Jumat, 17 April 2026

Mihrab

Khutbah Jumat di Aceh Besar - Ustaz Mursalin: Ibadah Haji Ajarkan Persatuan Tanpa Perbedaan

persaudaraan yang dimaksudkan bukan menurut ikatan keturunan belaka tetapi lebih pada ikatan iman dan agama dalam universalitas bangsa-bangsa dunia.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Dosen STAI Tgk Chiek Pante Kulu Banda Aceh, Ustaz Mursalin Basyah Lc MAg 

Khutbah Jumat di Aceh Besar - Ustaz Mursalin: Ibadah Haji Ajarkan Persatuan Tanpa Perbedaan

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Ibadah haji adalah aktualisasi pembuktian semangat ukhuwah islamiah, tidak hanya dalam bentuk jiwa, tapi juga raga karena telah dipertemukan oleh Allah dalam satu tempat, maksud dan tujuan yang sama. 

Ibadah haji dikerjakan dengan bacaan yang sama hingga pakaian ihram yang sama pula. 

Tak ada juga perbedaan suku, ras, warna kulit, bahasa, pangkat, kedudukan dan sebagainya, semua harus menunaikan ibadah haji dengan ketentuan-ketentuan yang sama. 

Dosen STAI Tgk Chiek Pante Kulu Banda Aceh, Ustaz Mursalin Basyah Lc MAg menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Besar Al Jihad Kecamatan Montasik, (17/4/2026), bertepatan dengan 28 Syawal 1447 Hijriah. 

Ia menguraikan lebih lanjut, dari semangat ukhuwah ini, kaum muslimin seharusnya semakin menyadari bahwa seorang haji semestinya lebih hebat semangat ukhuwah dalam upaya menegakkan agama Allah di muka bumi ini.

Ibadah haji memiliki dimensi persatuan yang luar biasa dan sangat aktual. Pada pelaksanaan ibadah itu, seluruh umat Islam di dunia bersatu, beribadah bersama, dengan niat yang sama. 

Ini membuktikan, persatuan di tubuh umat Islam bukan perkara mustahil. Spirit yang terus melekat di tengah umat Islam ini, terutama dalam momen ibadah haji, menjadi modal kuat untuk merajut persatuan.

Menurutnya, persaudaraan yang dimaksudkan bukan menurut ikatan keturunan belaka tetapi lebih pada ikatan iman dan agama dalam universalitas bangsa-bangsa dunia. 

Persaudaraan dan persatuan ini juga bukan eksklusif internal satu aliran dan madzhab, tetapi universal dalam lintas batas madzhab. 

“Perbedaan madzhab boleh saja terjadi dan memang tidak dapat dihindari, namun yang terpenting perbedaan itu tidak membuat bercerai-berai,” tegasnya. 

Perbedaan itu justru diharapkan menjadi rahmat sebagaimana dikatakan hadits atau atsar, bukan menjadi adzab. 

Perbedaan yang menjadi rahmat ini diharapkan terjalin sebagai jaringan sosial yang saling bersinergi. 

“Betapa indah, ketika kita menemukan keharmonian yang sempurna dalam tubuh ummat ini. Saling mengasihi, saling tolong menolong dan saling menguatkan satu sama lain. Bersama dan larut dalam duka dan suka saudara-saudara seiman,” ujar Ustaz Mursalin. 

Pada bagian lain khutbahnya, Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh ini menjelaskan, menunaikan ibadah haji yang merupakan rukun Islam terakhir dambaan bagi  setiap muslim. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved