LPG Oplosan
LPG Oplosan Beredar di Banda Aceh, Ancam Keselamatan Pengguna, Ini Cirinya
Dalam beberapa hari terakhir, LPG oplosan mulai ditemukan beredar di kawasan Banda Aceh dan sekitarnya.
Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Ansari Hasyim
Ringkasan Berita:
- Segel LPG oplosan biasanya rusak tidak memiliki hologram.
- Sedangkan, tabung LPG resmi dari Pertamina dilengkapi hologram dan barcode yang dapat dipindai untuk memverifikasi keasliannya melalui aplikasi MyPertamina.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Muhammad Nasir l Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Dalam beberapa hari terakhir, LPG oplosan mulai ditemukan beredar di kawasan Banda Aceh dan sekitarnya.
Kondisi ini membuat warga khawatir akan mendapatkan LPG oplosan yang dijual di pasaran.
Ketakutan tersebut bukan tanpa alasan, karena LPG oplosan dinilai berisiko dan bahkan dapat mengancam nyawa penggunanya.
Baca juga: Ketua DPRK Banda Aceh Minta Pertamina Awasi Pangkalan dan Agen LPG untuk Stabilkan Harga
Informasi ini dibenarkan oleh Ketua Hiswana Migas Aceh, Nahrawi Noerdin, yang akrab disapa Toke Awi, saat dikonfirmasi Serambi, Minggu (21/12/2025).
Ia mengakui bahwa LPG oplosan sudah mulai ditemukan beredar di kawasan Banda Aceh.
LPG oplosan tersebut umumnya berasal dari tabung LPG 3 kilogram yang kemudian disuling dan dipindahkan ke tabung ukuran 12 kilogram, karena jualnya lebih mahal, pelaku meraup untung besar.
Menurut Toke Awi, salah satu cara paling mudah untuk membedakan LPG oplosan adalah dengan memperhatikan segel pada bagian tutup tabung.
Segel LPG oplosan biasanya rusak tidak memiliki hologram.
Sedangkan, tabung LPG resmi dari Pertamina dilengkapi hologram dan barcode yang dapat dipindai untuk memverifikasi keasliannya melalui aplikasi MyPertamina.
Ia menegaskan bahwa peredaran LPG oplosan sangat merugikan masyarakat sebagai pengguna.
Selain tidak memenuhi aspek keselamatan, LPG oplosan juga berpotensi mengancam nyawa.
Takarannya pun tidak sesuai dengan ukuran tabung, karena biasanya berada di bawah standar.
Dari pengurangan takaran inilah para pelaku pengoplos meraup keuntungan.
“Yang paling kasian masyarakat sebagai pengguna, LPG oplosan ini tidak ada aspek safety-nya, sehingga mengancam nyawa manusia. Kemudian takarannya tidak sesuai, warga rugi secara ekonomi,” ujarnya.
LPG oplosan memang lebih menarik bagi sebagian masyarakat karena dijual dengan harga di bawah standar Pertamina.
Namun, isi gasnya berkurang.
Sebagai contoh, tabung LPG 12 kilogram yang standar memiliki berat total 27 Kg, sedangkan yang oplosan dipastikan di bawah itu.
Berdasarkan informasi yang beredar, para pedagang menjual LPG oplosan ini secara terang-terangan melalui media sosial di Banda Aceh.
Dipastikan sudah banyak warga yang membelinya.
Menurut Toke Awi, LPG oplosan ini dibawa dari Medan dan dioplos di provinsi tetangga tersebut, lalu didistribusikan ke Banda Aceh melalui jalur darat.
Sebelumnya, distribusi LPG ilegal ini dilakukan melalui jalur barat selatan Aceh.
Namun, setelah jembatan penghubung di Bireuen kembali terkoneksi, besar kemungkinan tabung LPG oplosan juga dibawa melalui lintas pantai timur utara.
“Saat jembatan sempat putus, hampir tidak ada LPG ilegal yang masuk ke Aceh. Kini, keberadaannya kembali ditemukan karena pasokan berasal dari Medan,” ujarnya.
Ciri-ciri LPG oplosan dapat dikenali dari segel yang rusak dan tidak memiliki barcode, serta berat tabung yang tidak sesuai standar.
Selain itu, api kompor cenderung tidak stabil saat digunakan, bau gas lebih menyengat, waktu pemakaian lebih singkat, dan harga jualnya berada di bawah standar.
Salah satu kerugian utama dari LPG oplosan adalah rendahnya standar keamanan.
Tabung yang dioplos lebih rentan mengalami kebocoran.
Jika terjadi kebocoran dan terdapat sumber api di sekitarnya, kondisi ini dapat memicu ledakan atau kebakaran.
Selain itu, paparan uap LPG dalam konsentrasi tinggi juga berisiko terhadap kesehatan, meskipun terhirup dalam waktu singkat.
Salah seorang warga Banda Aceh, Syahratul, mengaku baru mengetahui adanya peredaran LPG oplosan di daerah tersebut.
Informasi ini membuatnya lebih selektif dalam membeli LPG ke depannya.
Saat ini, di Banda Aceh, selain dijual di pangkalan dan agen resmi, tabung LPG juga banyak diperjualbelikan secara daring melalui akun media sosial, dengan sistem pengambilan di lokasi yang telah disepakati antara penjual dan pembeli.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Lapg-73hhe.jpg)