Berita Banda Aceh
Korupsi Dana Pelatihan Guru, Kepala BGP Aceh Dituntut 6 Tahun Penjara
JPU Kejaksaan Negeri Aceh Besar menuntut terdakwa Teti Wahyuni selaku Kepala BGP Provinsi Aceh dalam Kasus Korupsi
Ringkasan Berita:
- Terdakwa Teti Wahyuni, selaku Kepala BGP Provinsi Aceh Perkara tindak pidana korupsi pelatihan dan peningkatan kapasitas guru dengan hukum enam tahun penjara.
- JPU juga menuntut terdakwa lainnya dalam perkara yang sama yakni Mulyadi selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada BGP Provinsi Aceh dengan hukuman empat tahun enam bulan penjara.
- Majelis hakim melanjutkan persidangan pada Kamis (22/1) dengan agenda mendengarkan nota pembelaan kedua terdakwa
"Anggaran tersebut digunakan untuk peningkatan kapasitas guru serta perjalanan dinas. Namun, dalam terjadi penggelembungan harga serta adanya penerimaan uang dari kegiatan tersebut oleh terdakwa," JPU Kejari Aceh Besar
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Aceh Besar menuntut terdakwa Teti Wahyuni, selaku Kepala Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Aceh dalam perkara tindak pidana korupsi pelatihan dan peningkatan kapasitas guru dengan hukum enam tahun penjara.
Tuntutan tersebut dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Shidqi Noer Salsa, Lilik Suparli, dan Zaki Bunaiya dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Banda Aceh di Banda Aceh, Senin (19/1/2026).
Persidangan dengan majelis hakim diketuai Fauzi serta didampingi Harmi Jaya dan Zul Azmi masing-masing sebagai hakim anggota.
Selain terdakwa Teti Wahyuni, JPU juga menuntut terdakwa lainnya dalam perkara yang sama yakni Mulyadi selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada BGP Provinsi Aceh dengan hukuman empat tahun enam bulan penjara.
Selain pidana penjara, JPU menuntut kedua terdakwa membayar denda Rp100 juta dengan subsidair atau hukuman pengganti jika tidak membayar enam bulan kurungan. JPU juga menuntut kedua terdakwa membayar kerugian negara masing-masing Rp2,2 miliar. Apabila tidak membayar kerugian negara, maka harta benda dapat disita. Jika terdakwa tidak memilikinya harta membayar kerugian negara, maka dipidana masing-masing satu tahun tiga bulan penjara.
Jaksa penuntut umum menyatakan kedua terdakwa terbukti melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 Ayat (1) huruf a, b, Ayat (2) dan Ayat (3) UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo Pasal 20 huruf a, c, UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.
Berdasarkan fakta di persidangan, JPU menyatakan BGP Provinsi merupakan lembaga di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. BGP Provinsi Aceh bertugas mengembangkan dan memberdayakan guru pendidik, calon kepala sekolah, dan calon pengawas.
BGP Provinsi Aceh, kata JPU, pada 2022 menerima alokasi dana dari APBN mencapai Rp19,2 miliar, pada 2023 menerima dana Rp57,2 miliar, serta pada 2024 dengan alokasi sebesar Rp69,8 miliar.
"Anggaran tersebut digunakan untuk peningkatan kapasitas guru serta perjalanan dinas. Namun, dalam terjadi penggelembungan harga serta adanya penerimaan uang dari kegiatan tersebut oleh terdakwa," kata JPU.
JPU menyebutkan perbuatan terdakwa menyebabkan kerugian negara lebih dari Rp7 miliar. Kerugian negara tersebut berdasarkan laporan hasil pemeriksaan investigatif Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI.
"Kerugian negaranya tersebut dikonversikan dengan uang yang disita dari kedua terdakwa pada saat penyidik sebanyak Rp2,6 miliar, sehingga total kerugian negara sebesar Rp4,4 miliar. Kerugian negara ditanggung kedua terdakwa, masing-masing Rp2,2 miliar," kata JPU.
Kedua terdakwa dan penasihat hukumnya menyatakan akan mengajukan nota pembelaan secara tertulis. Majelis hakim melanjutkan persidangan pada Kamis (22/1) dengan agenda mendengarkan nota pembelaan kedua terdakwa.(antaranews.com)
Berita Banda Aceh
Terpidana Kasus Korupsi
Kasus korupsi dana guru
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
Korupsi Dana Pelatihan Guru
| Warga Aceh Polisikan Ade Armando dan Abu Janda, Ini Pemicunya |
|
|---|
| Jelang Penyesuaian JKA 1 Mei, Warga Ramai-ramai Urus Sanggahan Desil, Operator Gampong Kewalahan |
|
|---|
| Bikin Terenyuh! Seorang Ibu di Banda Aceh Terpaksa Telepon Polisi Ngaku KDRT Gegara Kelaparan |
|
|---|
| Validasi Data JKA Dikebut, Mualem: Sinkronisasi Penting untuk Layanan Kesehatan Masyarakat |
|
|---|
| Polresta Banda Aceh Sita 70 Ribu Batang Rokok Ilegal, Ciduk Dua Mahasiswa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kasus-korupsi-di-sabang_-2021-juni-4.jpg)