Selasa, 28 April 2026

Harga Plastik Terus Naik, Diperkirakan Bertahan hingga Satu Tahun

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut memperburuk kondisi karena meningkatkan biaya impor bahan baku.

Editor: Faisal Zamzami
Kompas.com
Harga plastik di pasar tradisional terus melonjak setiap harinya. Senin, (6/4/2026). 

 

Ringkasan Berita:
  • Kenaikan harga plastik yang mulai terasa sejak awal Ramadan 2026 masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.
  • Bahkan, kondisi ini diprediksi akan berlangsung cukup lama, bisa mencapai beberapa bulan hingga satu tahun ke depan.
  • Lonjakan harga tersebut dipicu oleh berbagai faktor global, mulai dari terganggunya rantai pasok, konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor.

 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Kenaikan harga plastik yang mulai terasa sejak awal Ramadan 2026 masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Bahkan, kondisi ini diprediksi akan berlangsung cukup lama, bisa mencapai beberapa bulan hingga satu tahun ke depan.

Lonjakan harga tersebut dipicu oleh berbagai faktor global, mulai dari terganggunya rantai pasok, konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor.

Situasi ini mulai memberi tekanan besar, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta berpotensi mendorong kenaikan harga barang konsumsi.

Sejumlah pedagang mengaku harga plastik sudah meningkat sejak awal Ramadan dan terus merangkak naik setiap hari.

Salah satu pedagang di Jakarta Utara menyebut kenaikan terjadi setelah periode awal puasa, dan hingga kini belum ada tanda penurunan.

Ia mengaitkan kondisi ini dengan belum normalnya distribusi minyak dunia, yang menjadi bahan dasar plastik.

Para ahli menilai kondisi ini bukan sekadar kenaikan sementara.

Gangguan produksi dan distribusi akibat konflik global, terutama di kawasan penghasil minyak, membuat pasokan bahan baku seperti nafta ikut terdampak.

Akibatnya, harga plastik ikut terdorong naik secara signifikan.

Data menunjukkan harga nafta global meningkat hingga 40–45 persen dalam waktu singkat, yang kemudian mendorong harga plastik kemasan naik sekitar 30–50 persen, khususnya di sektor makanan dan minuman.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut memperburuk kondisi karena meningkatkan biaya impor bahan baku.

Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik yang mencapai 50–60 persen juga menjadi faktor utama yang membuat harga domestik sangat rentan terhadap gejolak global.

Struktur industri yang belum kuat menyebabkan setiap guncangan eksternal langsung berdampak ke dalam negeri.

Baca juga: Harga Plastik Sudah Naik 50 Persen, Sejumlah Kafe Tambah Biaya Kemasan Rp 2.000 ke Konsumen

UMKM menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Dengan margin keuntungan yang tipis, banyak pelaku usaha memilih menanggung kenaikan biaya kemasan tanpa menaikkan harga jual. Hal ini berisiko menurunkan keuntungan bahkan mengancam kelangsungan usaha mereka.

Dampaknya tidak berhenti di situ. Kenaikan harga plastik mulai merambat ke harga produk lain seperti kosmetik dan barang konsumsi, dengan kenaikan sekitar 10–15 persen.

Tekanan ini juga berpotensi meningkatkan inflasi secara bertahap.

Di sisi kebijakan, pemerintah dinilai masih fokus pada langkah jangka pendek seperti mencari alternatif sumber impor.

 Namun, solusi jangka panjang seperti penguatan industri petrokimia dalam negeri dan pengurangan ketergantungan impor dinilai belum maksimal.

Di tengah kondisi ini, muncul peluang untuk mendorong penggunaan bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Meski demikian, peralihan tersebut masih menghadapi kendala dari sisi biaya dan teknologi, sehingga membutuhkan dukungan kebijakan dan insentif.

Kenaikan harga plastik juga menjadi pengingat akan pentingnya pengurangan penggunaan plastik.

Selain sulit terurai, limbah plastik berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan, termasuk risiko mikroplastik yang masuk ke rantai makanan manusia.

Sebagai alternatif, masyarakat dapat mulai beralih ke penggunaan tas kain, wadah berbahan stainless steel, tumbler, serta sedotan dari bahan ramah lingkungan seperti bambu.

Kondisi ini dinilai bisa menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan pada plastik sekaligus mendorong inovasi produk dalam negeri yang lebih berkelanjutan.

Baca juga: Pejabat Disdik Aceh dan Aceh Utara Gunakan Dana Pribadi Bersihkan Lahan Praktik Siswa SMKN 1 Sawang

Baca juga: VIDEO Satelit Mata-mata Rusia Bidik Pangkalan & Kendali Minyak AS

Sudah tayang di Kompas.com
 
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved