Rabu, 8 April 2026

Ancaman Lubang Raksasa Ketol

Bukan Sinkhole, tapi Longsor Progresif

Prof Nazli Ismail, menegaskan bahwa fenomena di Ketol bukanlah sinkhole, melainkan longsor progresif yang terjadi akibat ketidakstabilan

Editor: mufti
for serambinews/KORAN SERAMBI INDONESIA
PROF NAZLI ISMAIL, Pakar Kebencanaan USK 

LUBANG raksasa di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, selama ini kerap disebut sebagai sinkhole. Bentuknya yang menganga, tanah yang tiba-tiba runtuh, serta perluasan yang cepat membuat banyak orang mengaitkannya dengan fenomena runtuhan tanah akibat rongga bawah permukaan. Namun, para ahli menilai anggapan tersebut tidak tepat.

Pakar Kebencanaan dan Ahli Geofisika Universitas Syiah Kuala, Prof Nazli Ismail, menegaskan bahwa fenomena di Ketol bukanlah sinkhole, melainkan longsor progresif yang terjadi akibat ketidakstabilan lereng dan karakter material tanah yang lemah.

Menurutnya, sinkhole umumnya terjadi di kawasan karst yang tersusun dari batuan karbonat seperti batu gamping. Pelarutan batuan tersebut membentuk rongga di bawah tanah yang kemudian runtuh secara tiba-tiba. Kondisi geologi di Ketol berbeda.

“Di Ketol tidak terdapat batuan karbonat. Material utama penyusun tanah berupa tufa vulkanik atau batuan piroklastik yang berpori dan ringan,” jelas Prof Nazli.

Material tufa tersebut bersifat gembur, belum terkonsolidasi sempurna, serta memiliki daya ikat yang rendah. Ketika menyerap air hujan dalam jumlah besar, tanah menjadi jenuh dan kehilangan kekuatan. Dalam kondisi seperti itu, massa tanah mudah bergerak dan runtuh secara bertahap.

Pergerakan tersebut tidak selalu terjadi secara tiba-tiba. Dalam banyak kasus, longsor progresif berlangsung perlahan, kemudian semakin cepat ketika dipicu faktor eksternal seperti hujan ekstrem. Hal inilah yang disebut terjadi di Ketol.

“Dulu masih perlahan-lahan, setelah curah hujan tinggi pada akhir tahun lalu, longsorannya menjadi lebih parah dan cepat sampai sekarang,” ujar Prof Nazli.

Curah hujan tinggi pada November 2025 disebut menjadi salah satu pemicu utama percepatan pergerakan tanah. Air yang meresap ke dalam lapisan tufa membuat struktur tanah melemah. Semakin banyak air tersimpan, semakin kecil daya ikat antarpartikel tanah.

Kondisi itu diperparah oleh perubahan aliran air di permukaan serta beban aktivitas di atas lereng. Kombinasi faktor-faktor ini membuat longsor tidak hanya terjadi di satu titik, tetapi berpotensi merambat ke area sekitarnya.

Retakan yang mulai muncul di sekitar zona longsoran menjadi indikator penting. Retakan tersebut menunjukkan bahwa massa tanah di sekeliling lubang juga mulai kehilangan kestabilan. Jika tidak dikendalikan, batas longsoran dapat terus meluas.

“Jika tidak dikendalikan, batas longsoran dapat terus meluas, memperluas lubang dan mengancam area yang sebelumnya dianggap aman,” ungkapnya.

Potensi ekspansi ini dinilai tinggi, terutama ke arah samping pada lereng yang curam. Sifat material tufa yang homogen dan lemah membuat longsoran di satu titik mudah memicu longsoran berikutnya. Dalam kondisi tertentu, longsor lambat bahkan bisa berubah menjadi lebih cepat secara lokal.

Pentingnya Mitigasi

Aceh sendiri berada di kawasan iklim tropis basah dengan intensitas hujan tinggi sepanjang tahun. Kondisi ini membuat risiko pergerakan tanah semakin besar. Tanpa upaya mitigasi, fenomena yang terjadi di Ketol dapat berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

Pakar juga menekankan pentingnya pengendalian air sebagai faktor utama. Sistem drainase permukaan dan bawah tanah perlu dibangun untuk mengurangi infiltrasi air ke tubuh lereng. Dengan menurunkan kandungan air, kestabilan tanah dapat ditingkatkan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved