Citizen Reporter
Cina, Negeri yang Petaninya Tak Dibiarkan Berjuang Sendiri
Di tengah berbagai tantangan pertanian global seperti perubahan iklim, alih fungsi lahan, menurunnya minat generasi muda
RIVAN RINALDI, S.Pd., M.Sc., Founder dan Executive Director Rumoh Pangan Aceh, melaporkan dari Shanghai, Cina
Di tengah berbagai tantangan pertanian global seperti perubahan iklim, alih fungsi lahan, menurunnya minat generasi muda menjadi petani, dan meningkatnya ketergantungan terhadap pangan impor, Cina menunjukkan pendekatan menarik dalam membangun sistem pertanian yang kuat, modern, dan berkelanjutan.
Negara ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi pangan, tetapi juga menghubungkan petani, konsumen, pasar, teknologi, lingkungan, dan gaya hidup masyarakat.
Pembelajaran ini saya peroleh selama kunjungan delapan hari ke berbagai kawasan pertanian, ‘community farm’, perusahaan, pasar tani, dan pameran pertanian organik di Shanghai, Hangzhou, dan Jiangsu. Kunjungan ini difasilitasi oleh Aliansi Organis Indonesia (AOI), organisasi yang telah lebih dari dua dekade berperan dalam pengembangan pertanian organik di Indonesia.
Dari perjalanan ini, saya melihat bahwa keberhasilan pertanian Cina tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kolaborasi antara pemerintah, swasta, komunitas, dan masyarakat dalam mendukung petani.
Salah satu pendekatan yang berkembang pesat adalah Community Supported Agriculture (CSA) atau pertanian berbasis dukungan komunitas. Dalam sistem ini, konsumen membeli hasil pertanian langsung dari petani melalui mekanisme langganan atau keanggotaan. Mereka membayar di awal musim tanam dan secara rutin menerima paket sayur, buah, atau produk pertanian lainnya.
Bagi petani, sistem ini memberikan kepastian pasar dan pendapatan yang lebih stabil. Sementara bagi konsumen, mereka memperoleh produk yang lebih segar, sehat, dan mengetahui asal-usul pangan yang dikonsumsi.
Konsep CSA kami temukan di berbagai lokasi seperti Le Xian Gu Community Farm di Shanghai, Yuefeng Island Organic Farm di Hangzhou, dan BioFarm. Menariknya, BioFarm tidak hanya melayani rumah tangga, tetapi juga bermitra dengan lebih dari 2.000 hotel di Shanghai. Hotel-hotel tersebut membeli hasil pertanian langsung dari petani dan mengolahnya menjadi berbagai menu yang dipromosikan kepada pelanggan.
Beberapa hotel bahkan mengadakan kegiatan memasak bersama chef dan edukasi pangan sehat. Pertanian tidak lagi menjadi urusan petani semata, melainkan gerakan bersama yang melibatkan dunia usaha dan masyarakat.
Selain membangun hubungan antara petani dan konsumen, Pemerintah Cina juga aktif membantu pemasaran produk pertanian. Petani difasilitasi terhubung dengan supermarket, industri pengolahan pangan, hingga pasar ekspor. Salah satu contohnya adalah penyelenggaraan BIOFACH Shanghai yang mempertemukan petani, distributor, dan pembeli dari berbagai negara.
Di tingkat lokal, pemerintah daerah dan komunitas juga aktif menyelenggarakan pasar tani, festival pangan lokal, bazar produk organik, serta berbagai kegiatan yang mempertemukan petani dengan masyarakat. Pendekatan ini membantu meningkatkan nilai jual produk sekaligus memperkuat dukungan masyarakat terhadap pangan lokal.
Hal lain yang menarik adalah munculnya budaya masyarakat urban yang menjalani pola hidup lima hari bekerja di kota dan dua hari di desa. Banyak warga perkotaan menghabiskan akhir pekan dengan berkebun, mengunjungi farm organik, mengikuti program ‘farm stay’, atau menikmati suasana pedesaan yang lebih sehat. Desa tidak lagi dipandang sebagai wilayah tertinggal, tetapi sebagai ruang hidup yang menawarkan kualitas lingkungan dan peluang ekonomi baru.
Salah satu contohnya kami temukan di Qinbang Jipin di Jiangsu. Selain mengembangkan peternakan ayam petelur berbasis ‘cage free’, perusahaan ini menyediakan lahan bagi masyarakat kota yang ingin membangun rumah peristirahatan di kawasan pertanian. Konsep ini menciptakan hubungan yang lebih erat antara masyarakat perkotaan dan sektor pertanian sekaligus menjadi sumber pendapatan tambahan bagi pengelola ‘farm’.
Cina juga semakin serius mendorong pertanian regeneratif sebagai bagian dari strategi pertanian masa depan. Kesadaran terhadap dampak penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan membuat pemerintah mulai mengarahkan sistem pertanian menuju pendekatan yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan pupuk organik, integrasi tanaman dan peternakan, konservasi tanah, pengelolaan limbah, serta peningkatan biodiversitas menjadi bagian penting dari sistem yang dikembangkan.
Saat mengunjungi BioFarm, kami melihat bagaimana teknologi sederhana dapat menjadi solusi efektif dalam pengendalian hama. Mereka menggunakan ‘sticky trap’, ‘light trap’, dan ‘pheromone trap’ untuk mengendalikan populasi serangga tanpa bergantung pada pestisida sintetis. Teknologi ini relatif murah, mudah diterapkan, ramah lingkungan, serta mampu mengurangi biaya produksi dan menjaga kesehatan ekosistem pertanian.
Citizen Reporter
Penulis Citizen Reporter
Cina Negeri yang Petaninya Tak Dibiarkan Berjuang
RIVAN RINALDI
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Bertemu Nazhir Baitul Asyi Keturunan Aceh di Mekkah, Ayo Belajar Wakaf ke Saudi |
|
|---|
| Ketika Haji Menjadi Puncak Pengorbanan yang Sesungguhnya |
|
|---|
| Phuket Destinasi Wisata yang Memanjakan Lidah dan Mata |
|
|---|
| Aceh dalam Bayang Transformasi Asia: Catatan dari Beijing tentang Masa Depan SDM Indonesia |
|
|---|
| Dari Beijing untuk Aceh: Membangun Generasi Masa Depan melalui Perdamaian dan Penguatan SDM |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/RIVAN-RINALDI.jpg)