Sabtu, 25 April 2026

Berita Banda Aceh

Pakar Arsitek Dunia Belajar soal Bencana ke Aceh, Menteri Ekraf RI Buka Konferensi Internasional DR3

Menteri Ekraf dalam pidatonya menegaskan, pentingnya konferensi ini bagi daerah yang rentan bencana, khususnya Aceh

Penulis: Sara Masroni | Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/m anshar
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya memukul gong saat membuka Konferensi Internasional tentang Bencana Alam dan Bencana Buatan Manusia di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Jumat (17/4/2026). 

Ringkasan Berita:Konferensi internasional DR3 tentang arsitektur dan pengurangan risiko bencana dibuka Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya di Hermes Palace Hotel, menghadirkan pakar dunia
 
Ketua IAI Georgius Budi Yulianto menilai Aceh sebagai “laboratorium bencana dunia” yang menjadi tempat belajar mitigasi dan rekonstruksi pascabencana.
 
Acara di Banda Aceh ini dihadiri berbagai tokoh termasuk Ridwan Kamil dan berlangsung hingga 19 April 2026.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Sara Masroni | Banda Aceh 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) RI, Teuku Riefky Harsya membuka konferensi internasional tentang Bencana Alam dan Bencana Buatan Manusia atau International Conference on Natural & Human Disaster 2026, Rethinking Architecture: Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3).

Acara ini diselenggarakan Organisasi Arsitek Dunia (UIA) melalui program kerja Natural and Human Disasters, bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) & Arcasia Emergency Architects (AEA), serta didukung oleh Kementerian Ekraf RI, di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Jumat (17/4/2026).

Menteri Ekraf dalam pidatonya menegaskan, pentingnya konferensi ini bagi daerah yang rentan bencana, khususnya Aceh.

 “Apa yang dilakukan hari ini sesuatu yang sangat penting, bersyukur konferensi internasional ini melibatkan pakar arsitek dunia, dan dilakukan di Aceh, tentu sangat berharga,” ujar Riefky.  

Baca juga: Ahmad Doli: Pengelolaan Otsus Aceh Harus Ada Perencanaan Matang

Menurutnya, bencana merupakan tantangan laten yang tidak hanya dihadapi Indonesia, tetapi juga dunia.

Untuk itu, Aceh dan umumnya Indonesia sebagai tuan rumah untuk pertama kalinya, menjadi kebanggaan tersendiri. 

“Apresiasi dan terima kasih kepada organisasi internasional seperti UIA, AEA, dan IAI yang mendukung berlangsungnya kegiatan ini,” ucap Teuku Riefky.  

Menteri Ekraf itu juga menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung subsektor ekonomi kreatif arsitektur. 

Pemerintah, akademisi, asosiasi, media, dan dunia usaha harus terus dirajut dalam ekosistem arsitektur Indonesia. 

Ia memastikan Kementerian Ekraf akan terus berkomunikasi dengan IAI yang memiliki 36 chapter kepengurusan di seluruh Indonesia.  

Sementara Ketua Umum IAI, Georgius Budi Yulianto menegaskan, mitigasi kebencanaan menjadi program nasional yang dipersiapkan secara serius. 

Ia menyebut, Aceh sebagai lokus kegiatan karena pengalaman lengkap menghadapi berbagai bencana

“Aceh itu supermarket bencana, mulai dari tsunami, gempa bumi, banjir, hingga longsor. Pesan pentingnya, Aceh resilien dan mampu bangkit, ini testimoni bagi dunia,” katanya.  

Baca juga: Update Harga Emas di Banda Aceh Hari Ini 17 April 2026, Naik atau Turun per Mayam?

Ketum IAI itu menambahkan, arsitektur adalah produk peradaban yang berperan membangun kembali kehidupan setelah bencana

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved