Selasa, 21 April 2026

Banjir Landa Aceh

YARA Aceh Barat dan Nagan Dorong Pemerintah Bantu Jurnalis Korban Banjir

Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Barat dan Nagan Raya, Hamdani SSos SH MH, mendorong pemerintah daerah maupun pusat tidak

Penulis: Rizwan | Editor: Mursal Ismail
Serambinews.com/HO
KETUA YARA - Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Barat dan Nagan Raya, Hamdani SSos SH MH, mendorong pemerintah daerah maupun pusat tidak menutup mata terhadap kondisi jurnalis yang terdampak banjir di sejumlah wilayah di Aceh. Bukan hanya kehilangan harta benda, banyak wartawan kini lumpuh secara profesi karena alat kerja vital seperti laptop dan kamera rusak terendam air. 

Ringkasan Berita:
  • YARA Aceh Barat–Nagan Raya mendesak pemerintah daerah dan pusat memperhatikan kondisi jurnalis yang terdampak banjir. 
  • Hamdani menilai ada ketimpangan perlakuan, di mana pemerintah terbantu oleh pemberitaan jurnalis saat bencana, namun abai ketika jurnalis sendiri menjadi korban.
  • YARA mendorong pendataan khusus jurnalis terdampak, bantuan penggantian/perbaikan alat kerja, serta pengakuan bahwa wartawan juga bagian dari masyarakat yang berhak mendapat perlindungan.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rizwan I Nagan Raya

SERAMBINEWS.COM, SUKA MAKMUE - Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Barat dan Nagan Raya, Hamdani SSos SH MH, mendorong pemerintah daerah maupun pusat tidak menutup mata terhadap kondisi jurnalis yang terdampak banjir di sejumlah wilayah di Aceh.

Bukan hanya kehilangan harta benda, banyak wartawan kini lumpuh secara profesi karena alat kerja vital seperti laptop dan kamera rusak terendam air.

Kondisi banjir yang mengepung sejumlah wilayah seperti Aceh Utara, Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Timur, Bireuen, Pidie Jaya, Aceh Tengah, Nagan Raya, Bener Meriah hingga Lhokseumawe tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga melumpuhkan profesi jurnalis.

Banyak wartawan di wilayah tersebut kini tidak bisa bekerja karena perangkat vital mereka seperti laptop dan kamera rusak terendam air.

Tanpa alat tersebut, para "pemburu berita" ini praktis kehilangan mata pencaharian.

"Sangat ironis melihat pemerintah sangat terbantu oleh pemberitaan jurnalis saat bencana untuk menaikkan citra dan mendapatkan bantuan, namun abai ketika jurnalis itu sendiri tertimpa musibah.

Alat kerja mereka adalah nyawa profesi mereka," tegas Hamdani, Rabu, (21/1/2026).

Baca juga: Usulan untuk Bangun Lapas di Nagan Raya Terkendala Lahan, Begini Tanggapan Pemkab dan BPN

Ketua YARA menegaskan adanya ketimpangan perlakuan dari pihak pemerintah terhadap peran jurnalis di lapangan.

Ia menyebut pemerintah seringkali mendapatkan keuntungan dari pemberitaan masif yang dilakukan wartawan saat bencana, namun abai ketika jurnalis itu sendiri yang menjadi korban.

Poin Utama Desakan YARA

Menurutnya, perlu pendataan khusus oleh pemerintah terhadap awak media yang terdampak banjir secara spesifik.

Bantuan alat kerja dengan memberikan skema bantuan atau kompensasi untuk perbaikan/penggantian alat kerja (kamera dan laptop) yang rusak.

Kepedulian sosial dengan menghapus stigma bahwa wartawan hanya "alat" publikasi, melainkan bagian dari masyarakat yang juga butuh perlindungan saat bencana. 

Baca juga: Bebas Pulsa, Warga Aceh Kini Bisa Lapor Situasi Darurat ke Nomor 112

YARA mengingatkan bahwa tanpa kehadiran jurnalis di lokasi bencana, informasi mengenai penderitaan rakyat tidak akan sampai ke telinga publik dan pemangku kebijakan.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya pemerintah memberikan perhatian timbal balik yang adil. (*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved