Selasa, 14 April 2026

Feature

Sentra Bordir Lhokseumawe, Benang-Benang Kehidupan Ekonomi

Yang lebih membanggakan lagi, produk bordir hasil karya Yusmila sudah menembus pasar internasional, hingga Qatar dan Amerika Serikat.

|
Penulis: Saiful Bahri | Editor: Safriadi Syahbuddin
SERAMBINEWS.COM/SAIFUL BAHRI
PERAJIN BORDIR - Yusmila, perajin bordir di Desa Blang Cut, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe sedang menyelesaikan pekerjaannya, Jumat (5/9/2025). 

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Di sebuah rumah sederhana di Desa Blang Cut, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, tangan terampil Yusmila (42) menari di atas kain. 

Jarum dan benang berwarna-warni itu bukan sekadar pengisi waktu, melainkan jalan hidup yang sudah ia tekuni sejak gadis.

“Dulu saya hanya dapat Rp 1,5 juta sebulan,” kenangnya sambil tersenyum saat ditemui Serambinews.com di rumahnya, Jumat (5/9/2025), 

Namun sejak mendapat pembinaan dari Pemerintah Kota Lhokseumawe melalui Dekranasda dan Dinas Perindagkop-UKM pada 2022, kehidupan Yusmila berubah drastis. 

Peralatan modern, pelatihan desain, hingga kesempatan studi banding ke Tasikmalaya membuat bordirannya naik kelas. Kini, penghasilannya rata-rata Rp 5 juta per bulan.

Yang lebih membanggakan lagi, produk bordir hasil karya Yusmila sudah menembus pasar internasional, hingga Qatar dan Amerika Serikat.

BORDIR LHOKSEUMAWE - Salah satu motif bordir karya Yusmila, perajin bordir di Desa Blang Cut, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.
BORDIR LHOKSEUMAWE - Salah satu motif bordir karya Yusmila, perajin bordir di Desa Blang Cut, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. (SERAMBINEWS.COM/SAIFUL BAHRI)

Sentra Bordir, Sentra Harapan

Kisah Yusmila hanyalah satu dari ratusan cerita sukses para perajin bordir di Lhokseumawe.

Di kota ini, bordir bukan sekadar kerajinan tangan, melainkan denyut nadi ekonomi masyarakat, terutama kaum perempuan.

Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar SH MH, menyebutkan ada 1.951 IKM (Industri Kecil Menengah) di wilayahnya, 149 di antaranya bergerak di bidang bordir.

Untuk memperkuat sektor ini, pemerintah membentuk dua sentra utama yaitu Sentral Bordir Blang Cut dan Sentral Bordir Bathupat.

Masing-masing menaungi ratusan tenaga kerja yang sehari-hari menghidupi keluarganya lewat jahitan penuh ketelatenan.

Sentral Bordir Blang Cut terdiri atas 86 kelompok usaha dengan melibatkan 345 perajin dari sejumlah desa di Kecamatan Blang Mangat.

Sementara Sentral Bordir Bathupat terdiri atas 63 kelompok usaha dengan 238 tenaga kerja dari sejumlah desa di Kecamatan Muara Satu.

“Motif yang mereka hasilkan sebagian besar khas Aceh, seperti Bungong Cane Meusagoe, Awan Sioun, Dheun Bungong Sagoe, Pucok Reubong, dan Awan Meuputa,” ujar Sayuti kepada Serambinews.com, kemarin.

Tak heran, bordiran Lhokseumawe kini bukan hanya bersaing di pasar lokal, tapi juga merambah pangsa Asia.

Yusmila Perajin Bordir Lhokseumawe
PERAJIN BORDIR - Yusmila, perajin bordir di Desa Blang Cut, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.

Bordir sebagai Identitas Kota

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved