Berita Aceh Utara
Dewan Minta Pemerintah Hidupkan Usaha Garam Rebus, Temuan BRIN Kualitasnya Lebih Bagus
DPRK Aceh Utara minta pemerintah pusat dan daerah menghidupkan kembali usaha garam rebus tradisional yang rusak akibat banjir bandang akhir 2025.
Penulis: Jafaruddin | Editor: Saifullah
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Wakil Ketua Fraksi Karya Independen Amanat Sejahtera (KIAS) DPRK Aceh Utara, Fakhrurrazi, SIP meminta pemerintah daerah dan pusat memberi perhatian serius terhadap keberlangsungan usaha garam rebus tradisional di Aceh Utara.
Karena sentra produksi garam rebus di Aceh Utara di tiga desa, yakni Desa Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, serta Desa Matang Tunong dan Desa Kuala Cangkoi di Kecamatan Lapang, sudah hancur setelah diterjang banjir bandang besar pada akhir November 2025.
Kerusakan tersebut semakin memperburuk kondisi ekonomi masyarakat pesisir yang selama ini bergantung pada sektor kelautan dan perikanan.
Padahal berdasarkan hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa garam rebus yang diproduksi masyarakat memiliki kualitas lebih baik dibandingkan garam kerosok yang dihasilkan melalui proses penjemuran.
Fakhrurrazi yang juga Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Aceh Utara kepada Serambinews.com, Senin (16/3/2026), menyebutkan, usaha garam rebus merupakan warisan tradisi yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Samudera Pase.
Namun kini jumlah petani yang menekuni usaha tersebut semakin berkurang.
“Pemerintah harus hadir untuk menghidupkan kembali usaha garam rebus ini,” katanya.
“Selain memiliki nilai sejarah, hasil penelitian BRIN juga menunjukkan kualitasnya lebih bagus dan memiliki potensi ekonomi besar bagi masyarakat pesisir,” ujar Fakhrurrazi.
Hasil analisis laboratorium BRIN menunjukkan bahwa garam rebus Aceh memiliki kemurnian tinggi dan stabilitas yang baik untuk penggunaan jangka panjang.
Garam ini juga dinilai sangat cocok digunakan sebagai bahan utama pembuatan asam sunti, bumbu khas Aceh yang tidak dapat dibuat menggunakan garam biasa karena rentan menyebabkan pembusukan.
Tim peneliti BRIN juga menyebutkan garam rebus Aceh memiliki kandungan mikroba yang lebih sedikit dibandingkan garam kerosok hasil penjemuran.
Metode perebusan dinilai mampu meminimalkan potensi kontaminasi bakteri yang biasanya ditemukan pada lahan penjemuran terbuka.
Karena itu, Fakhrurrazi berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan sektor garam rakyat sekaligus mengembangkan potensi garam rebus sebagai produk unggulan daerah.
Menurutnya, jika mendapat dukungan fasilitas, teknologi, dan pemasaran yang memadai, garam rebus Aceh tidak hanya mampu meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir.
Tetapi juga dapat menjadi komoditas strategis yang berkontribusi terhadap kebutuhan garam konsumsi nasional.
Apalagi saat ini kebutuhan garam nasional mencapai hampir 5 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru mampu menyuplai sekitar 63 persen.(*)
garam rebus
garam rebus Aceh
garam rebus Aceh warisan abad ke-13
usaha garam rebus
BRIN
Aceh Utara
Serambi Indonesia
Serambinews.com
| Rehab Sawah Terdampak Banjir di Aceh Utara Dimulai, Tahap Awal Sasar 1.093 Hektare |
|
|---|
| Pemkab Aceh Utara Perpanjang Pendaftaran Komisaris dan Direktur Utama PT Bina Usaha |
|
|---|
| Tadzkiratul Ummah Aceh Safari Subuh di Masjid Syuhada Lhoksukon |
|
|---|
| Rumah Kayu di Dewantara Aceh Utara Ludes Terbakar |
|
|---|
| Sambangi Pasutri Miskin Tercatat Desil 8, Ketua PDI Perjuangan Aceh Utara: Perlu Validasi Ulang Data |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Fakhrurrazi-SIP-ketua-PAN-Aceh-Utara.jpg)