Rabu, 22 April 2026

Banjir dan Longsor di Aceh

Korban Meninggal Sudah 173 Orang, Pemerintah Aceh Buka Posko Pengaduan

jumlah korban meninggal dunia sudah mencapai 173 orang dan yang hilang dilaporkan mencapai 204 orang.

Editor: mufti
Serambinews.com/HO/Dokumen Humas Kodim Bener Meriah
TNI bantu evakuasi korban meninggal dunia di Kampung Burni Pase Kecamatan Permata, Bener Meriah, Senin (1/12/2025). 

KORBAN jiwa akibat banjir dan tanah longsor yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh kembali bertambah. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Senin (1/12/2025) malam, pukul 21.56 Wib, jumlah korban meninggal dunia sudah mencapai 173 orang dan yang hilang dilaporkan mencapai 204 orang.

Sedangkan jumlah korban yang mengalami luka ringan sebanyak 1.435 orang, luka berat 403 orang. Sementara total pengungsi mencapai 97.305 kepala keluarga (KK) atau 443.001 jiwa. Total warga terdampak banjir sebanyak 214.382 KK atau sekitar 1.418.872 jiwa.

Di luar laporan BPBA, Serambi juga menerima laporan dari sejumlah daerah tentang update korban meninggal dunia. Sebagiannya kemungkinan sudah masuk ke dalam database BPBA, baik sebagian maupun seluruhnya.

Di Kabupaten Aceh Utara misalnya. Hingga Senin (1/12/2025), posko utama banjir melaporkan 78 warga meninggal dunia dan 51 lainnya masih hilang. Tim gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, dan relawan terus melakukan pencarian di titik-titik banjir yang sebagian besar sulit dijangkau akibat akses jalan terputus.

Kerusakan di Aceh Utara sendiri sangat parah. Sebanyak 32.518 rumah rusak, 107.305 jiwa mengungsi di 221 titik pengungsian, 27 jembatan rusak termasuk 24 rusak berat, 57 tanggul jebol, dan 8 daerah irigasi rusak. Kondisi ini menyulitkan evakuasi dan distribusi bantuan. Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil alias Ayahwa menegaskan bahwa perbaikan infrastruktur vital akan menjadi prioritas setelah masa darurat.

Di Aceh Timur, banjir bandang dan longsor juga menyebabkan 30 warga meninggal dunia dan lebih dari 30 ribu penduduk mengungsi. Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky menyebut seluruh fasilitas kesehatan juga terdampak. Stok obat-obatan sangat menipis. Dari dua rumah sakit, hanya RS Zubir Mahmud yang masih memiliki persediaan obat.

Hingga Senin siang, tiga kecamatan masih terisolasi karena akses menuju Peunaron, Lokop, dan Serbajadi belum bisa dilalui. Bupati meminta Presiden Prabowo turun langsung meninjau Aceh Timur karena daerah tersebut porak-poranda.

Di Kabupaten Bener Meriah, sebanyak 29 warga dilaporkan meninggal dunia, 23 orang hilang, 38.294 jiwa mengungsi, 46 jembatan putus, 26 titik jalan putus, 39 titik longsor dan 27 titik banjir. Pemkab Bener Meriah berupaya menembus daerah terisolasi dengan berjalan kaki untuk mengirim logistik. 

Sedangkan di Aceh Tenggara, banjir bandang menyebabkan 13 warga meninggal dunia dan 3 lainnya belum ditemukan. BPBD Aceh Tenggara melaporkan sebanyak 14.218 jiwa terdampak, sementara lebih dari 2.400 rumah mengalami kerusakan.

Posko Pengaduan

Pemerintah Aceh melalui Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi membuka layanan pengaduan bagi warga yang kehilangan kontak dengan keluarga di daerah terdampak bencana banjir dan longsor. 

Juru Bicara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin, mengatakan layanan ini telah beroperasi sejak Minggu (30/11/2025) kemarin dan berpusat di Media Center Posko Tanggap Darurat yang berlokasi di lobi Kantor Gubernur Aceh.

“Layanan ini hadir guna untuk membantu masyarakat melaporkan anggota keluarga yang belum dapat dihubungi serta dapat menanyakan perkembangan kondisi wilayah terdampak,” kata Murthalamuddin, Senin (1/12/2025). 

Berdasarkan laporan Posko Tanggap Darurat pada Senin (1/12/2025) sore, tercatat 26 laporan masuk dalam dua hari terakhir. Sebagian besar laporan disampaikan oleh warga yang mencari informasi mengenai keluarga mereka di wilayah Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.

“Layanan pengaduan ini dibuka setiap hari selama masa tanggap darurat untuk memastikan setiap laporan masyarakat dapat ditindaklanjuti secara cepat dan terkoordinasi,” katanya.

Seperti diketahui, pascadilanda bencana banjir dan longsor, akses komunikasi dan jaringan internet terputus total di sebagian besar wilayah Aceh. Tak hanya itu, kondisi semakin diperparah dengan padamnya aliras listrik akibat sejumlah tiang SUTT milik PT PLN tumbang dihantam banjir. 

Hingga kini, sebagian besar masyarakat Aceh dilaporkan masih kesulitan mencari informasi tentang keluarganya yang berada di kawasan terdampak banjir.(yos/ra)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved