Berita Aceh Tamiang
Budidaya Kepiting Soka, Cara Efektif Tekan Perambahan Hutan Bakau
“Kita tidak bisa serta merta melarang masyarakat tanpa solusi, makanya kami menyediakan alternatif mata pencaharian berupa program budidaya kepiting
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Nurul Hayati
Ringkasan Berita:1. Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama KPH Wilayah VII Aceh mendorong masyarakat pesisir Aceh Tamiang mengembangkan budidaya kepiting soka sebagai alternatif mata pencaharian untuk menekan perambahan hutan bakau.2. Program ini merupakan kolaborasi yang didukung Pemerintah Inggris (FCDO) melalui The Asia Foundation (TAF).3. Awalnya program hanya berupa penanaman mangrove, namun kemudian berkembang menjadi budidaya kepiting soka karena memiliki pasar yang menjanjikan.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah VII Aceh mendorong masyarakat pesisir mengembangkan budidaya kepiting soka.
Diketahui program ini merupakan kolaborasi FKL dengan KPH VII untuk menekan perambahan hutan bakau di pesisir Aceh Tamiang.
“Kita tidak bisa serta merta melarang masyarakat tanpa solusi, makanya kami menyediakan alternatif mata pencaharian berupa program budidaya kepiting soka,” kata staf FKL, T Alfian saat melakukan monitoring di Bandamulia, Aceh Tamiang, Senin (11/5/2026).
Program ini berasal dari Pemerintahan Inggris (FCDO) melalui The Asia Foundation (TAF) yang diberikan kepada kelompok masyarakat.
Awalnya, program ini hanya penanaman mangrove di seputaran hutan bakau.
"Dalam perjalanannya ada gagasan untuk memberikan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat, dan ternyata kepiting soka ini sangat bagus pasarnya,” ungkap Alfian.
Baca juga: Kembangkan Budidaya Kepiting Soka, Kelompok Wanita di Aceh Tamiang Raih Omzet Rp 2 Juta per Hari
Produksi dan Omzet Harian
Sejak dirintis tahun 2022, kolaborasi FKL dan KPH VII telah membina 10 kelompok masyarakat di Aceh Tamiang.
Masing-masing kelompok mendapat bantuan berupa bibit, kotak dan item pendukung lainnya.
KTH Bungong Tanjung yang merupakan kelompok binaan pertama telah berhasil memproduksi kepiting soka minimal 10 kilogram per hari.
Dengan harga jual yang menjanjikan, kelompok ini rata-rata per hari mendapat omzet Rp 2 juta.
“Kadang-kadang lima kilo, kadang sampai 12 kilo. Makanya kalau dirata-ratakan bisa Rp 17 juta seminggu,” kata Ketua KTH Bungong Tanjung, Irma Suryani.
Irma mengaku program ini sangat membantu perekonomian kelompoknya.
Dia pun berharap FKL dan KPH VII mengembangkan bantuan agar kelompok mereka bisa menambah luas tambak yang saat ini masih 2 rante (800 meter persegi). (*)
| BRA Bagi-bagi Tas dan Perlengkapan Alat Tulis untuk Murid SD di Aceh Tamiang |
|
|---|
| Kembangkan Budidaya Kepiting Soka, Kelompok Wanita di Aceh Tamiang Raih Omzet Rp 2 Juta per Hari |
|
|---|
| Dua Desa di Atam Terhubung Jembatan Gantung Garuda, Warga Gelar Syukuran |
|
|---|
| Aceh Tamiang Maksimalkan Lahan Tidur untuk Program Ketahanan Pangan |
|
|---|
| Terhubung Melalui Jembatan Perintis Garuda, Warga Dua Desa di Aceh Tamiang Gelar Syukuran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Irma-Suryani-menunjukkan-kepiting-soka-siap-panen.jpg)