Sabtu, 9 Mei 2026

Berita Banda Aceh

RSUDZA Masih Butuh Tambahan Rumah Singgah untuk Keluarga Pasien

“Memang di satu sisi kita akui, Rumah Sakit Zainoel Abidin ini terluas di seluruh Aceh, karena rumah sakit regional kita belum selesai, akhirnya semua

Tayang:
Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/m anshar
AC RSUDZA TIDAK BERFUNGSI - Pasien rawat inap di salah satu ruangan kelas III RSUDZA Banda Aceh harus membawa kipas angon sendiri akibat pendingin ruangan yanbg tidak berfungsi, Jumat (8/5/2026). Kondidsi panas dan sesak itu ditemui tim pansus dalam rangka menindaklanjuti LKPJ Gubernur Aceh tahun anggaran 2025. 

Ringkasan Berita:
  • Anggota Pansus LKPJ DPRA, Arif Fadillah, menyoroti kondisi keluarga pasien di RSUDZA Banda Aceh yang masih banyak tidur di koridor dan bawah tangga akibat keterbatasan fasilitas rumah singgah.
  • Hal ini terjadi karena RSUDZA menjadi rumah sakit rujukan utama di Aceh, sementara pembangunan rumah sakit regional belum rampung sehingga pasien menumpuk.
  • Arif menilai kondisi tersebut dapat menimbulkan citra negatif terhadap pelayanan rumah sakit dan meminta agar fasilitas rumah singgah dimaksimalkan.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH — Anggota Panitia Khusus (Pansus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) DPRA, Arif Fadillah, menyoroti masih banyaknya keluarga pasien yang tidur di koridor dan di bawah tangga RSUDZA akibat keterbatasan fasilitas tempat singgah bagi pendamping pasien.

Menurut Arif, kondisi tersebut terjadi karena RSUDZA masih menjadi rumah sakit rujukan utama di Aceh, sementara pembangunan rumah sakit regional di sejumlah daerah belum sepenuhnya rampung.

“Memang di satu sisi kita akui, Rumah Sakit Zainoel Abidin ini terluas di seluruh Aceh, karena rumah sakit regional kita belum selesai, akhirnya semua ke sini dengan berbagai tingkatan ekonomi. Terkadang tidak mampu untuk sewa hotel dan sebagainya,” kata Arif saat kunjungan Pansus LKPJ DPRA bersama manajemen RSUDZA di Banda Aceh, Jumat (8/5/2026).

Politikus Partai Demokrat itu menilai, kondisi keluarga pasien yang tidur di koridor rumah sakit dapat memunculkan citra negatif terhadap pelayanan rumah sakit apabila terus dibiarkan.

“Kalau nanti orang luar lihat, kalau ini terus dibiarkan bahkan diperlihatkan, ada pandangan negatif terhadap rumah sakit kita. Yang saya lihat orang-orang tidur di koridor-koridor dan sebagainya,” ujarnya.

Untuk itu, ia menyarankan agar fasilitas rumah singgah yang ada di rumah sakit tersebut perlu dimaksimalkan lagi, sehingga pendamping pasien memiliki tempat istirahat layak. 

Selain persoalan rumah singgah, Arif juga menyoroti antrean panjang di poliklinik, kondisi ruang yang begitu sesak, serta sulitnya mendapatkan kamar rawatan bagi pasien. 

Ia menyebut masih ada pasien yang harus menunggu berhari-hari di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebelum dipindahkan ke ruang rawat inap.

Menurutnya, lonjakan jumlah pasien di RSUDZA memang menjadi tantangan tersendiri, namun ia meminta manajemen rumah sakit tetap memberikan respons dan solusi terhadap berbagai keluhan masyarakat.

Baca juga: Utang Membengkak, Fuadri Minta RSUDZA Tak Lanjutkan Program Boros Anggaran

“Hal-hal yang bersifat negatif tolong diminimalisir bagaimana caranya,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur RSUDZA, dr Muhazar, mengatakan pihak rumah sakit sebenarnya telah menyediakan rumah singgah bagi keluarga pasien, namun kapasitasnya masih terbatas.

“Kita sudah menyiapkan rumah singgah di belakang. Namun karena bed-nya terbatas, jadi itukan belum memenuhi,” ujar Muhazar.

Ia memastikan pihak RSUDZA akan berupaya menambah dan menyelesaikan fasilitas rumah singgah agar keluarga pasien dari kabupaten/kota yang tidak memiliki tempat tinggal sementara dapat diarahkan ke lokasi tersebut.(*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved