Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Angkat Isu Genosida, Mahasiswi KPI UIN Ar-Raniry Kaji Dinamika Boikot Produk Pro-Israel di Medsos

Isu boikot produk yang terafiliasi dengan Israel terus menguat di Indonesia seiring berlanjutnya agresi militer Israel terhadap Palestina

Tayang:
Editor: Amirullah
for serambinews
Alya Nazhyfa (tengah) berfoto bersama tim penguji usai mengikuti sidang munaqasyah di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Selasa (3/2/2026). Alya mempertahankan penelitian bertema aktivisme digital dan dinamika boikot produk pro-Israel di media sosial Instagram yang telah terbit pada jurnal Da’watuna terindeks Sinta 5. 

Laporan: Mallikatul Hanin

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Isu boikot produk yang terafiliasi dengan Israel terus menguat di Indonesia seiring berlanjutnya agresi militer Israel terhadap Palestina yang mengarah pada genosida (pembantaian etnis).

Fenomena solidaritas kemanusiaan tersebut tidak hanya hadir dalam aksi lapangan, tetapi juga berkembang pesat di ruang digital, khususnya media sosial.

Fenomena di atas mendorong Alya Nazhyfa, mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, untuk melakukan penelitian tentang dinamika boikot produk Israel di akun media sosial, terkhusus di Instagram.

Melalui penelitian dan karya tulis berjudul “Dinamika Boikot Produk Pro-Israel pada Akun Instagram @gerakanbds”, Alya meneliti bagaimana media sosial berfungsi sebagai ruang aktivisme digital dalam membangun kesadaran publik terhadap isu Palestina.

Hasil penelitian tersebut ditayangkan di jurnal Da’watuna terindeks Sinta 5. Alya memilih laporan penelitian berbasis jurnal agar terpublikasi dengan baik dan menjadi referensi nasional.

Karya tulis Alya diajukan dalam ujian munaqasyah yang berlangsung pada Selasa, 3 Februari 2026, di lingkungan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry.

Sidang munaqasyah dipimpin oleh Hasan Basri M. Nur PhD, Dr Fitri Meliya Sari, Dr Ade Irma dan Dr Azman. Alya mampu mempertahankan hasil penelitiannya dengan sangat memuaskan.

Penelitian ini berangkat dari meningkatnya seruan boikot terhadap sejumlah merek global yang dinilai memiliki afiliasi atau dukungan terhadap Israel.

Di Indonesia, gerakan boikot mendapat respons luas, terutama di kalangan generasi muda. Salah satu medium utama penyebaran pesan boikot tersebut adalah akun Instagram @gerakanbds, yang secara konsisten mengunggah konten edukatif, infografik, dan ajakan solidaritas kemanusiaan.

Baca juga: Kunjungan Turis Asing ke Aceh Tahun 2025 Berjumlah 46.325 Orang, Ini Negara Asal Mereka

Media Sosial sebagai Ruang Aktivisme Digital

Dalam kajiannya, Alya menegaskan bahwa Instagram tidak lagi sekadar menjadi media berbagi foto dan video, melainkan telah berkembang menjadi ruang komunikasi ideologis dan perlawanan simbolik. 

Konten-konten yang disebarkan akun @gerakanbds mengaitkan konsumsi produk sehari-hari dengan realitas penderitaan rakyat Palestina, sehingga mendorong audiens untuk mengambil sikap moral melalui aksi boikot.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesan boikot dikemas secara persuasif dan emosional. Unggahan yang memuat data korban sipil, kehancuran infrastruktur Gaza, serta narasi ketidakadilan global terbukti mampu meningkatkan keterlibatan audiens, baik melalui komentar dukungan, tanda suka, maupun penyebaran ulang konten.

Boikot dalam konteks ini tidak semata dipahami sebagai tindakan ekonomi, tetapi sebagai ekspresi keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Media sosial menjadi jembatan antara isu global dan tindakan personal masyarakat.

Konteks Palestina–Israel dan Respons Publik Indonesia

Isu Palestina–Israel yang kembali memanas dalam beberapa tahun terakhir menjadi latar kuat penelitian ini. Indonesia, sebagai negara yang secara historis mendukung kemerdekaan Palestina, menunjukkan respons publik yang signifikan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved