Breaking News
Sabtu, 25 April 2026

Banjir Landa Aceh Jaya

Mendagri Minta Bupati/Wali Kota Turun Temui Rumah Betul-betul Rusak, Data Usulkan Perbaikan

"Saya mengupdate dan juga melihat langsung kondisi dan saat ini akses jalan, akses komunikasi, mobilisasi logistik

|
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Nur Nihayati
SERAMBINEWS.COM/YUSMANDIN IDRIS/Yusmandin Idris
BERI KETERANGAN - Mendagri Tito Karnavian didampingi Wagub Aceh Fadhlullah saat memberikan keterangan di Desa Balee Panah, Juli, Bireuen, Sabtu (21/2/2026). SERAMBI/YUSMANDIN IDRIS 

Ringkasan Berita:
  • Mantan Kapolri menjelaskan bahwa di Aceh ada delapan kabupaten/kota yang masih menjadi atensi sekali dari pemerintah karena ada permasalahan terjadi di wilayah dataran rendah atau lowland.
  • Banjir membawa lumpur menimbun rumah, pemukiman, sawah, dan fasilitas umum.
  • "Saya mengupdate dan juga melihat langsung kondisi dan saat ini akses jalan, akses komunikasi, mobilisasi logistik awalnya rusak dan putus dampak banjir, 

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris I Bireuen 

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta bantuan Gubernur, Bupati, Wali Kota untuk turun melihat secara dekat dan temui rumah yang betul-betul rusak ekses bencana hydro metereologi.

Permintaan itu diutarakan Mendagri saat berkunjung melihat dan turut memberikan bantuan tali asih dari pemerintah pusat kepada warga korban banjir di Gampong Bale Panah, Kecamatan Juli, Sabtu (21/2/2026) sore.

Mantan Kapolri menjelaskan bahwa di Aceh ada delapan kabupaten/kota yang masih menjadi atensi sekali dari pemerintah karena ada permasalahan terjadi di wilayah dataran rendah atau lowland. 

Banjir membawa lumpur menimbun rumah, pemukiman, sawah,  dan fasilitas umum.

"Saya mengupdate dan juga melihat langsung kondisi dan saat ini akses jalan, akses komunikasi, mobilisasi logistik awalnya rusak dan putus dampak banjir, kini sudah berjalan lancar setelah dilakukan penanganan dari pemerintah," ujarnya.

Balee Panah - Mendagri bersama pengungsi korban banjir di Desa Balee Panah, Juli, Bireuen, Sabtu (21/2/2026). SERAMBI/YUSMANDIN IDRIS
Balee Panah - Mendagri bersama pengungsi korban banjir di Desa Balee Panah, Juli, Bireuen, Sabtu (21/2/2026). SERAMBI/YUSMANDIN IDRIS (SERAMBINEWS.COM/YUSMANDIN IDRIS/Yusmandin Idris)

Terkait adanya masyarakat korban banjir yang tidak masuk dalam pendataan, padahal rumah mereka terima lumpur dampak banjir seperti di Kecamatan Peusangan Bireuen tidak memenuhi kriteria menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dijelaskan juga bahwa BNPB awalnya menggunakan petunjuk pelaksana gempa bumi. 

"Saat saya datang ke Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, ada beberapa kepala daerah yang menyampaikan agar jangan pakai juklak dan formulir gempa karena saat ini yang terjadi bencana banjir bandang dan tanah longsor," paparnya dihadapan Wakil Gubernur Aceh Fadhullah dan pejabat terkait.

Sehingga sebagai Kasatgas dan juga Mendagri membuat Keputusan Menteri untuk tipelogi rumah rusak berat, rusak sedang dan rusak sedang berdasarkan kriteria banjir. 

"Tapi ada juga yang menanyakan kemarin, Pak rumah dia tidak kena banyak lumpur tetapi terkena hantaman kayu dan juga  kena batu seperti saya temukan di Tapanuli Tengah besar-besar sekali batu menghantam rumah," kisahnya.

Mendagri mengharapkan kepada para bupati dan wali kota apabila ada masyarakat belum masuk pendataan nanti bisa dimasukkan ke data susulan. 

"Sejak awal saya sudah menyampaikan kebijakan saya, jangan menunggu semua lengkap karena banjir ini terjadi secara sporadis dan pendataan juga menjadi sulit, beda dengan tsunami kejadian dalam satu hamparan pendataan lebih mudah," tuturnya.

Oleh karena itu jangan tunggu sampai semua data itu selesai, korban yang tinggal di tenda ini bertambah satu hari saja rasanya tidak enak mereka rasakan. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved