Perang Gaza

Erdogan: Kelaparan di Gaza Lebih Buruk dari Kamp Nazi

Negara teroris Israel telah melakukan genosida terhadap saudara-saudara kami di Gaza, membantai mereka secara brutal selama 22 bulan di wilayah

Editor: Ansari Hasyim
Anadolu
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengutuk apa yang disebutnya sebagai kejahatan perang Israel dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Pernyataan itu disampaikan Erdogan dalam pidatonya di KTT Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) di ibu kota Qatar, Doha, Selasa (5/12/2023). 

SERAMBINEWS.COM - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa menyoroti kelaparan di Gaza yang diblokade, yang telah menjadi sasaran serangan gencar Israel selama 22 bulan. 

Ia mengatakan bahwa Gaza menunjukkan pemandangan yang "lebih buruk daripada kamp Nazi" dengan orang-orang yang kelaparan dan kekurangan air di depan mata dunia, Anadolu melaporkan.

"Negara teroris Israel telah melakukan genosida terhadap saudara-saudara kami di Gaza, membantai mereka secara brutal selama 22 bulan di wilayah seluas 360 km⊃2;," kata Erdogan dalam konferensi pers bersama mitranya dari Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, di Ankara.

“Penggunaan kelaparan oleh Israel sebagai senjata terhadap warga Palestina adalah indikasi paling jelas bahwa mereka tidak memiliki kemanusiaan,” tambahnya.

Mengenai hubungan antara Turki dan Kazakhstan, Erdogan mengatakan bahwa proyek-proyek yang akan membawa kerja sama industri militer dan pertahanan Turki-Kazakhstan ke tingkat berikutnya telah dibahas dengan Tokayev selama pertemuan mereka.

"Dalam deklarasi bersama dengan Presiden Tokayev, kami menggarisbawahi penghormatan terhadap hak-hak yang setara dan hakiki warga Siprus Turki," tambah Erdogan.

Prancis, Inggris, dan Kini Malta Nyatakan akan Akui Negara Palestina dalam Sidang PBB September

Malta akan mengakui negara Palestina pada Sidang Umum PBB September, Perdana Menteri negara itu Robert Abela mengumumkan, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency, Rabu.

"Posisi negara kami mencerminkan komitmen kami untuk menemukan solusi demi perdamaian abadi di Timur Tengah," ujar Abela dalam unggahan Facebook pada Selasa malam.

Pengumuman Abela muncul hanya beberapa jam setelah deklarasi serupa oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan beberapa hari setelah Prancis mengungkapkan rencananya sendiri untuk pengakuan.

Abela awalnya mengumumkan rencana untuk mengakui negara Palestina pada bulan Mei, dengan menyatakan bahwa hal itu akan terjadi selama konferensi PBB tentang Palestina pada bulan Juni; namun, konferensi tersebut kemudian ditunda.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved