Selasa, 21 April 2026

Berita Banda Aceh

Meugang Bukan Ajang Komersialisasi, Tapi Momentum Kepedulian Sosial

Khairul Rahmad, menyatakan bahwa meugang merupakan warisan budaya Aceh yang sarat nilai kebersamaan, silaturahmi, dan kepedulian terhadap sesama

Penulis: Muhammad Hadi | Editor: Amirullah
Serambinews.com
Ketua KAMMI Banda Aceh, Khairul Rahmad, S.Ag., menyampaikan keprihatinan atas pola pemadaman listrik yang berlangsung tidak proporsional di sejumlah wilayah Aceh pascabencana banjir dan longsor 

SERAMBINEWS.COM, Banda Aceh — Pengurus Wilayah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PW KAMMI) Aceh mengingatkan agar tradisi meugang tidak kehilangan makna sosialnya di tengah dinamika ekonomi menjelang Ramadhan.

PW KAMMI Aceh melalui Ketua Kebijakan Publik PW KAMMI Aceh, Khairul Rahmad, menyatakan bahwa meugang merupakan warisan budaya Aceh yang sarat nilai kebersamaan, silaturahmi, dan kepedulian terhadap sesama, bukan sekadar tradisi konsumsi.

“Meugang bukan hanya tentang menghadirkan hidangan daging di meja makan, tetapi tentang menghadirkan kebahagiaan di tengah keluarga dan masyarakat. Tradisi ini sejak dulu menjadi ruang berbagi, mempererat hubungan sosial, serta memastikan semua lapisan masyarakat dapat merasakan suasana menyambut bulan suci,” ujar Khairul Rahmad.

Menurutnya, semangat meugang justru bertentangan dengan praktik komersialisasi berlebihan yang dapat membebani masyarakat, terutama kelompok ekonomi lemah. Karena itu, seluruh elemen, mulai dari pedagang, distributor, pemerintah, dan masyarakat, diharapkan menjaga tradisi ini agar tetap berada dalam koridor nilai sosial dan keadilan.

“Kenaikan harga yang tidak wajar serta praktik mengambil keuntungan berlebihan berpotensi menggeser makna meugang dari tradisi kebersamaan menjadi beban sosial. Ini tentu bertolak belakang dengan semangat solidaritas yang menjadi ruh budaya Aceh,” tambahnya.

PW KAMMI Aceh juga mendorong agar momentum meugang dijadikan ruang memperkuat kepedulian sosial melalui berbagi dengan tetangga, kerabat, dan masyarakat kurang mampu. Nilai gotong royong dan empati sosial harus lebih menonjol daripada semangat konsumtif.

“Meugang adalah identitas sosial Aceh. Yang kita jaga bukan hanya tradisinya, tetapi maknanya sebagai jembatan silaturahmi dan kepedulian antarsesama,” tegasnya.

Ia menutup pernyataannya dengan menekankan,

“Meugang bukan tentang siapa paling banyak daging di meja, tapi siapa paling luas berbagi kebahagiaan.”

Baca juga: Sering Tak Sadar Dilakukan, 8 Kebiasaan Ini Bikin Berat Badan Naik Saat Ramadhan

Baca juga: Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 2026 di Kota Lhokseumawe Aceh, Ini Waktu Sahur dan Berbuka

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved