Medan
Isi Kuliah Umum di Unpri Medan, Irjen Marzuki: Aceh Daerah Aman di Sumatera
Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah kembali mengisi kuliah umum di perguruan tinggi. Kali ini, jenderal bintang dua...
Penulis: Indra Wijaya | Editor: Eddy Fitriadi
Ringkasan Berita:
- Marzuki Ali Basyah memberikan kuliah umum di Universitas Prima Indonesia, Medan.
- Dalam kuliah tersebut, Kapolda Aceh memaparkan peran kearifan lokal dalam menjaga keamanan serta penegakan hukum di Aceh.
- Ia juga mempromosikan Aceh sebagai daerah yang aman serta memiliki potensi sumber daya alam yang besar.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Indra Wijaya | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, MEDAN — Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah kembali mengisi kuliah umum di perguruan tinggi. Kali ini, jenderal bintang dua tersebut menjadi pemateri di Universitas Prima Indonesia (Unpri), Medan, Sumatera Utara, Kamis (12/3/2026).
Kuliah umum bertema “Local Wisdom dalam Merawat Kamtibmas dan Penegakan Hukum” itu berlangsung di aula lantai 10 kampus Unpri dan dihadiri sekitar seribu mahasiswa. Ini menjadi kali pertama Kapolda Aceh memberikan kuliah umum di Kota Medan, setelah sebelumnya menjadi pemateri di sejumlah perguruan tinggi di Aceh dan Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Marzuki turut mempromosikan Aceh sekaligus menyampaikan bahwa kondisi daerah tersebut semakin membaik setelah dilanda banjir beberapa waktu lalu.
“Aceh paling aman di Sumatera, Aceh tidak menakutkan,” kata Marzuki di hadapan para mahasiswa.
Ia berharap kondisi Aceh segera pulih sepenuhnya dan terus berkembang menjadi daerah yang lebih baik. Kuliah umum diawali dengan sesi interaktif. Kapolda mengundang beberapa mahasiswa naik ke panggung dan menanyakan apa yang mereka ketahui tentang Aceh. Setiap jawaban yang diberikan langsung mendapat hadiah dari Kapolda.
Sebagian besar mahasiswa menyebut Aceh sebagai daerah yang menerapkan Syariat Islam. Ada pula yang menanyakan bagaimana kepolisian di Aceh mensinergikan hukum nasional dengan kearifan lokal.
Menanggapi hal itu, Marzuki menjelaskan bahwa Aceh memiliki kekhususan dalam penerapan Syariat Islam yang diatur melalui Qanun Jinayah. Menurutnya, masyarakat Aceh sangat menghormati dan mematuhi ketentuan tersebut.
“Masyarakat Aceh sangat taat pada ketentuan Syariat Islam. Bahkan jika melanggar hukum Islam, hukuman cambuk pun mereka jalani. Hal tersebut merupakan bagian dari local wisdom yang ada di Aceh,” ujarnya.
Selain itu, ia juga memaparkan potensi sumber daya alam Aceh yang melimpah, mulai dari gas, minyak, emas hingga batu bara, serta kekayaan sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan keindahan alamnya.
Namun demikian, ia menyoroti adanya paradoks di Aceh.
“Sebagai daerah yang aman dan kaya, tetapi kenapa masih ada kemiskinan dan pengangguran. Di situlah perlunya rumusan yang tepat agar masyarakat Aceh bisa lebih sejahtera,” katanya.
Menurutnya, salah satu langkah yang ditempuh kepolisian adalah mensinergikan hukum nasional dengan kearifan lokal melalui visi Polda Aceh Meutuah menuju Aceh Meusyuhu. Konsep tersebut menekankan pendekatan kepolisian yang humanis, menghormati adat Aceh, serta memberdayakan perangkat adat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Jika Aceh aman dan nyaman, investor akan datang, ekonomi tumbuh, dan kesejahteraan masyarakat akan meningkat,” jelasnya.
Baca juga: Wali Nanggroe dan Kapolda Bahas Persoalan Aceh, Termasuk Soal Korban Banjir dan Kriminalitas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Marzuki-Ali-Basyah-mengisi-kuliah-umum-di-Universitas-Prima-Indonesia.jpg)