Banda Aceh
Pesan Presidium KAHMI Aceh, Intelektual Profetik Diperlukan untuk Kemajuan Aceh
Presidium Korps Alumni HMI (KAHMI) Aceh, Syaifullah Muhammad, menyampaikan bahwa peran intelektual profetik sangat penting...
Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Eddy Fitriadi
Ringkasan Berita:
- Presidium Korps Alumni HMI Aceh, Syaifullah Muhammad, menekankan pentingnya peran intelektual profetik dalam pembangunan.
- Ia mengajak alumni HMI menjaga independensi berbasis nilai tauhid sebagai landasan berpikir dan bertindak.
- Nilai tersebut dinilai mampu melahirkan kader yang berintegritas serta berkontribusi bagi kemajuan Aceh dan bangsa.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Muhammad Nasir I Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Presidium Korps Alumni HMI (KAHMI) Aceh, Syaifullah Muhammad, menyampaikan bahwa peran intelektual profetik sangat penting dalam proses pembangunan untuk memajukan Aceh dan Indonesia. Intelektual profetik memiliki fungsi mewariskan peran kenabian untuk melakukan transformasi sosial melalui kombinasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai nubuwah (kenabian), dengan dimensi sosial dan transendental.
Untuk itu, Syaifullah mengajak para alumni HMI, yang disebutnya sebagai penjaga nalar dan pemilik hati yang jernih dalam proses pembangunan bangsa, mereaktualisasikan kembali nilai independensi HMI yang bersumber pada tauhid.
Hal ini disampaikan Syaifullah dalam tausiah kebangsaan yang dilaksanakan oleh Korps Alumni HMI (KAHMI) Aceh, Jumat (13/3/2026), dalam rangkaian acara buka puasa bersama di Gedung Amel Convetion Hall, Banda Aceh, yang dihadiri lebih dari 300 anggota KAHMI Aceh.
Dalam orasinya yang memukau selama 30 menit, Syaifullah membedah nilai independensi HMI yang mengharuskan setiap kader untuk tidak memiliki pemihakan kecuali pada kebenaran. Seorang kader HMI tidak boleh tunduk pada kekuatan apa pun, kecuali pada nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari Allah SWT yang diwariskan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Baca juga: Presidium KAHMI Aceh Ajak Kader dan Alumni Untuk Terus Memberi Kebaikan Bagi Bangsa dan Negara
Kalimat tauhid, Laa ilaha illallah, memiliki makna peniadaan dan pengecualian, makna negasi dan afirmasi. Meniadakan semua yang ditakuti, semua yang dicintai, semua yang membelenggu, dan semua yang membuat tidak berdaya. Laa ilaha adalah deklarasi kebebasan setiap muslim. Illallah mengecualikan semua kebebasan tersebut pada satu-satunya keterikatan, yaitu kepada Allah. Tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada yang ditakuti selain Allah, tidak ada yang dicintai kecuali Allah, tidak ada yang membelenggu kecuali Allah, kecuali nilai-nilai kebenaran dari Allah melalui Rasulullah Muhammad SAW. Nilai inilah yang menjadi sumber bagi independensi HMI, urai Syaifullah.
"Melalui nilai independensi yang bersumber dari tauhid ini, dipadukan dengan karakter akademis, pencipta, dan pengabdi dalam tujuan HMI, akan menjadikan kader tangguh tanpa kenal menyerah; menjadi intelektual profetik yang mampu menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, serta hilirisasi untuk transformasi sosial, kemajuan daerah, dan bangsa dengan tetap mencerminkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dari ajaran Nabi," jelas Syaifullah, yang juga merupakan Direktur Bisnis dan Kepala ARC Nilam Universitas Syiah Kuala (USK).
"Tauhid dan independensi akan mencegah kader HMI menjadi sekadar intelektual tukang yang menjalankan program apa adanya dengan indikator fisik, namun tidak memiliki ruh dan gersang secara spiritual," lanjut Syaifullah meyakinkan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Syaifullah-dalam-tausiah-kebangsaan-yang-dilaksanakan-oleh-Korps-Alumni-HMI-Aceh.jpg)