Kamis, 30 April 2026

Berita Banda Aceh

Prof Humam Hamid Ajak Publik Gunakan Akal Sehat Menyikapi Rentetan Isu Keamanan di Aceh

Namun, ia menilai banyak narasi tersebut perlu diuji secara rasional agar tidak menimbulkan kesimpulan yang menyesatkan.

Tayang:
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO/YouTube Serambinews
Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Humam Hamid, mengajak masyarakat Aceh untuk bersikap kritis dan menggunakan akal sehat dalam membaca berbagai narasi yang berkembang terkait sejumlah peristiwa keamanan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, Selasa (30/12/2025). 

Prof Humam Hamid Ajak Publik Gunakan Akal Sehat Menyikapi Rentetan Isu Keamanan di Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Humam Hamid, mengajak masyarakat Aceh untuk bersikap kritis dan menggunakan akal sehat dalam membaca berbagai narasi yang berkembang terkait sejumlah peristiwa keamanan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, Selasa (30/12/2025).

Menurut Prof Humam, rangkaian isu mulai dari penangkapan seorang individu yang membawa pistol saat aksi demonstrasi, klaim pemukulan terhadap Dandim dan Kapolres, hingga dugaan sabotase jembatan Bailey darurat, telah menyita perhatian publik. 

Namun, ia menilai banyak narasi tersebut perlu diuji secara rasional agar tidak menimbulkan kesimpulan yang menyesatkan.

“Sebagai pengamat sosial dan politik, saya merasa perlu mengajak publik menggunakan logika akal sehat dalam membaca narasi yang berkembang,” ujarnya.

Pertama, terkait kasus kepemilikan pistol, Prof Humam menyoroti minimnya keterbukaan informasi.

Identitas tersangka yang hanya disampaikan dalam bentuk nama samaran, tanpa penjelasan jelas mengenai motif, jaringan, maupun keterkaitan dengan pihak lain, dinilainya membuka ruang pertanyaan publik. 

Baca juga: TNI Sita Bendera Bulan Bintang, Pistol, dan Senjata Tajam dalam Demo Ricuh di Lhokseumawe

“Dalam logika sederhana, sebuah kasus senjata api adalah perkara serius yang seharusnya disertai keterbukaan informasi,”

“Ketika fakta-fakta kunci justru kabur, wajar bila publik bertanya; apakah yang disampaikan ini fakta utuh, atau sekadar potongan cerita yang dibentuk untuk menciptakan kesan ancaman?,” ujarnya penuh tanda tanya.

Kedua, Prof Humam Hamid mempertanyakan klaim massa memukul Dandim dan Kapolres

Menurutnya, dalam nalar sehat, peristiwa pemukulan terhadap pejabat keamanan tinggi hampir pasti meninggalkan jejak visual, saksi, atau dokumentasi yang kuat. 

“Ketika bukti-bukti tersebut tidak pernah ditampilkan ke ruang publik, klaim itu patut diuji secara kritis. Logika dasar mengatakan; peristiwa besar tidak mungkin hanya hidup sebagai pernyataan, tanpa fakta pendukung yang dapat diverifikasi,” jelasnya.

Sorotan ketiga paling tajam, lanjutnya, tertuju pada dugaan sabotase jembatan Bailey dengan cara melepaskan baut di tengah lalu lintas padat. 

Ia menilai klaim tersebut sulit diterima secara teknis dan nalar pikiran.

“Baut jembatan Bailey bukan baut sepeda. Ia membutuhkan alat khusus, keahlian teknis, waktu, dan ruang kerja yang relatif aman,”

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved