Citizen Reporter
Obat-Obatan Masa Depan, dari Molekul Kimia Menjadi Harapan Baru bagi Pasien
Di dunia farmasi, perjalanan sebuah obat dari konsep di laboratorium hingga tersedia di apotek adalah sebuah proses panjang, mahal,
MOHAMMAD ADZANNIE BESSANIA RAVIQ, Master Student of Biology, Deparment Microbiology, Faculty of Biology, Institute of Fundamental Medicine and Biology, Kazan Federal University, melaporkan dari Kazan, Federasi Rusia
Di dunia farmasi, perjalanan sebuah obat dari konsep di laboratorium hingga tersedia di apotek adalah sebuah proses panjang, mahal, dan penuh tantangan. Di sinilah Pusat Ilmiah dan Pendidikan Farmasi (SEC Pharmaceutics) Kazan Federal University (KFU) mengambil peran sentral.
Didirikan pada tahun 2011 di bawah program strategis federal, pusat ini bukan sekadar laboratorium riset, melainkan sebuah ekosistem inovasi terpadu yang dirancang untuk mengawal kelahiran obat-obatan masa depan. Dengan lebih dari 90 spesialis di bidang kimia, biologi, dan kedokteran, SEC Pharmaceutics menjadi mesin penggerak yang mengubah molekul kimia menjadi harapan baru bagi pasien.
Perjalanan setiap kandidat obat di sini mengikuti sebuah alur yang sistematis dan ketat, terdiri atas empat departemen utama. Semuanya bermula di Departemen Kimia Medis, tempat para "arsitek molekuler" melakukan sintesis zat farmasi.
Senyawa-senyawa baru
Dengan peralatan modern, mereka merancang dan menciptakan senyawa-senyawa baru yang berpotensi menjadi obat. Setelah sebuah molekul lahir, ia akan memasuki ujian pertamanya di Departemen Riset Eksplorasi. Di sini, penapisan (screening) aktivitas spesifiknya dilakukan secara ‘in vitro’, menguji potensi sitotoksisitas dan efektivitasnya pada level seluler untuk menemukan kandidat yang paling menjanjikan.
Kandidat yang lolos seleksi kemudian memasuki tahap paling krusial di Departemen Penelitian Praklinis KFU.
Di dalam fasilitas canggih dengan ruang bersih berstandar internasional (GMP) dan laboratorium mikrobiologi, serangkaian studi keamanan dan efikasi dilakukan secara ‘in vivo’ sesuai dengan standar Good Laboratory Practice (GLP).
Studi toksisitas (akut, subkronis, dan kronis), imunotoksisitas, hingga farmakokinetik dan bioavailabilitas menggunakan teknologi canggih seperti LC/MS/MS dilakukan pada hewan berstatus Specific Pathogen-Free (SPF).
Tahap ini memastikan bahwa kandidat obat tidak hanya manjur, tetapi juga aman, sebelum akhirnya didampingi oleh Departemen Farmakologi Klinik dan Pengendalian Mutu untuk memasuki fase uji klinis pada manusia sesuai standar Good Clinical Practice (GCP).
Portofolio inovatif
Hasil dari alur kerja yang komprehensif ini adalah sebuah portofolio inovatif yang mengesankan, siap menjawab tantangan kesehatan global.
Salah satu bintangnya adalah KFU-01, sebuah obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dengan efek sinergis unik yang berhasil meraih Medali Emas di Geneva Salon of Inventions.
Di garda depan perang melawan kanker, hadir KFU-02, sebuah inhibitor transporter ABC inovatif yang bekerja sebagai "pembantu" untuk meningkatkan efektivitas obat kemoterapi yang sudah ada.
Menjawab krisis resistensi antimikroba, pusat ini menghasilkan serangkaian kandidat poten seperti KFU-03 (antibakteri), KFU-04 (antijamur), dan KFU-05 (antiseptik), yang terakhir bahkan memiliki kemampuan unik untuk menekan potensi patogen mengembangkan resistensi.
Citizen Reporter
Penulis Citizen Reporter
Mohammad Adzannie Bessania Raviq
Obat-Obatan Masa Depan dari Molekul Kimia
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Dari Sopir Truk Menjadi Pengusaha: Raja Khatami Berbagi Waktu untuk Bisnis Sambil Kuliah di UNIKI |
|
|---|
| Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan |
|
|---|
| Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura |
|
|---|
| Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh? |
|
|---|
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MOHAMMAD-ADZANNIE-BESSANIA-RAVIQ-BARU.jpg)