Senin, 27 April 2026

Kesehatan

Seksolog dr Boyke Ungkap Risiko Hamil di Atas 40 Tahun, Harus Siap

Dr Boyke Dian Nugraha, menjelaskan bahwa kehamilan pada usia tersebut memungkinkan, namun membutuhkan perhatian medis yang lebih intensif.

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Amirullah
YT Kacamata dr Boyke
Dokter spesialis kandungan dan seksolog, Dr Boyke Dian Nugraha, menjelaskan bahwa kehamilan pada usia 40 tahun memungkinkan, namun membutuhkan perhatian medis yang lebih intensif. 

SERAMBINEWS.COM -  Keinginan untuk memiliki anak di usia di atas 40 tahun kerap menimbulkan pertanyaan besar, terutama terkait faktor keamanan dan risiko kesehatan.

Dokter spesialis kandungan dan seksolog, Dr Boyke Dian Nugraha, menjelaskan bahwa kehamilan pada usia tersebut memungkinkan, namun membutuhkan perhatian medis yang lebih intensif.

Dalam sebuah unggahan TikTok di akun Klinik Pasutri, dr Boyke menekankan bahwa kehamilan di atas usia 40 tahun, khususnya untuk anak pertama, memiliki risiko yang perlu diwaspadai.

“Kalau untuk anak pertama, biasanya pemeriksaannya akan menjadi lebih banyak,” ujar Dr Boyke.

Ia menjelaskan, salah satu alasan utama adalah meningkatnya risiko terjadinya gangguan kromosom, termasuk sindrom Down (mongoloid) pada janin.

Oleh karena itu, calon ibu di usia 40 tahun ke atas dianjurkan menjalani pemeriksaan kehamilan yang lebih ketat dan menyeluruh.

Baca juga: 5 Makanan yang Disebut dr Boyke Bisa Meningkatkan Kesuburan Pria, Ada Kerang hingga Alpukat

“Yang kita takutkan adalah gangguan-gangguan kromosom,” tambahnya.

Sementara itu, menurut dr Boyke, risiko kehamilan pada usia di atas 40 tahun relatif lebih dapat ditoleransi apabila perempuan tersebut sudah pernah melahirkan sebelumnya.

“Kalau anak kedua, okelah,” katanya.

Meski demikian, dr Boyke tetap mengingatkan bahwa setiap kehamilan bersifat individual.

Faktor kondisi kesehatan ibu, riwayat medis, serta kesiapan fisik dan mental menjadi hal penting yang harus diperhatikan.

Ia pun menyarankan pasangan yang merencanakan kehamilan di usia matang untuk berkonsultasi secara rutin dengan dokter kandungan agar kehamilan dapat dipantau dengan aman dan optimal.

Baca juga: 5 Cara Lindungi Anak dari Pedofilia Lewat Edukasi Seksual, dr Boyke : Orang Tua Jangan Anggap Tabu

Ingin Hamil Anak Laki-laki atau Perempuan? Ini Penjelasan dr Boyke soal Peran Sperma & Waktu Ovulasi

Keinginan memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu masih sering menjadi pertanyaan banyak pasangan suami istri.

Tak sedikit yang bertanya, apakah secara alami seseorang bisa mengupayakan peluang memiliki anak laki-laki atau perempuan.

Dokter spesialis seksologi, dr Boyke Dian Nugraha, menjelaskan bahwa secara biologis, jenis kelamin anak ditentukan oleh sperma yang berhasil membuahi sel telur.

“Penentunya bukan dari pihak perempuan, tapi dari sperma laki-laki. Ada sperma X yang akan menghasilkan anak perempuan, dan sperma Y yang menghasilkan anak laki-laki,” jelas dr Boyke dikutip Serambinews.com, Selasa (6/1/2025) dari YouTube Kacamata dr Boyke.

Perbedaan Sperma X dan Sperma Y

Menurut dr Boyke, kedua jenis sperma ini memiliki karakter yang berbeda.

Sperma Y (laki-laki) berukuran lebih kecil, bergerak lebih cepat, dan menyukai suasana basa.

Baca juga: Sperma Bisa Berenang 3 Meter? Cek 10 Mitos Seks & Kehamilan yang Ternyata Salah! Ini Kata dr Boyke

Sementara sperma X (perempuan) bergerak lebih lambat, ukurannya lebih besar, dan lebih tahan pada suasana asam.

Perbedaan inilah yang kemudian menjadi dasar berbagai upaya alami untuk meningkatkan peluang mendapatkan jenis kelamin tertentu.

Upaya Alami Jika Ingin Anak Laki-laki

Jika pasangan menginginkan anak laki-laki, dr Boyke menyebut ada beberapa hal yang sering disarankan:

  • Pola makan ayah dan ibu

Selama sekitar tiga bulan, pihak ayah dianjurkan lebih banyak mengonsumsi daging-dagingan. Sementara ibu dianjurkan memperbanyak konsumsi sayuran.

  • Menjaga suasana vagina tetap basa

Sekitar 15 menit sebelum berhubungan intim, vagina dapat dibilas dengan larutan air dan sedikit baking soda untuk menciptakan kondisi yang lebih basa.

  • Waktu berhubungan intim

Hubungan seksual disarankan dilakukan tepat saat ovulasi, karena sperma Y yang lebih lincah berpeluang lebih cepat membuahi sel telur.

“Secara teori, peluangnya bisa mencapai 70 hingga 80 persen, tapi tetap tidak bisa dijamin 100 persen,” ujar dr Boyke.

Jika Menginginkan Anak Perempuan

Sebaliknya, bagi pasangan yang menginginkan anak perempuan, langkahnya dilakukan dengan pendekatan yang berlawanan:

  • Pola makan

Ayah dianjurkan lebih banyak mengonsumsi sayuran, sementara ibu dianjurkan lebih banyak mengonsumsi daging-dagingan selama tiga bulan.

  • Menciptakan suasana asam

Sebelum berhubungan intim, vagina dapat dibilas dengan air yang dicampur sedikit cuka dapur untuk membantu menciptakan suasana asam.

  • Waktu hubungan intim

Hubungan seksual dilakukan sekitar dua hari sebelum ovulasi, sehingga sperma Y yang lebih cepat cenderung mati lebih dulu dan sperma X yang lebih kuat bertahan hingga ovulasi terjadi.

Tetap Tak Bisa Memaksa Kehendak Tuhan

Meski berbagai cara alami tersebut sering dibahas, dr Boyke menegaskan bahwa semua itu hanyalah ikhtiar. Hasil akhirnya tetap berada di tangan Tuhan.

“Kalau sudah hamil, jangan lagi memaksa atau menyesali. Apapun jenis kelamin yang diberikan, itu yang terbaik,” kata dr Boyke.

Ia juga mengingatkan bahwa yang terpenting bukanlah jenis kelamin anak, melainkan tumbuh menjadi anak yang sehat, saleh atau salehah, serta membanggakan keluarga.

“Anak itu amanah. Mau laki-laki atau perempuan, yang penting bisa tumbuh baik dan menjadi kebahagiaan orang tuanya,” tutup dr Boyke.

(Serambinews.com/Firdha)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved