Rabu, 22 April 2026

Harga Emas

Harga Emas Dunia Turun 7 Persen dalam Sepekan, Tertekan Lonjakan Energi dan Suku Bunga

Dari sisi kebijakan moneter, bank sentral AS mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan ini.

Editor: Faisal Zamzami
(Thinkstock)
Ilustrasi emas batangan 

Ringkasan Berita:
  • Harga emas dunia mengalami penurunan tajam sepanjang pekan ini dan berpotensi mencatat kinerja mingguan terburuk dalam enam tahun terakhir.
  • Tekanan terhadap logam mulia dipicu oleh lonjakan harga energi serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga global.
  • Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (20/3/2026), harga emas berada di kisaran 4.685 dollar AS per ons, turun hampir 7 persen dalam sepekan.

 

SERAMBINEWS.COM – Harga emas dunia mengalami penurunan tajam sepanjang pekan ini dan berpotensi mencatat kinerja mingguan terburuk dalam enam tahun terakhir.

Tekanan terhadap logam mulia dipicu oleh lonjakan harga energi serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga global.

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (20/3/2026), harga emas berada di kisaran 4.685 dollar AS per ons, turun hampir 7 persen dalam sepekan.

Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak Maret 2020.

Kenaikan harga energi, termasuk minyak mentah dan gas alam, yang dipicu konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran inflasi global.

Kondisi tersebut membuat peluang bank sentral, khususnya Amerika Serikat, untuk memangkas suku bunga menjadi semakin kecil.

Situasi ini berdampak negatif bagi emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasuries) dan penguatan dollar AS turut menekan harga emas.

Baca juga: Harga Emas Jelang Idul Fitri di Lhokseumawe, Segini Harga Emas Per Mayam Hari Ini

Secara historis, emas dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Namun, sejak meningkatnya ketegangan geopolitik dalam beberapa waktu terakhir, harga emas justru mengalami pelemahan berkelanjutan.

Tekanan juga datang dari aksi jual investor yang menggunakan emas untuk menutup kerugian di aset lain.

Di sisi lain, arus dana keluar dari exchange-traded fund (ETF) berbasis emas terus berlanjut, menghapus seluruh akumulasi sejak awal tahun.

Mantan trader logam mulia JPMorgan, Robert Gottlieb, mengingatkan bahwa volatilitas pasar masih tinggi. Ia menyarankan investor untuk tidak terburu-buru membeli saat harga turun.

“Volatilitas masih terlalu tinggi. Tekanan jual berpotensi berlanjut hingga harga mulai stabil,” ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved