Jumat, 17 April 2026

Haba UTU

UTU Salurkan Bantuan Darurat Banjir Aceh Singkil  

Tim Relawan Universitas Teuku Umar (UTU) menyalurkan bantuan tanggap darurat tahap awal bagi pengungsi korban banjir di Aceh Singkil.

Editor: IKL
for serambinews
Tim relawan UTU menyerahkan bantuan tanggap darurat bencana banjir Aceh Singkil yang diterima oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Singkil, Al Husni (11/12/2025). 

SERAMBINEWS.COM, Aceh Singkil – Tim Relawan Universitas Teuku Umar (UTU) menyalurkan bantuan tanggap darurat tahap awal bagi pengungsi korban banjir di Aceh Singkil, Kamis (11/12/2025).

Bantuan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Aceh 2025 yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan anggaran Rp 1,8 miliar.

Bantuan akan disalurkan ke empat daerah terdampak, yakni Kabupaten Aceh Singkil, Aceh Barat, Nagan Raya, dan Kota Subulussalam.

Kedatangan tim UTU disambut langsung oleh Kepala Pelaksana BPBD Aceh Singkil, Al Husni, di Kantor BPBD setempat.  

Tim relawan terdiri dari Dr. Afrizal Tjoetra, M.Si., Basri, SH., MH., Yuhdi Fahrimal, S.I.Kom., M.I.Kom., Samsuar, S.P., dan Muhammad Iksan. Ketua Tim Relawan UTU, Dr. Afrizal Tjoetra, menegaskan bahwa penyaluran bantuan ini merupakan bentuk kepedulian UTU bersama Kemdiktisaintek untuk meringankan penderitaan masyarakat terdampak banjir bandang dan tanah longsor.

“Program ini didanai sebesar Rp 1,8 miliar untuk empat kabupaten/kota. Kami berharap bantuan ini dapat memberi dampak positif, khususnya bagi masyarakat Aceh Singkil,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Aceh Singkil kerap dilanda banjir meski dalam kondisi hujan normal.

Situasi semakin buruk setelah Siklon Senyar pada akhir November 2025 memicu hujan ekstrem, angin kencang, luapan sungai, dan longsor di berbagai wilayah Aceh.  

Kepala BPBD Aceh Singkil, Al Husni, mengapresiasi kepedulian UTU dan Kemdiktisaintek.

Menurutnya, banjir yang terjadi sejak 19 November 2025 telah menimbulkan dampak serius.

“Dua jembatan vital putus akibat arus deras, sehingga jalur darat sulit dilalui. Tantangan terbesar saat ini adalah krisis air bersih dan sanitasi di pengungsian,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat yang tengah berjuang menghadapi bencana.

“Ini wujud nyata gotong royong dalam menghadapi musibah,” tutupnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved