Sabtu, 18 April 2026

Sosok

Aktor Film "Noeh", Jejak Djamal Sharief  di Dunia Seni Peran

Di layar besar, seorang lelaki kurus dengan mata kosong terlihat terpasung. Dialah Ishak. Dan sosok yang menghidupkannya adalah Djamal Sharief.

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/instagram
Djamal Sharief berperan sebagai Ishak, seorang warga desa yang dianggap mengganggu ketenteraman kampung.  

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Malam itu halaman depan Rumah Sakit Jiwa Aceh dipenuhi manusia. Tak kurang dari seribu penonton tumpah, duduk bersila, berdiri, bahkan ada yang rela menonton dari balik pagar. 

Mereka datang untuk satu hal: menyaksikan pemutaran perdana film Noeh yang di sutradarai oleh Davi Abdullah. 

Di layar besar, seorang lelaki kurus dengan mata kosong terlihat terpasung. Dialah Ishak. Dan sosok yang menghidupkannya adalah Djamal Sharief.

Dalam rilis yang diterima Serambinews.com, Sabtu (14/2/2026), di film itu Djamal Sharief berperan sebagai Ishak, seorang warga desa yang dianggap mengganggu ketenteraman kampung. 

Razak dan Zikri memutuskan memasungnya. Namun Hasanah, Zulfan, dan kawan-kawannya mencoba melepaskan Ishak. 

Baca juga: RSJ Aceh Produksi Film Noeh, Rafly Kande Izinkan Lagunya Jadi Soundtrack Tanpa Minta Royalti

Dari situlah konflik mengalir. Peran itu tak sekadar akting bagi Jamal. Ia seperti membawa ingatan panjang tentang luka, stigma, dan kemanusiaan.

Perjalanan Djamal Sharief dalam film Noeh dan dunia seni bukan kisah instan. Ia memulainya sejak 1989. Saat itu, ia bergabung dengan Teater Kuala yang dipimpin oleh Yun Casalona, sosok legendaris seni pertunjukan Aceh. 

Yon adalah guru teater pertama bagi Jamal. Di bawah bimbingannya, Djamal Sharief muda belajar disiplin, olah tubuh, dan memahami panggung sebagai ruang kehidupan.

Tahun 1990 menjadi titik awal langkah profesionalnya. Ia mulai membintangi film dan aktif bersama Teater Kuala. Mereka rutin mementaskan drama remaja, bahkan setiap bulan mengisi siaran drama di TVRI Aceh. Selain itu, kelompok ini sering tampil di Taman Budaya Aceh.

Bagi Jamal, berkesenian bukan soal honor. “Kami tidak pernah mengejar bayaran,” begitu ia sering bercerita. Dana produksi yang ada disimpan, dan jika pertunjukan selesai, sisa uang dipakai makan bersama kru. Tawa dan kebersamaan menjadi bayaran paling berharga.

Semangat itu juga terlihat dari perjalanan fisiknya. Djamal Sharief mengisahkan, hampir setiap hari ia berjalan kaki dari Lampaseh menuju Taman Budaya. Uang ongkos angkot tidak ada. Tapi ia tak pernah absen latihan. Baginya, panggung lebih penting dari lelah.

Tahun 1990, ia tinggal bersama abangnya yang kuliah di ekonomi dan teknik mesin Universitas Syiah Kuala. 

Keluarganya sendiri berada di Matang Geulempang Dua. Ayahnya, Mohd Syarif, seorang anggota Brimob yang bertugas berpindah-pindah. 

Orang tuanya berasal dari Matang dan Buloh Blang Ara. Karena tugas sang ayah, keluarga sering berpindah, termasuk selama belasan tahun di Sumatra Barat.

Djamal Sharief lahir di Bukittinggi, akhir 1960-an, saat ayahnya bertugas di sana. Kini, ia tinggal di Aceh Besar, Kecamatan Kuta Baro, Desa Gue, bersama istri dan tiga anak laki-lakinya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved