Rabu, 8 April 2026

Aceh Sumbang Bibit cemara laut kepada warga kota Rikuzentakata, Jepang

Sakura Zohra Narukaya (66), warga Banda Aceh menyerahkan bibit cemara laut Aceh kepada Walikota Rikuzentakata, Kiyoshi Murakami

Editor: ampuh
zoom-inlihat foto Aceh Sumbang Bibit cemara laut kepada warga kota Rikuzentakata, Jepang
Dok/ SEICHI OKAWA
Sakura Zohra Narukaya (66), pemilik sebuah hotel di Banda Aceh, secara resmi menyerahkan tiga batang bibit cemara laut Aceh kepada wakil utusan Futoshi Toba, dan Walikota Rikuzentakata, Kiyoshi Murakami, berlangsung di Rikuzentakata, Jepang.
Laporan: Seiichi Okawa |Tokyo, Jepang

SERAMBINEWS.COM - Aceh, khusus kota Banda Aceh menjalin benang merah dengan Kota Rikuzentakata, Negeri Sakura. Hubungan antardua kota (Banda Aceh-Rikuzentakata) ditandai penyerahan bibit batang cemara laut oleh Bu Sakura (66 tahun), warga kota Banda Aceh kepada warga Kota Rikuzentakata, Prefektur Iwate, Jepang, Sabtu (30/06/2012).

Bibit cemara laut yang tumbuh di Banda Aceh, tanah bekas Tsunami,  bagi orang Jepang dianggap sebagai "warga" yang menjalin Banda Aceh.dengan Rikuzentakata. Dan Bu Sakura alias Sakura Zohra Narukaya (66), pemilik  sebuah hotel di Banda Aceh, secara resmi menyerahkan tiga batang bibit cemara laut Aceh kepada wakil utusan Futoshi Toba, dan Walikota Rikuzentakata, Kiyoshi Murakami, berlangsung di Rikuzentakata, Jepang.

Acara penyerahan dimediasi dimediasi  GBI (Graha Budaya Indonesia)-Tokyo itu, kata ketua GBI, Seiichi Okawa, kepada Serambinews.com, sebagai satu dari banyak  hikmah pasca smong (tsunami) yang melanda Aceh, 26 Desember 2004 lalu.

"Harapan saya semoga cemara laut asal Banda Aceh ini akan dijaga baik oleh pihak Pemkot Rikuzentakata, dan suatu hari di masa mendatang, ia dapat menyenangkan, menolong masyarakatnya" ujar Sakura, kepada Kiyoshi Murakami, "Goodwill Ambassador" kota Rikuzentakata, yg merangkap jabatan sebagai Ketua Umum Aid TAKATA(Association of Relief, Reconstruction, and Development for Rikuzentakata).

Menurut Seicchi Okawa yang pernah bebeberapa bulan tugas di Aceh, cemara laut Aceh menjadi simbol persabatan dua bangsa (Aceh-Jepang, red). Katanya,  musibah  tsunami itu bukan hilangnya anggota keluar dan menghancurkan fasilitas sebuah kota, tapi akhirnya mempertemukan masyarakat sesama penderita bencana alam yang  historis. Akhirnya membangun juga hubungan erat dengan masyarakat internasional.

Sebelum menyerahkan bibit cemara asal Aceh itu, Bu Sakura didampingi cucunya Diva Dirhamsyah, 16 tahun,  melakukan pertemuanm dengan aktivis GBI yang pejabat Pemkot Rikuzentakata, serta KBRI-Tokyo..

Dalam pertemuan itu, Bu Sakura menginformasikan kondisi terakhir di Aceh. "Di Banda Aceh, di pantai Ulee Lheu, ada juga sebatang pohon cemara laut yang terselamat dari serangan Tsunami, bahkan yang menyelematkan banyak nyawa manusia. Toh sebatang cemara yang terselamat di pantai Rikuzentakata konon dinyatakan telah mati. Betapa sedih mendengar berita itu. Kita terjalin melalui pengalaman Tsunami, juga melalui kedua pohon cemara yang ajaib itu. Semoga cemara yang saya bawa dari Aceh akan memperkuat hubungan kedua bangsa, khususnya diantara Kota Banda Aceh dengan Kota Rikuzentakata," papar Sakura Zohra Narukaya.

Sementara Diva, siswi SMA, memperkenalkan pengalaman pribadi tentang Tsunami 26 Desember. 2004 lalu. "Tiba-tiba dinding pagar mulai hancur dan terlihatlah air berwarna hitam. Saya terhantam air itu dan terbawa ke dalam rumah dari halaman belakang, lalu terbawa ke luar dari rumah. Tenggelam, lalu terapung, lalu tenggelam. Dan akhirnya saya mendapatkan tabung gas kecil sehingga dapat terapung. Dan saya akhirnya berhasil mendarat di dermaga Ulee Lheu. Adikku kandung yang berusia 4 tahun yang saya gendong hilang entah kemana.Saya sangat berharap kejadian bencana seperti itu tidak terjadi lagi, dan semua orang lebih waspada terhadap bencana-bencana alam sehingga ada persiapan jika terjadi bencana".

Acara sumbangan bibit cemara diliput sejumlah pers Jepang. Antara lain, koran Mainichi Shimbun, dan Tokyo Shimbun yang esokan harinya menurunkan berita yang cukup besar, disamping NHK Seksi Radio Japan mewawancarai Bu Sakura yang konon disiarkan Kamis mendatang.

Pemkot Rikuzentakata, menurut rencana, akan taruh pot bibit tersebut di ruang Futoshi Toba, Walikota Rikuzentakata, dan akan dijaga oleh Seksi Pertanian/Kehutanan. Dengan kata lain, bibit cemara laut dari Banda Aceh sesunnguh dianggap sebagai "Tamu VIP" dari Aceh. Sambil memonitor pertumbuhan bibitnya, Pemkot Rikuzentakata konon mentargetkan akan nenanamkan bibitnya di Memorial Park Bencana yang akan dibangung oleh Pemerintah Pusat di kota Rikuzentakata.
 
Cemara laut adalah pohon dari wilayah tropis atau sub-tropis. Maka ia tak tahan tumbuh jika suhu udaranya turun ke bawah lima derajat Celsius. Oleh karena itu pula, Pemkot Rikuzentakata merencanakan akan taruh bibitnya di dalam rumah kaca, sambil mencoba menanam benihnya.

Kini bibit cemara laut asal Banda Aceh telah menjadi "warga" Kota Rikuzentakata. Dan ialah akan menjalin, memperkuat hubungan kedua bangsa, khususnya diantara Banda Aceh dan Rikuzentakata. Di samping menyumbangkan bibit/benih cemara laut, Bu Sakura meluncurkan pula sebuah DVD dengan judul "Bergemalah irama Soshunfu, Sampailah semangat cemara. Pray for Japan from Aceh".

Soshunfu, nyanian lagu tersohor di Negeri Sakura. Lagu ini diciptakan kakek Sakura, yaitu Kazumasa Yoshimaru sekitar 99 tahun silam. Orang Jepang melantunkan Soshunfu bila musim semi akab tiba.
 
Soshunfu mengandung filosofi asal tidak menyelah, asal percaya diri, pastilah manusia dapat menaklukkan segala kesusahan, kesukaran. DVD yang diproduksi Masaaki Yoshimaru, sepupunya Sakura yg mengelola sebuah Production House, dibagi-bagi percuma kepada hadirin acara sumbangan bibit cemara. "Semoga masyarakat Jepang, khususunya penderita musibah Tsunami akan disemangati oleh lagu Soshunfu, dan harapan saya semoga masyarakat Rikuzentakata akan dihiburkan oleh pohon cemara laut yg berasal Aceh" kata Bu Sakura.(*)
 
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved