Senin, 20 April 2026

Berita Banda Aceh

Ridwan Kamil jadi ‘Tour Guide’ di Museum Tsunami Aceh

Kang Emil itu berperan langsung sebagai pemandu wisata (tour guide) bagi para tamu internasional yang merupakan arsitek dari berbagai negara

|
Editor: mufti
for serambinews/SERAMBI/HENDRI
KUNJUNGIN MUSEUM TSUNAMI - Mantan Gubernur Jawa Barat yang juga perancang Museum Tsunami, Ridwan Kamil atau yang akrab dikenal Kang Emil mendampingi peserta dari Persatuan Arsitek Internasional atau Union Internationale des Architectes (UIA) saat kunjungi Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh, Sabtu (18/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Mantan Gubernur Jawa Barat yang juga perancang Museum Tsunami Aceh Ridwan Kamil tampil menjadi pemandu wisata bagi para tamu internasional
  • Ridwan Kamil memandu rombongan menyusuri setiap sudut museum, mulai dari lantai dasar hingga rooftop
  • Aimee Roslan, mengaku cukup senang karena kunjungannya ke Museum Tsunami Aceh dipandu langsung oleh arsitek museum

“Saya mendesain ratusan bangunan, tapi yang membuat saya meneteskan air mata hanya saat mendesain museum ini. Karena di baliknya ada begitu banyak kenangan dan korban.” Mochamad Ridwan Kamil, Perancang Museum Tsunami Aceh 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Mantan Gubernur Jawa Barat yang juga perancang Museum Tsunami Aceh, Ridwan Kamil (RK), tampil tak biasa saat mengunjungi Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Sabtu (18/4/2026). 

Kali ini, pria yang akrab disapa Kang Emil itu berperan langsung sebagai pemandu wisata (tour guide) bagi para tamu internasional yang merupakan arsitek dari berbagai negara.

Dengan gaya santai mengenakan kaos cokelat polos dan celana kasual, Ridwan Kamil memandu rombongan menyusuri setiap sudut museum, mulai dari lantai dasar hingga rooftop. Ia menjelaskan secara detail konsep desain, filosofi ruang, hingga makna di balik setiap elemen bangunan yang ia rancang.

Diketahui, kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Persatuan Arsitek Internasional atau Union Internationale des Architectes (UIA) melalui program kerja Natural and Human Disasters yang menggelar konferensi internasional bertajuk International Conference on Natural & Human Disaster 2026: Rethinking Architecture – Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3) di Banda Aceh. 

Dalam agenda itu, para peserta dijadwalkan meninjau langsung Museum Tsunami Aceh sebagai salah satu contoh arsitektur yang lahir dari tragedi, namun berfungsi sebagai ruang edukasi dan refleksi.

Kang Emil menyebut, museum yang mulai dirancang pada 2007 dan diresmikan pada 2009 tersebut kini telah berusia sekitar 17 tahun. Dalam kesempatan itu, ia pun berbagi cerita tentang proses kreatif sekaligus emosional saat merancang bangunan yang terinspirasi dari tragedi tsunami Aceh 2004.

“Saya mendesain ratusan bangunan, tapi yang membuat saya meneteskan air mata hanya saat mendesain museum ini. Karena di baliknya ada begitu banyak kenangan dan korban,” ungkapnya.

Di bawah panduannya, para arsitek dunia tampak tak hanya mengagumi struktur bangunan, tetapi juga larut dalam suasana yang dihadirkan museum. Beberapa di antaranya bahkan terlihat terharu saat menyaksikan visual dan narasi yang menggambarkan dahsyatnya tsunami 2004.

Kang Emil, mengaku bahagia melihat museum tersebut kini ramai dikunjungi, terutama oleh kalangan pelajar. Menurutnya, antusiasme generasi muda dalam mempelajari sejarah bencana menjadi kunci untuk membangun masa depan yang lebih siap dan tangguh. 

“Saya bahagia, ramai sekali, khususnya di hari weekend. Tadi saya lihat ada banyak sekali anak-anak sekolah yang belajar. Dengan belajar kita bisa memahami dan menyiapkan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Kang Emil berharap kepada pengelola dan masyarakat agar tetap menjaga kualitas dan “roh” desain museum tersebut. “Mudah-mudahan (pengelola) tetap profesional, dirawat dengan baik, diedukasi dengan baik. Konten-kontennya saya kira sangat baik. Kalau ada renovasi, ya ngobrol dulu, biar jangan punya ide sendiri, karena roh dari desain ini harus tetap kita jaga,” pungkasnya.(ra)

Mengenang Kembali Memori

Sementara Ketua Penyelenggara DR3 Aceh 2026 sekaligus Ketua Region IV (Asia dan Oceania) UIA Natural and Human Disasters Work Programme, Aimee Roslan, mengaku cukup senang karena kunjungannya ke Museum Tsunami Aceh dipandu langsung oleh arsitek museum tersebut. 

Ia menyebut, kunjungan lapangan ini menjadi bagian penting dari konferensi untuk mengingat kembali tragedi tsunami Aceh 2004 sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana.

“Tujuan kunjungan ini untuk memahami apa yang terjadi saat tsunami 2004, kemudian melihat langkah-langkah yang telah dibuat oleh pemerintah daerah dan pusat untuk mengantisipasi jika bencana serupa terjadi lagi,” ujarnya.

“Jadi kunjungan ini juga untuk mengenang kembali memori dan memberikan kesadaran bagi kita semua bahwa inilah yang terjadi bila bencana melanda,” ungkap Aimee.(ra)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved