Aceh Utara
Bupati Aceh Utara Laporkan Kebutuhan Mendesak Pengungsi Banjir Saat Rapat dengan DPR RI
Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil SE MM melaporkan berbagai kebutuhan mendesak pengungsi banjir di wilayahnya saat mengikuti Rapat...
Penulis: Jafaruddin | Editor: Eddy Fitriadi
Ringkasan Berita:
- Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil melaporkan kebutuhan mendesak pengungsi banjir kepada DPR RI, mulai dari listrik, jaringan telekomunikasi, logistik, tenda, hingga alat berat dan air bersih.
- Ia menyebut banjir berdampak luas di Aceh Utara, melanda 25 dari 27 kecamatan dengan 696 desa terdampak atau sekitar 81 persen wilayah.
- Sebanyak 433 ribu jiwa terdampak, 67.876 jiwa mengungsi, ratusan meninggal dan ribuan luka-luka, serta puluhan ribu rumah, sawah, dan tambak mengalami kerusakan.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil SE MM melaporkan berbagai kebutuhan mendesak pengungsi banjir di wilayahnya saat mengikuti Rapat Koordinasi Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Pascabencana Sumatera yang digelar DPR RI, Selasa (30/12/2025).
Dalam rapat tersebut, Ismail yang akrab disapa Ayahwa menyampaikan bahwa hingga kini kondisi listrik dan jaringan telekomunikasi di sejumlah wilayah Aceh Utara belum pulih sepenuhnya pascabencana banjir besar yang melanda akhir November lalu.
Selain itu, fasilitas pengungsian dinilai masih belum layak dan membutuhkan perhatian serius.
“Kemudian kebutuhan di pengungsian. Yang pertama sekali listrik belum normal dan Telkom. Kemudian yang kedua kebutuhan kompor gas atau gas elpiji lima kilogram,” ujar Ismail di hadapan pimpinan dan anggota DPR RI.
Menurutnya, selain listrik dan jaringan komunikasi, kebutuhan dasar lainnya juga masih menjadi persoalan di lokasi pengungsian, mulai dari layanan kesehatan hingga logistik dan obat-obatan. Kondisi tenda yang digunakan warga pengungsi juga dinilai belum memadai.
“Kemudian yang ketiga logistik dan obat-obatan. Kemudian yang keempat tenda, yang selama ini masyarakat masih di tenda biasa,” katanya.
Ismail juga menyampaikan bahwa di sejumlah wilayah yang masih terisolasi, pemerintah daerah membutuhkan sarana transportasi air untuk mendistribusikan bantuan. Selain itu, ketersediaan air bersih dan alat berat menjadi prioritas utama dalam penanganan pascabencana.
“Kemudian yang kelima boat untuk mengantar logistik di kawasan terisolir di Serah Raja dan di Dusun Selemah. Kemudian yang keenam air bersih, yang ketujuh alat berat,” ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ismail memaparkan bahwa dampak banjir di Aceh Utara sangat luas dan melanda hampir seluruh wilayah kabupaten. Dari total 27 kecamatan dengan 852 desa, sebanyak 25 kecamatan dan 696 desa terdampak bencana.
“Perlu saya laporkan, di Aceh Utara kami 27 kecamatan, terdiri dari 852 desa. Yang terdampak 25 kecamatan, 696 kampung atau sekitar 81 persen,” ungkap Ismail.
Baca juga: Masa Tanggap Darurat Banjir Aceh Utara Diperpanjang Lagi, Fokus pada Validasi Data dan Pemulihan
Ia menyebutkan, jumlah warga terdampak mencapai ratusan ribu jiwa. Selain itu, jumlah pengungsi dan korban jiwa akibat bencana juga tergolong besar.
“Jumlah korban bencana banjir yang terdampak 124.000 kepala keluarga atau 433.000 jiwa. Kemudian jumlah pengungsi 19.000 KK atau 67.876 jiwa. Korban meninggal dunia 213 orang, hilang enam orang, dan luka-luka 2.127 orang,” jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ismail-A-Jalil-SE-MM-saat-melaporkan-kondisi-banjir-di-Aceh-Utara-dalam-Rapat-Koordinasi.jpg)