Banjir Landa Aceh

Akses Jalur Darat segera Dioptimalkan

Untuk Aceh dan Sumatera Utara, kami mendorong pemerintah daerah segera mengidentifikasi lokasi huntara yang aman dan layak. ABDUL MUHARI

Editor: mufti
BNPB
ABDUL MUHARI, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB 

Ringkasan Berita:
  • Abdul Muhari, memperkirakan seluruh akses jalur darat di Aceh mulai optimal awal minggu depan.
  • Dengan terbukanya akses jalan dan jembatan, volume bantuan yang dikirim dapat meningkat signifikan, sekaligus menekan ketergantungan pada distribusi udara yang terbatas kapasitas dan cuaca
  • Adapun akses Gayo Lues-Aceh Tenggara via Kutacane masih lumpuh akibat dua jembatan putus serta longsor dan amblas pada badan jalan.

“Untuk Aceh dan Sumatera Utara, kami mendorong pemerintah daerah segera mengidentifikasi lokasi huntara yang aman dan layak.” ABDUL MUHARI, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, memperkirakan seluruh akses jalur darat di Aceh mulai optimal awal minggu depan.

Menurutnya, infrastruktur jalan dan jembatan menjadi sangat krusial karena akan meningkatkan efektivitas distribusi bantuan yang selama ini masih dominan melalui jalur udara.

“Kita harapkan awal minggu depan jalur darat sudah dapat dioptimalkan sehingga tonase bantuan bisa meningkat secara signifikan,” kata Muhari, dalam keterangannya, Minggu (14/12/2025).

Ia menegaskan, pemerintah terus mempercepat penanganan bencana di Aceh dengan memfokuskan upaya pada percepatan distribusi logistik dan pemulihan akses transportasi darat, khususnya jalan nasional dan jembatan. 

Muhari menilai, langkah ini menjadi krusial untuk meningkatkan efektivitas penyaluran bantuan yang hingga kini masih bergantung pada jalur udara. “Dengan terbukanya akses jalan dan jembatan, volume bantuan yang dikirim dapat meningkat signifikan, sekaligus menekan ketergantungan pada distribusi udara yang terbatas kapasitas dan cuaca,” katanya.

Ia menjelaskan, saat ini sejumlah titik konektivitas utama di Aceh mulai menunjukkan progres positif. Akses Jalan Nasional Pidie Jaya–Bireuen misalnya, kini telah tersambung setelah Jembatan Krueng Meureudu dibuka pada Jumat (12/12/2025). Meski masih dalam tahap perbaikan, jembatan tersebut sudah fungsional dan dapat dilalui kendaraan.

Sementara itu, akses Pidie-Aceh Tengah melalui Geumpang-Pameu-Simpang Uning masih terputus. Kendaraan roda empat baru dapat mencapai Kecamatan Rusip Antara, namun belum tembus hingga Takengon. Di jalur ini, tercatat tiga jembatan putus dan pekerjaan pembersihan material besar masih berlangsung.

Untuk ruas Aceh Tengah-Nagan Raya melalui Lhok Seumot-Jeuram, kendaraan roda dua sudah dapat melintas. Proses penimbunan oprit dan badan jalan terus dikebut agar akses tersebut dapat segera difungsikan penuh. Pemerintah menargetkan ruas ini rampung pada Rabu (17/12/2025).

Adapun akses Gayo Lues-Aceh Tenggara via Kutacane masih lumpuh akibat dua jembatan putus serta longsor dan amblas pada badan jalan. Penimbunan oprit dan pemasangan jembatan Bailey terus dilakukan. Satu titik kritis di STA 14+400 kini sudah terhubung dan dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda empat.

“Perbaikan infrastruktur ini dilakukan secara kolaboratif, melibatkan aparat keamanan, dinas teknis, serta organisasi kemanusiaan, agar distribusi bantuan mulai dari makanan, obat-obatan, tenda, hingga bahan bakar, dapat menjangkau wilayah terdampak lebih cepat dan aman,” ujar Muhari.

Untuk pemulihan jembatan, BNPB mencatat kemajuan signifikan pada beberapa titik. Perbaikan Jembatan Tiepin Reudeup dan Jembatan Tiupin Mane di Kabupaten Bireuen telah mencapai 90 persen. 

Namun, sejumlah jembatan masih terkendala cuaca, seperti Jembatan Kutabalang di Bireuen yang progresnya baru 40,7 persen, serta Jembatan Jeurata di Aceh Tengah yang masih berada pada tahap awal perbaikan.

Selain infrastruktur, pemerintah juga mulai menyiapkan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Penyiapan huntara dilakukan paralel dengan penanganan darurat yang masih berjalan.

“Untuk Aceh dan Sumatera Utara, kami mendorong pemerintah daerah segera mengidentifikasi lokasi huntara yang aman dan layak. Penentuan lokasi tidak boleh tergesa-gesa dan harus melalui kajian matang, terutama dari aspek hidrologis, agar tidak kembali terdampak banjir atau longsor,” tegasnya.(ra)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved