Berita Banda Aceh
Pedagang dan Pengusaha Warkop Keluhkan Kenaikan Gas: Kita Terpaksa ‘Putar Otak’
Pedagang gas dan pelaku usaha warkop di Banda Aceh mengeluhkan kenaikan harga gas 5,5 kg dan 12 kg.
Penulis: Sara Masroni | Editor: Saifullah
Ringkasan Berita:
- Pedagang gas dan pelaku usaha warkop di Banda Aceh mengeluhkan kenaikan harga gas 5,5 kg dan 12 kg.
- Dampaknya, mereka terpaksa menaikkan harga minuman dan mengecilkan porsi makanan demi menutup biaya.
- Jika harga terus naik, sebagian pedagang mempertimbangkan alternatif bahan bakar selain gas untuk usaha mereka.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Sara Masroni | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Pedagang eceran gas hingga pelaku usaha makanan dan warung kopi (warkop) mengaku harus ‘putar otak’ di tengah kenaikan harga gas.
Kondisi tersebut seperti terpantau di kawasan Darussalam, Banda Aceh.
Salah seorang penjual gas, Widya (47), bercerita, dalam tiga hari terakhir terpaksa menjual gas 5,5 kg, dengan harga Rp 120.000 per tabung, dari yang sebelumnya Rp 115.000/tabung.
Sementara gas 12 kg dijual seharga Rp 250.000 per tabung, dari sebelumnya Rp 220.000/tabung.
“Tadi pagi bahkan ada pembeli yang kaget karena harga gas 12 kg naik tinggi, sampai tak jadi beli,” ungkap Widya saat ditemui Serambinews.com, Selasa (21/4/2026).
Meski demikian, gas subsidi (melon) 3 kg, menurutnya, belum mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir, dan masih di harga eceran pada umumnya.
Di sisi lain, pedagang nasi ayam geprek sekaligus penjaga warkop, Sandi (42), mengaku, kenaikan gas sangat berdampak terhadap usahanya.
Baca juga: Fakta Ini Bikin Melongo! Kesaksian WNI di Iran Selama Perang: Tagihan Listrik hingga Gas Tetap Murah
“Jadi, jangan heran kalau ukuran ayam gepreknya nanti makin kecil, gas naik sangat berdampak untuk kita para pedagang,” ucap Sandi.
Kemudian untuk warkop, pihaknya terpaksa menaikkan harga minuman sachet Rp 1.000 lebih mahal untuk semua jenis.
Meski demikian, untuk kopi saring, menurutnya, sulit menaikkan harga mengingat ketatnya kompetitor dan perang harga di lingkungan setempat.
“Harus putar otak ini, misal Cappucino panas yang biasa kita jual Rp 5.000 per gelas, terpaksa jadi Rp 6.000,” ungkap Sandi.
Menurutnya, bila harga masih naik seperti saat ini dalam dua pekan ke depan, pihaknya terpaksa mencari alternatif selain gas.
“Sebab gas ini pengaruh kali ke usaha kita, tidak bisa dimainkan, apalagi untuk warkop yang buka siang malam,” keluh Sandi.
Baca juga: Update Harga Gas LPG Isi Ulang 12 Kg dan 5,5 Kg pada 1 April 2026, Gas Melon 3 Kg Dijual Segini
“Kalau begini terus dalam dua minggu ke depan, mungkin beralih ke oli bekas pakai alat pembakaran khusus yang pernah kita pakai beberapa waktu lalu saat putus gas,” pungkasnya.(*)
| Mahasiswa UBBG Dilatih Menggunakan Aplikasi Bintang Pusnas |
|
|---|
| Sejumlah Daerah di Sumut Bantu Bencana Aceh, Hibahkan TKD Ratusan Miliar |
|
|---|
| Ribuan Warga Serbu RSJ Aceh Urus Syarat Daftar Manajer Kopdes Merah Putih |
|
|---|
| Prodi Ilmu Komunikasi USK Kini Punya Laboratorium Siniar, Terobosan Baru Pembelajaran Digital Aceh |
|
|---|
| Mualem: Penyesuaian JKA Tak Ubah Nilai Perjuangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/harga-gas-naik-pedagang-dan-pelaku-usaha-warkop-terdampak.jpg)