Idul Adha 2026
Kapan Pastinya Idul Adha Tahun Ini? Berikut Hasil Kajian Ahli Falak Aceh
Nilai sudut elogasi bulan saat matahari terbenam pada Minggu 17 Mei 2026 atau 29 Zulkaidah 1447 H di seluruh Indonesia berkisar antara 10 derajat
Penulis: Saiful Bahri | Editor: Nur Nihayati
Ringkasan Berita:
- Ahli Falak Aceh, Dr. Tgk. Ismail, S.Sy., M.A, menjelaskan dalam kajian ilmu falak, untuk mengetahui awal bulan Hijriah sangat tergantung pada kondisi hilal secara astronomis.
- Ada tiga data yang perlu diketahui secara astronomis, yaitu konjungsi, tinggi hilal, dan sudut elongasi Bulan.
- Pertama, konjungsi geosentrik atau ijtma’ yaitu peristiwa ketika nilai bujur ekliptika bulan sama dengan nilai ekliptika matahari dengan diandaikan pengamat berada di pusat Bumi.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Saiful Bahri I Lhokseumawe
SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Ahli Falak Aceh, Dr. Tgk. Ismail, S.Sy., M.A, menjelaskan dalam kajian ilmu falak, untuk mengetahui awal bulan Hijriah sangat tergantung pada kondisi hilal secara astronomis.
Ada tiga data yang perlu diketahui secara astronomis, yaitu konjungsi, tinggi hilal, dan sudut elongasi Bulan.
Pertama, konjungsi geosentrik atau ijtma’ yaitu peristiwa ketika nilai bujur ekliptika bulan sama dengan nilai ekliptika matahari dengan diandaikan pengamat berada di pusat Bumi.
Peristiwa ini kembali terjadi pada Minggu, 17 Mei 2026 pukul 03.00.55 WIB atau pukul 04.00.55 WITA atau pukul 05.00.55 WIT.
Kedua, tinggi hilal adalah jarak bulan yang dihitung dari garis ufuk barat ke pusat piringan bulan atau ke piringan bawah hilal.
Baca juga: Tanggal Berapa Idul Adha? Cek Kalender Mei 2026, Lengkap Jadwal Tanggal Merah, Total 3 Long Weekend
Posisi hilal di ufuk barat pada hari Minggu, 17 Mei 2026 M atau 29 Zulakidah 1447 H, saat matahari terbenam diseluruh Indonesia berada di atas ufuk barat berkisar antara 06 derajat 56 menit 50 detik busur (tertinggi) di Sabang sampai 03 derajat 17 menit 33 detik busur (terendah) di Merauke.
Ketiga, sudut elongasi bulan adalah jarak sudut antara pusat piringan bulan dengan pusat piringan matahari yang terbentuk saat Matahari terbenam di tempat pengamatan.
Nilai sudut elogasi bulan saat matahari terbenam pada Minggu 17 Mei 2026 atau 29 Zulkaidah 1447 H di seluruh Indonesia berkisar antara 10 derajat 37 menit 26 detik busur (tertinggi) di Sabang, sampai 08 derajat 55 menit 07 detik busur (terendah) di Merauke.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa hilal sudah wujud di atas ufuk barat saat matahari terbenam, kondisi hilal juga sudah memenuhi kriteria Imkan Rukyat MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura).
"Secara kriteria Imkan Rukyat MABIMS, kondisi hilal tersebut sudah memenuhi kriteria dalam penetapan bulan baru dalam kalender Hijriah disebabkan kondisi hilal sudah melebihi batasan minimal yang yaitu ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk barat saat matahari terbenam dengan elongasi minimal 6,4 derajat," papar Dr. Tgk. Ismail, S.Sy., M.A, yang juga merupakan Dosen Ilmu Falak Fakultas Syariah UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.
Atas dasar data tersebut dapat dipastikan bila kondisi langit cerah, hilal pada sore Minggu 17 Mei 2026 yang bertepatan 29 Zulkaidah 1447 H akan berhasil diamati.
Maka 1 Zulhijjah 1447 H jatuh pada hari Senin 18 Mei 2026 dan hari raya Idul Adha 1447 H bertepatan Rabu 27 Mei 2026.
Namun ketetapan 1 Zulhijjah 1447 H dan hari raya Idul Adha 1447 H secara resmi akan diumumkan oleh pemerintah lewat sidang isbat yang akan diselenggarakan Minggu 17 Mei 2026.
"Kita berharap semua masyarakat dapat menunggu dan mengikuti hasil sidang isbat nantinya," pungkasnya.(*)
Baca juga: Begini Amalan Sunnah Dilakukan Rasulullah Jelang Sholat Idul Adha
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ketua-Jurusan-Ilmu-Falak-Fakultas-Syariah-IAIN-Lhokseumawe-Dr-Tgk-Ismail-SSy-MA.jpg)