Kamis, 23 April 2026

Banjir Landa Aceh

Jeritan Warga Selama Jembatan Kutablang Putus, Perahu Nelayan Jadi Tumpuan, Biaya Melonjak 18 Kali

 Seorang warga Kuta Blang, M Nazar (38), yang menggunakan jasa penyebrangan mengatakan, putusnya  Jembatan Krueng Tingkeum sangat memberatka baginya.

Penulis: Hendri Abik | Editor: Yeni Hardika
Serambinews.com/Hendri Abik
JEMBATAN KUTABLANG PUTUS - Suasana penyeberangan mengunakan jasa perahu warga di Kutablang, Bireuen. Perahu nelayan kini menjadi tumpuan warga selama jembatan Krueng Tingkeum roboh diterjang banjir. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Hendri|Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN –

Lebih kurang selama dua pekan terakhir paska bencana hidrometeorologi melanda Aceh, sejumlah akses jalan darat masih putus.

Salah satunya Jembatan Krueng Tingkeum yang merupakan penghubung utama Jalan Nasional Banda Aceh-Medan di kawasan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen
 
Kini warga yang hendak menyebrang ke Lhokseumawe dan sebaliknya mengandalkan perahu nelayan untuk menyeberangkan orang dan sepeda motor. 
 
Seorang warga Kuta Blang, M Nazar (38), yang menggunakan jasa penyebrangan mengatakan, putusnya  Jembatan Krueng Tingkeum sangat memberatka baginya.

Sebab, jembatan itu salah satu penghubung baginya. 
 
“Saya bekerja sebagai buruh di sebrang jembatan, setiap hari harus pulang pergi dan harus keluarkan biaya lagi saat nyebrang,” sebuntnya. 

Baca juga: Tinjau Jembatan Teupin Mane, Menko Polhukam Bantu Rp50 Juta untuk Masjid di Juli Bireuen

Biaya penyeberangan yang harus dikeluarkan Nazar untuk sekali jalan mencapai Rp90.000, terdiri dari Rp10.000 untuk penumpang per orang dan Rp80.000 untuk sepeda motor per unit.
 
Bagi Nazar yang bekerja serabutan, kondisi itu sangat memberatkan.

Jika setiap hari harus pergi pulang dari Kuta Blang ke Kuta Makmur, Nazar harus mengeluarkan ongkos transportasi mencapai Rp 180.000 per hari. 
 
”Kalau keadaan normal saat jembatan tersambung, Rp 180.000 itu cukup untuk ongkos transportasi saya sebulan,” ujarnya.
 
Sementara itu, nakhoda salah satu perahu nelayan yang membuka jasa penyeberangan di Krueng Tingkeum, Zulfan (33), mengakui, pada awal-awal bencana, ada pemilik perahu yang memasang tarif ratusan ribu rupiah bagi penumpang dan sepeda motor yang ingin menyeberang.
 
Namun hal itu hanya terjadi selama dua hari.

Baca juga: Menko Polhukam Cek Jembatan Teupin Mane Bireuen yang Rencana Dipakai Mulai Besok, Juga ke Awe Geutah

Setelah itu, para pemilik perahu dikumpulkan oleh instansi terkait dan diputuskan kesepakatan harga yang berlaku hingga sekarang, yakni ongkos penumpang Rp 10.000 per orang dan sepeda motor Rp 80.000 per orang.
 
“Kami disini diberi aturan khusus untuk memastikan keselamatan warga, antara lain wajib menyediakan jaket pelampung dan hanya beroperasi sepanjang pukul 07.00-18.00 WIB per hari,” ujarnya. 
 
Bagi Zulfan, ongkos penyeberangan yang ditetapkan itu sudah sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan oleh pemilik perahu.

Saat ini, tersedia 22 perahu yang khusus menyeberangkan penumpang dan empat perahu untuk menyeberangkan sepeda motor.

Dalam sehari, setiap perahu maksimal hanya melayani sekitar 10 penyeberangan.

Untuk memenuhi kebutuhan operasional tersebut, mereka setidaknya perlu 70 liter bahan bakar minyak (BBM) untuk mesin diesel.

Adapun BBM mesin diesel yang bisa dibeli hanya jenis Pertamina Dex seharga Rp 14.800 per liter. (*)

BACA BERITA LAINNYA DI SINI

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved