Rabu, 27 Mei 2026

Ramadhan 2026

Ramadhan 2026 Diperkirakan Mulai 18 Februari, Ini Manfaat Puasa bagi Kesehatan

Melansir kanal kesehatan NDTV, puasa diketahui memberikan sejumlah keuntungan bagi kesehatan.

Tayang:
Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM/AI
ILUSTRASI BERBUKA PUASA - Ibadah puasa Ramadhan tak hanya bernilai spiritual, tetapi juga memberi manfaat kesehatan, mulai dari menjaga pencernaan, menyeimbangkan bakteri usus, hingga membantu pengendalian nafsu makan. 

SERAMBINEWS.COM – Menjelang bulan suci, pertanyaan soal kapan umat Muslim mulai menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1447 Hijriah atau Ramadhan 2026 kembali ramai dibicarakan.

Penentuan awal puasa menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan persiapan ibadah dan aktivitas masyarakat.

Berdasarkan perhitungan hisab, 1 Ramadhan 1447 H diperkirakan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Mengutip Kompas.com, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan tanggal tersebut sebagai awal pelaksanaan puasa Ramadhan.

Meski demikian, kepastian resmi versi pemerintah masih menunggu hasil Sidang Isbat yang akan digelar Kementerian Agama (Kemenag).

Sidang ini biasanya dilaksanakan pada 29 Sya’ban dengan mempertimbangkan hasil pemantauan hilal di berbagai wilayah Indonesia.

Apabila hilal belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan, maka awal puasa berpotensi bergeser satu hari, yakni menjadi Kamis, 19 Februari 2026.

Karena itu, masyarakat masih menunggu pengumuman resmi dari pemerintah.

Sambil menanti kepastian tersebut, persiapan menyambut Ramadhan mulai dilakukan. Selain kesiapan ibadah, puasa juga menarik dilihat dari sisi manfaatnya bagi kesehatan tubuh.

Melansir kanal kesehatan NDTV, puasa diketahui memberikan sejumlah keuntungan bagi kesehatan.

Di antaranya membantu memicu pertumbuhan bakteri baik di dalam usus, merangsang pergerakan usus, serta mengurangi berbagai gangguan pencernaan.

Berikut ini penjelasan lengkapnya.

1. Memicu proses autofagi

Puasa mengaktifkan mekanisme autofagi, yaitu proses pembersihan sel-sel rusak dan sisa metabolisme di dalam tubuh.

Hal ini turut berkontribusi pada kesehatan usus dengan membuang sel-sel yang tidak berfungsi dan mendorong regenerasi jaringan.

2. Meningkatkan populasi bakteri baik

Berpuasa dapat mendorong pertumbuhan bakteri usus yang menguntungkan, misalnya Lactobacillus dan Bifidobacterium.

Bakteri ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan mikrobioma usus.

3. Memperkuat lapisan usus

Puasa merangsang produksi protein yang memperkuat sawar usus, sehingga mencegah masuknya zat-zat berbahaya ke dalam aliran darah.

Ini juga bisa menurunkan risiko terjadinya peningkatan permeabilitas atau kebocoran usus.

4. Merangsang gerakan usus

Pola puasa intermiten atau pembatasan waktu makan dapat memperbaiki motilitas usus, mendorong buang air besar yang teratur, mengurangi kemungkinan sembelit, dan pada 

akhirnya meningkatkan kesehatan pencernaan secara keseluruhan.

5. Meredakan gangguan pencernaan

Puasa diketahui dapat membantu meringankan keluhan pada penderita sindrom iritasi usus besar (IBS) atau pertumbuhan bakteri berlebihan di usus halus.

Ini kemungkinan berkat pengaruhnya terhadap keseimbangan bakteri usus dan peradangan.

6. Mengatur nafsu makan

Puasa membantu menyeimbangkan hormon pengatur rasa lapar, mengurangi kecenderungan makan berlebihan, serta mendukung pengendalian berat badan.

Hal ini berdampak positif bagi kesehatan usus dengan menurunkan risiko gangguan pencernaan yang terkait obesitas.

7. Meningkatkan penyerapan gizi

Dengan mengistirahatkan usus dari proses pencernaan yang terus-menerus, puasa justru dapat meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi.

Dampaknya, tubuh lebih optimal dalam mendapatkan vitamin dan mineral yang diperlukan untuk kesehatan usus.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved