Rabu, 22 April 2026

Berita Nagan Raya

DPP ACTION dan Museum Susoh Telusuri Jejak Peradaban di Puloe Ie Nagan Raya

Penelitian ini juga menguatkan keterkaitan antara jaringan ulama tarekat dengan gerakan perlawanan rakyat Aceh

Penulis: Masrian Mizani | Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
ZIARAH SEJARAH - Tim ACTION mengukur makam Cut Wan di Puloe Ie, Kabupaten Nagan Raya, pada 18 April 2026. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Masrian Mizani I Aceh Barat Daya 

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Dewan Pimpinan Pusat Aceh Culture and Education (DPP ACTION) bersama Museum Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) melaksanakan penelitian lapangan sekaligus ziarah sejarah ke kawasan Puloe Ie, Kabupaten Nagan Raya, pada 18 April 2026. 

Kegiatan ini difokuskan pada penelusuran jejak peradaban melalui situs makam Habib Seunagan dan komplek makam kuno Cut Wan.

Rombongan tim yang terdiri dari unsur DPP ACTION dan Museum Susoh disambut langsung oleh keluarga besar Habib Seunagan, Teuku Zuhrial Fadlul Aziz yang juga menjabat sebagai Ketua DPW ACTION Nagan Raya. 

Dalam tim itu turut hadir tin penelitian, Teuku Ilham Apriliansyah, Sayyid Habiburrahman, Assauti Wahid, Gunaji Purnomo, serta Teuku Halfi Hamdillah, yang merupakan cicit dari Teuku Ben Seunagan.

Habib Seunagan, yang memiliki nama lengkap Sayyid Abdurrahim bin Sayyid Abdul Qadir, dikenal sebagai tokoh utama penyebar Tarekat Syattariyah di wilayah Seunagan. 

Dengan gelar Qutbul Wujud, ia menempati posisi penting dalam tradisi tasawuf Aceh dan menjadi poros spiritual yang berpengaruh di Pantai Barat Selatan.

Baca juga: CJH Nagan Raya Ikut Pemantapan Manasik Haji di Mako Brimob Batalyon C Pelopor

Silsilah perjuangannya berlanjut melalui putranya, Habib Muhammad Yasin (Teungku Padang Siali), hingga cucunya, Habib Muda Seunagan (Sayyid Muhammad Muhyiddin/Abu Peuleukung), yang dikenal sebagai tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan sekaligus penyebaran tarekat.

Penelitian ini juga menguatkan keterkaitan antara jaringan ulama tarekat dengan gerakan perlawanan rakyat Aceh. 

Dalam literatur sejarah, termasuk catatan tentang perjuangan Teuku Bentara Mahmud Setia Raja, disebutkan bahwa pada Oktober 1899 seorang tokoh bernama Habib Seunagan pernah diangkat sebagai panglima dalam pasukan gerilya di wilayah Meukek.

Pasukan tersebut sempat menguasai kawasan pegunungan Dama Tutong sebelum akhirnya diserang oleh patroli Belanda di bawah pimpinan Letnan Habraken dan Sersan Zasiman.

Namun demikian, tim peneliti mencatat adanya kemungkinan perbedaan identitas tokoh. Hal ini karena Habib Seunagan bergelar Qutbul Wujud diketahui telah wafat sebelum tahun 1894. 

Dengan demikian, figur yang memimpin pasukan pada 1899 diduga merupakan generasi penerus dalam jaringan tarekat, seperti Teungku Padang Siali atau tokoh lain dalam garis keturunan tersebut.

Dalam catatan orientalis Belanda, Habib Seunagan disebut wafat secara damai beberapa tahun sebelum 1894 dan sebelumnya dikenal sebagai Teungku Peunado, merujuk pada asalnya dari wilayah Pidie. 

Meski demikian, pengaruh spiritualnya terus berlanjut dan menjadi fondasi dalam membangun semangat perlawanan masyarakat.

Keterkaitan antara kekuatan spiritual dan perjuangan fisik ini memperlihatkan bahwa ulama tarekat tidak hanya berperan dalam dakwah.

Tetapi juga dalam menggerakkan resistensi terhadap kolonialisme, termasuk dalam jaringan perjuangan yang melibatkan Teuku Ben Mahmud.

Makam Kuno dan Indikasi Peradaban Abad ke-17

Selain ziarah ke makam Habib Seunagan, tim juga melakukan observasi dan pendataan terhadap sejumlah kompleks pemakaman kuno di kawasan tersebut.

Salah satu yang menjadi fokus adalah makam Cut Wan yang telah diidentifikasi sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) oleh Balitbang ACTION.

Komplek makam ini memiliki tipologi nisan khas Aceh Darussalam abad ke-17, yang menunjukkan kuatnya pengaruh peradaban Islam klasik di wilayah ini. 

Selain itu, ditemukan pula dua makam lain yang berasal dari abad ke-18 dan ke-19, menandakan kesinambungan tradisi pemakaman lintas generasi.

Tim juga menemukan situs lain di kawasan “Batee Meuraksa” dengan karakteristik nisan serupa. 

Baca juga: Museum Indrapurwa Resmi Beroperasi, Jadi Pusat Edukasi dan Pelestarian Sejarah

Temuan ini tergolong baru di wilayah Nagan Raya dan mengindikasikan bahwa kawasan tersebut telah menjadi pusat permukiman sejak sekitar abad ke-17 atau tahun 1600-an.

Menguatkan Identitas Sejarah Pantai Barat Selatan

Ketua DPP ACTION, Aris Faisal Djamin, menyatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ziarah, tetapi bagian dari upaya ilmiah untuk memperkuat identitas sejarah daerah.

“Jejak Habib Seunagan sebagai ulama tarekat sekaligus figur yang terkait dengan jaringan perjuangan, serta keberadaan makam kuno seperti Cut Wan, menunjukkan bahwa Nagan Raya memiliki akar peradaban yang kuat dan tua. Ini penting untuk memperkuat identitas sejarah daerah,” kata Aris Faisal Djamin, dalam rilisnya, Minggu (19/4/2026).

Ia menambahkan, hasil penelitian ini akan ditindaklanjuti melalui proses pendataan, kajian arkeologis, serta dorongan untuk penetapan status cagar budaya.

Setelah menyelesaikan kegiatan penelitian di Puloe Ie, tim melanjutkan perjalanan ke Aceh Barat dan disambut oleh Ketua DPW ACTION Aceh Barat, Mukhsin. 

Kegiatan dilanjutkan dengan silaturahmi bersama anggota SKPP Aceh Barat sebelum rombongan kembali ke Kabupaten Abdya.

Penelitian ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi kajian lanjutan dalam bidang sejarah, arkeologi, dan studi keislaman, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan merawat warisan leluhur.

"Dengan temuan ini, Puloe Ie tidak hanya menjadi destinasi ziarah, tetapi juga situs penting dalam membaca kembali narasi besar peradaban dan perjuangan Aceh di masa lalu," pungkasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved