Haba Unimal
Memulihkan Sawah Aceh melalui Kolaborasi Pemerintah, Akademisi, dan Petani
Prof. Laila Nazirah, menekankan bahwa pemulihan sawah bukan sekadar pembersihan lahan secara fisik.
Penulis: Zaki Mubarak | Editor: IKL
SERAMBINEWS.COM,LHOKSEUMAWE - Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh menyisakan persoalan serius pada sektor pertanian. Ribuan hektare sawah tertutup lumpur, pasir, hingga material kayu, yang mengancam ketahanan pangan serta ekonomi masyarakat perdesaan.
Menyikapi hal ini, diperlukan pendekatan multidisiplin yang menggabungkan kebijakan pemerintah dengan solusi ilmiah dari akademisi agar pemulihan lahan tidak sekadar formalitas, melainkan berkelanjutan secara biologis.
Pemerintah saat ini tengah gencar melakukan upaya rehabilitasi fisik di lapangan. Fokus utama meliputi, normalisasi irigasi dengan memperbaiki saluran air yang tersumbat material banjir. Kemudian, bantuan saprodi seperti penyaluran benih dan pupuk untuk petani terdampak, serta pembersihan lahan dengan pengerahan alat berat untuk mengangkut sedimen pasir dan kayu dan aksesibilitas, yaitu perbaikan jalan usaha tani guna mempermudah mobilitas logistik pertanian.
Tantangan terbesar pasca pembersihan adalah rusaknya struktur tanah. Banyak petani yang belum memahami cara menetralisir endapan lumpur dan pasir yang menutupi lapisan tanah subur (top soil).
Akademisi Universitas Malikussaleh, Prof. Laila Nazirah, menekankan bahwa pemulihan sawah bukan sekadar pembersihan lahan secara fisik.
"Pemulihan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui edukasi, penguatan teknologi budidaya, dan pengembalian fungsi biologis tanah agar produktivitas kembali pulih," ujarnya.
Laila mengatakan, kolaborasi antara pemerintah dan kampus dapat diwujudkan melalui langkah-langkah teknis berikut: Uji Kesuburan, melakukan pengecekan laboratorium terhadap tingkat keasaman (pH) dan nutrisi tanah sebelum musim tanam. Rekomendasi Amelioran, pemberian bahan pembenah tanah seperti dolomit, kompos, biochar, dan pupuk hayati sesuai kondisi spesifik wilayah.
Selain itu, Teknologi Adaptif: Pengembangan varietas padi yang toleran genangan serta sistem drainase sederhana. Pendampingan Lapangan: Akademisi bertindak sebagai pendamping kelompok tani dalam menerapkan metode konservasi tanah yang murah dan efektif.
Di tingkat akar rumput, petani sebenarnya telah memulai upaya mandiri dengan cara bergotong royong membersihkan material sisa banjir serta menambahkan pupuk kandang dan jerami untuk memperbaiki struktur tanah secara alami.
Namun, upaya mandiri ini perlu disinergikan dengan data lapangan yang akurat agar kebijakan pemerintah lebih tepat sasaran. Sawah bagi masyarakat Aceh bukan sekadar tempat produksi pangan, melainkan identitas sosial dan sumber kehidupan.
Bencana ini harus menjadi momentum untuk membangun sistem pertanian yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim melalui kerja sama lintas sektor yang berkelanjutan demi masa depan pertanian Aceh yang lebih kuat. (*)
| HIMA Unimal Gelar Talkshow Entrepreneurial LEAP, Angkat Tema Ekonomi Kreatif |
|
|---|
| Wakil Rektor Unimal Lantik Pejabat Baru, Tekankan Profesionalisme dan Peningkatan Layanan |
|
|---|
| Mahasiswa Unimal Juara 2 Ajang Nasional FEMI 2026 di Malang |
|
|---|
| Prodi Ilmu Politik Unimal Jalani Asesmen LAMSPAK |
|
|---|
| Rektor Unimal Lepas dan Peusijuk 8 Jamaah Haji dari Kalangan Dosen dan Tendik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/WhatsApp-Image-2026-05-16-at-194042.jpg)