Berita Banda Aceh
Doa Bersama 21 Tahun Tsunami Aceh, Komunitas Nelayan Lampulo Santuni 380 Anak Yatim
“Agenda utama kita dimulai dengan doa dan zikir bersama, dilanjutkan tausiah, santunan anak yatim, dan makan bersama masyarakat nelayan yang berada...
Penulis: Indra Wijaya | Editor: Nurul Hayati
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Indra Wijaya | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Memperingati 21 tahun tragedi tsunami Aceh, komunitas nelayan Lampulo menggelar doa dan zikir bersama yang dirangkai dengan santunan kepada 380 anak yatim dari 11 desa di wilayah hukum adat Panglima Laot Krueng Aceh, Kamis (27/12/2025).
Kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaraja, Banda Aceh.
Selain sebagai bentuk mengenang musibah tsunami 26 Desember 2004, acara ini juga menjadi momentum refleksi dan penguatan solidaritas antar sesama masyarakat nelayan.
Sekretaris Panglima Laot Krueng Aceh yang juga Ketua Pelaksana kegiatan, HT Tarmizi, mengatakan kegiatan ini telah menjadi agenda rutin tahunan yang didukung oleh Panglima Laot Banda Aceh, Asosiasi Pedagang Ikan, pedagang grosir ikan PPS Kutaraja, serta komunitas nelayan setempat.
“Agenda utama kita dimulai dengan doa dan zikir bersama, dilanjutkan tausiah, santunan anak yatim, dan makan bersama masyarakat nelayan yang berada dalam wilayah hukum adat laut Aceh,” kata HT Tarmizi.
Ia menjelaskan, jumlah anak yatim yang disantuni setiap tahun bervariasi tergantung ketersediaan dana.
Tahun ini, sebanyak 380 anak yatim menerima santunan, lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang pernah mencapai hingga 600 anak.
“Anak yatim yang kita santuni berasal dari 11 desa di wilayah hukum adat. Batas usia yang kita ambil sampai tingkat SMP kelas tiga,” ujarnya.
Baca juga: Peringati 21 Tahun Tsunami, Warga Gano Lamdingin Banda Aceh Doa Bersama
Ibrahim menambahkan, sebagian besar dana yang terkumpul pada awal Desember lalu telah disalurkan untuk membantu korban bencana banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Utara.
Hal itu dilakukan karena banyak masyarakat nelayan yang merantau dan memiliki keluarga di daerah terdampak bencana tersebut.
“Di awal Desember, kita sudah menyalurkan bantuan ke beberapa titik bencana. Bantuan mungkin tidak besar, tapi ini bentuk empati. Apa yang mereka rasakan, pernah juga kami rasakan saat tsunami dulu,” jelasnya.
Menurutnya, dampak bencana banjir yang melanda sejumlah kabupaten saat ini bahkan lebih luas dibandingkan tsunami, meskipun jumlah korban jiwa tsunami jauh lebih besar.
“Kalau tsunami dulu hanya beberapa wilayah pesisir, sekarang hampir delapan kabupaten terdampak. Ini menjadi keprihatinan kita bersama,” katanya.
Ia berharap kegiatan refleksi 21 tahun tsunami ini dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus meningkatkan kepedulian sosial dan memperbaiki hubungan sesama manusia serta hubungan dengan Allah SWT.
“Tujuan kita bukan hanya bersedekah, tapi juga introspeksi diri. Bencana adalah ketetapan Allah, bisa menjadi ujian sekaligus peringatan agar kita menjadi pribadi yang lebih baik, baik dalam hubungan sesama manusia maupun dengan Sang Pencipta,” tutup Tarmizi.(*)
| Fajran Zain Pimpin ICMI Kota Sabang, Siap Perkuat Peran Cendekiawan untuk Kemajuan Daerah |
|
|---|
| Diduga Tersengat Listrik Saat Bongkar Baliho, Mekanik di Aceh Besar Alami Luka Bakar 40 Persen |
|
|---|
| Pendiri RSU Bidadari Group HM Nur Abu Bakar Tutup Usia, Begini Perjalanan Hidupnya |
|
|---|
| Sigap! Tim Rimueng Polresta Banda Aceh Ringkus Pembobol Kios Kelontong |
|
|---|
| Tim ZONAVEC FK USK Raih Silver Medal di Malaysia, Ini Inovasinya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Masyarakat-dan-nelayan-di-Lampulo-mendengarkan-tausiah-saat-peringatan-21-tahun-Tsunami-Aceh.jpg)