Kamis, 9 April 2026

Panen Raya di Abdya, Petani Mengeluh Terbatas Mesin Potong Padi

“Panen menggunakan mesin potong lebih murah biaya yang harus dikeluarkan dibandingkan panen secara manual,”

Penulis: Zainun Yusuf | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Bupati Abdya, Akmal Ibrahim bersama Kadis Pertanian dan Perkebunan Aceh , A Hanan, Wakil Bupati, Muslizar MT, melakukan panen benih padi unggul bertabel ungu menggunakan mesin pemotong (combine harvester) yang dikembangkan kelompok penangkar benih dalam acara Temu Lapang Panen Raya Padi MT Gadu 2018 di areal Blang Beuah, Desa Pawoh, Kecamatan Susoh, Senin (15/10/2018). Tingkat produksi padi berkisar antara 8 sampai 9 ton GKP (gabah kering panen) per hektare. 

Laporan Zainun Yusuf | Aceh Barat Daya

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Areal tanaman padi MT Gadu 2018 di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) seluas 10.267 hektare (ha), memasuki panen raya.

Seperti biasa kegiatan panen serentak terkendala tenaga kerja yang mengambil jasa (upah) memanen dengan menggunakan alat sabit dan ongkos yang diambil tergolong tinggi.

Sedangkan kegiatan panen menggunakan mesin terkendala terbatas jumlah mesin panen atau mesin potong padi (combine harvester).

Baca: Bangunan Masjid Al-Munawarah Ujong Tanoh Lembah Sabil Abdya Dirobohkan untuk Dibangun Masjid Baru

Mesin pontong padi jenis combine harvester milik Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya hanya tersedia 15 unit yang dikelola Unit Pengelola Jasa Alsintan (Upja).

Ongkos panen yang dipungut pengelola Rp 12.500 per goni isi 50 kg gabah kering panen (GKP).

“Panen menggunakan mesin potong lebih murah biaya yang harus dikeluarkan dibandingkan panen secara manual,” kata  Iskandar, salah seorang petani blang Cot Seutui Blangpidie, Iskandar kepada Serambinews.com, Senin (22/10/2018).

Sayangnya, mesin panen yang tersedia sangat terbatas sehingga petani harus antre menggunakannya, sementara tanaman padi sangat mendesak untuk dipanen.

Baca: KIP Abdya Datangi Sejumlah Kampus, Ini Ajakan Ketua KIP Abdya

Bila panen dengan cara memotong menggunakan sabit butuh biaya tinggi mencapai antara Rp 600.000 sampai Rp 700.000 untuk lahan sawah ukuran satu naleh bibit (lebih kurang 1/3 ha).

Ditambah ongkos angkat padi yang telah dipotong dari areal sawah juga mencapai Rp 600.000 per naleh bibit dan ongkos peruntok gabah menggunakan mesin treser Rp 10.000 per guni gabah.

Sementara panen dengan mesin potong (combine harvester), menurut petani lebih menguntungkan karena biaya murah.

Petani mengeluarkan biaya Rp 12.500 per guni isi 50 kg GKP, tidak perlu lagi ongkos angkat padi dari sawah dan tidak perlu biaya perontok gabah.

Baca: Vaksin Measles Rubella Dilanjutkan, MPU Abdya Sebut belum Keadaan Terpaksa

Pantauan Serambinews.com, persoalan terbatas mesin perontok milik Distanpan Abdya sangat dikeluhkan para petani kelompok penangkar benih ungggul.

Dari 10.267 ha tanaman padi yang memasuki panen, 360 ha diantara merupakan tanaman padi penangkar benih yang dikelola kelompok penangkar.

Areal penangkar benih seluas 200 ha masing-masing di Kecamatan Susoh, 120 ha terutama di Desa Pawoh (blang beuah), Kecamatan Blangpidie 10 ha di blang Cot Seutui) dan Kecamatan Tangan-Tangan 70 ha.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved