Berita Bireuen
Empat Bulan Vakum, Sekolah Keluarga Blang Mee Aktif Kembali
Pada Selasa (14/04/2026), kegiatan memasuki pertemuan ke-5 yang dilaksanakan di Gampong Blang Mee, Kecamatan Kutablang
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Subur Dani
Ringkasan Berita:
- Sekolah Keluarga di objek wisata Paya Nie, Blang Mee kembali aktif setelah empat bulan terhenti akibat banjir.
- Program kolaborasi antara PT Pupuk Iskandar Muda, Umuslim, Pemkab Bireuen, dan PKK ini bertujuan memperkuat ketahanan keluarga menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan bencana.
- Pertemuan kelima menghadirkan Dr. Cut Azizah dan Naufal Azhima sebagai narasumber, dengan fokus pada kesiapsiagaan bencana dan komunikasi harmonis dalam keluarga.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris I Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN - Setelah empat bulan vakum karena dampak banjir, sekolah keluarga di objek wisata Paya Nie, Blang Mee, Selasa (14/4/2026) aktif kembali.
Para kaum ibu desa Blang Mee kembali berkumpul mengikuti pembelajaran perkuat ketahanan keluarga dan kesiapsiagaan bencana.
Dr Cut Azizah dari Umuslim mengatakan, program Sekolah Keluarga yang merupakan hasil kolaborasi PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), Umuslim, Pemerintah Kabupaten Bireuen, dan Tim Penggerak PKK terus berlanjut.
Baca juga: Bupati Jawab Pandangan Fraksi di Rapat Paripura DPRK Bireuen
Pada Selasa (14/04/2026), kegiatan memasuki pertemuan ke-5 yang dilaksanakan di Gampong Blang Mee, Kecamatan Kutablang.
Program ini merupakan bagian dari upaya bersama dalam memperkuat ketahanan keluarga menghadapi tantangan sosial, ekonomi, serta risiko bencana hidrometeorologi yang semakin meningkat.
Pada pertemuan menghadirkan Dr. Cut Azizah, dosen Umuslim serta Naufal Azhima dari Generasi Berencana (GenRe) Kabupaten Bireuen sebagai narasumber.
Dalam materinya, Dr. Cut Azizah mengangkat tema pembelajaran dari banjir bandang sebagai dasar membangun keluarga siaga dan tangguh.
Baca juga: SMA dan SMK di Bireuen Dilarang Gelar Perpisahan dan Tur Keluar Daerah
Ia menekankan bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam mitigasi bencana, terutama dalam mengenali tanda-tanda awal dan melakukan langkah pencegahan.
“Banjir bandang tidak terjadi tiba-tiba tanpa tanda. Keluarga harus mampu membaca kondisi lingkungan dan memahami risiko yang ada di sekitarnya,” ujarnya.
Baca juga: Truk Bawa Barang Kelontong Terbalik di Lhokseumawe, Begini Kronologisnya
Materi ini juga menekankan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga.
Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan di tingkat rumah tangga, seperti meningkatkan kesadaran lingkungan dan kesiapan menghadapi kondisi darurat.
Sementara itu, materi kedua yang disampaikan oleh perwakilan GenRe Bireuen menitikberatkan pada pentingnya hubungan harmonis antara orang tua dan anak dalam membangun ketahanan keluarga.
Pendekatan komunikasi yang terbuka dan saling percaya dinilai menjadi kunci dalam menghadapi tantangan generasi saat ini.
Baca juga: Warga Temukan Mayat di Sungai Krueng Peusangan-Bireuen, Begini Kronologisnya
Konsep “anak menjadi sahabat orang tua dan orang tua menjadi sahabat anak” diperkenalkan sebagai strategi membangun komunikasi yang sehat, sehingga anak memiliki ruang aman untuk berbagi dan terhindar dari pengaruh negatif lingkungan.
| Bupati Jawab Pandangan Fraksi di Rapat Paripura DPRK Bireuen |
|
|---|
| SMA dan SMK di Bireuen Dilarang Gelar Perpisahan dan Tur Keluar Daerah |
|
|---|
| Mahasiswa UNIKI Bireuen Hibur Anak Pengungsi Banjir di Ketol Aceh Tengah |
|
|---|
| Warga Temukan Mayat di Sungai Krueng Peusangan-Bireuen, Begini Kronologisnya |
|
|---|
| Terungkap Identitas Mayat Ditemukan Mengapung di Krueng Peusangan, Ternyata Seorang Sopir |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/SEKOLAH-KELUARGA-BIREUEN-20260415.jpg)