Berita Aceh Singkil
Refleksi 27 Tahun Kabupaten Aceh Singkil di Mata Pegiat Literasi Wanhar Lingga
Selama 27 tahun perjalanan Kabupaten Aceh Singkil adalah rentang waktu yang sangat panjang untuk menilai arah pembangunan, capaian
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Mursal Ismail
Ringkasan Berita:
- Pegiat literasi Wanhar Lingga menilai usia 27 tahun Kabupaten Aceh Singkil menjadi momentum refleksi untuk menilai capaian dan tantangan pembangunan.
- Ia menyoroti empat pilar utama pembangunan, yakni pendidikan, infrastruktur dan kesejahteraan, penguatan budaya lokal, serta tata kelola pemerintahan yang profesional, transparan, dan berbasis meritokrasi.
- Wanhar berharap Aceh Singkil ke depan menjadi daerah yang maju, sejahtera, berbudaya, serta mampu membangun manusia dan pemerintahan yang baik.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Dede Rosadi I Aceh Singkil
SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Selama 27 tahun perjalanan Kabupaten Aceh Singkil adalah rentang waktu yang sangat panjang untuk menilai arah pembangunan, capaian, sekaligus tantangan yang masih harus dihadapi.
Sejak resmi berdiri pada 20 April 1999 melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1999, kabupaten ini menjadi rumah bagi harapan masyarakat yang ingin melihat perubahan nyata dalam pendidikan, infrastruktur, kesejahteraan, dan penguatan budaya.
Pegiat literasi Kabupaten Aceh Singkil, Wanhar Lingga, menyampaikan refleksi terkait persoalan pendidikan, infrastruktur kesehatan dan penguatan budaya.
Refleksi yang ia sampaikan merupakan ajakan untuk menimbang kembali apakah cita-cita awal perjuangan pemekaran sudah terwujud, atau masih tersisa pekerjaan besar yang menanti generasi penerus.
Pendidikan fondasi masa depan
Pendidikan menurutnya merupakan jantung pembangunan. Tanpa kualitas pendidikan yang baik, mustahil sebuah daerah mampu melahirkan generasi yang siap bersaing di tingkat nasional maupun global.
Baca juga: Hari Ini Minggu 26 April, Empat Kecamatan di Aceh Singkil Diguyur Hujan
Selama 27 tahun, Aceh Singkil berusaha memperluas akses pendidikan dengan membangun sekolah di berbagai kecamatan, termasuk wilayah kepulauan.
Namun, tantangan nyata masih terlihat, kualitas tenaga pendidik belum merata, fasilitas belajar terbatas, dan angka partisipasi pendidikan tinggi masih rendah.
Dalam pandangannya gedung sekolah memang penting.
Tetapi lebih penting lagi memastikan guru memiliki kompetensi memadai, kurikulum relevan dengan kebutuhan lokal, serta dukungan teknologi digital yang membuka akses pengetahuan lebih luas.
"Bayangkan jika setiap anak Singkil memiliki kesempatan belajar dengan fasilitas setara kota besar.
Dalam 10–20 tahun ke depan, akan lahir generasi yang cerdas secara akademik sekaligus peduli terhadap budaya dan lingkungan daerahnya," ujarnya.
Baca juga: Segera Daftar! Pemasangan Listrik Gratis di Aceh Singkil Sampai 3 Mei 2026
"Pendidikan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan program sesaat," tambah Wanhar.
Infrastruktur dan kesejahteraan jalan menuju kemajuan
Infrastruktur adalah tulang punggung kesejahteraan, sehingga keberadaan jalan, jembatan, listrik, air bersih, dan jaringan telekomunikasi merupakan syarat mutlak agar masyarakat dapat bergerak maju.
| Segera Daftar! Pemasangan Listrik Gratis di Aceh Singkil Sampai 3 Mei 2026 |
|
|---|
| Polres Aceh Singkil Lakukan Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik |
|
|---|
| Jadup Korban Banjir Mulai Dicairkan, Pemerhati Aceh Singkil Pertanyakan Sumber Datanya |
|
|---|
| Refleksi 27 Tahun Aceh Singkil, Sosok Makmursyah Putra di Mata Sahabatnya |
|
|---|
| 17 Anak Aceh Singkil Berhasil Dioperasi Bibir Sumbing Gratis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Wanhar-26042026.jpg)