mewajibkan karyawannya membaca 15 menit sebelum mulai bekerja. Ini dimaksudkan untuk meningkatkan wawasan dan mencerdaskan karyawan.
Perintah wajib baca sebelum bekerja itu disampaikan Achmad Fachrodji dalam peringatan 103 Tahun Balai Pustaka di Kantor Balai Pustaka, Jalan Bunga, Matraman, Jakarta, Selasa (22/9/2020) di Jakarta.
“Wajib baca itu nanti merupakan akan dinilai sebagai bagian dari kinerja,” kata Achmad Fachrodji.
HUT Balai Pustaka dirayakan dengan sederhana dan terbatas hanya dihadiri sebagian karyawan. Selebihnya disaksikan melalui fasilitas jaringan media sosial.
Komisaris Utama Balai Pustaka, Hamid Basyaib menyampaikan sambutannya secara virtual. Ia mendorong Balai Pustaka tetap berkiprah dalam perjalanan sejarah bangsa sebagaimana dulu pernah dimainkan Balai Pustaka.
Meski ia menyadari tantangannya tidak ringan. Tapi harus dijawab dengan kerja keras dan kesungguhan. “Covid-19 ini tantangan sekaligus peluang. Sebab ternyata secara global penjualan buku secara global meningkat. Ini artinya peminat buku semakin banyak,” kata Hamid.
• Satu Peserta Seleksi CPNS asal Bener Meriah Meninggal Dunia
• Ulama Minta Eksekutif dan Legislatif ‘Mundur Selangkah’
• Hasil Swab Nakes belum Keluar, Puskesmas Kuta Cot Glie Masih Ditutup, Ini Kata Wakil Jubir Covid-19
Ia mengharapkan semua pihak memberi perhatian dan memberi bantuan kepada Balai Pustaka. “Balai Pustaka adalah monumen budaya dan diharapkan ke depan makin banyak pihak peduli dengan Balai Pustaka,” ujarnya.
Persayaan 103 Tahun Balai Pustaka diisi dengan potong tumpeng oleh Dirut Achmad Fachrodji serta pembacaan puisi. Semula diagendakan beberapa kegiatan mengiringi HUT Balai Pustaka, tapi urung dilaksanakan, karena pandemi Covid-19 dan Pemerintah DKI Jakarta memberlakukan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB.
Balai Pustaka merupakan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang penerbitan.
Balai Pustaka diawali dengan pembentukan Commissie voor Inlandsche Scool en volklechtuur pada 14 September 1908. Baru pada 22 September 1917 didirikan Balai Pustaka sebagai lanjutan Commissie voor Inlandsche Scool en volklechtuur.
Pada masa tersebut buku yang diterbitkan dalam bahasa Melayu dan berbagai bahasa daerah lain, seperti Jawa, Sunda, Madura, Batak, Aceh, Bugis, dan Makassar.
Balai Pustaka dimanfaatkan oleh para sasterawan dan tokoh pergerakan seperti Abdul Moeis untuk membangkitkan kesadaran kebangsaan hingga lahir sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928.
Beberapa sasterawan lain juga aktif membagikan pemikiran kebangsaan lewat Balai Pustaka. Mereka antara lain Marah Rusli, Muhammad Yamin, Idrus, Hamka, hingga Sutan Takdir Alisyahbana (STA).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dirut-pt-balai-pustaka-achmad-fachrodji-6.jpg)