Selasa, 19 Mei 2026

Opini

Mahalnya Ongkos Sosial Haji dan Umrah

Keluarga, tetangga, sahabat, hingga masyarakat sekitar datang memberi restu kepada jamaah yang akan berangkat ke Tanah Suci. 

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/HO
Banta Diman, S.Sos.I., M.Si adalah dosen STIAPEN Nagan Raya & Pemerhati Sosial. 

Oleh: Banta Diman SSos I MSi, dosen STIAPEN Nagan Raya dan pemerhati sosial

DI berbagai daerah di Aceh, tradisi peusijuek haji dan umrah masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Tradisi ini berlangsung penuh haru, doa, dan rasa kebersamaan.

Keluarga, tetangga, sahabat, hingga masyarakat sekitar datang memberi restu kepada jamaah yang akan berangkat ke Tanah Suci. 

Dalam suasana seperti itu, peusijuek bukan sekadar seremoni adat, tetapi simbol penghormatan, doa keselamatan, dan penguatan silaturahmi yang telah diwariskan turun-temurun dalam budaya Aceh.

Tradisi tersebut tentu memiliki nilai luhur yang patut dijaga.

Peusijuek merupakan bagian dari identitas budaya Aceh yang memperlihatkan eratnya hubungan antara adat dan nilai keagamaan dalam kehidupan masyarakat. 

Karena itu, peusijuek tetap sakral secara tradisi dan harus dilestarikan sebagai warisan budaya yang penuh makna.

Baca juga: Desil Dicari, Label Miskin Dihindari

Namun dalam realitas sosial hari ini, peusijuek juga mulai menghadirkan persoalan lain yang jarang dibicarakan secara terbuka: ongkos sosial yang semakin mahal bagi sebagian jamaah haji dan umrah.

Keadaan ini cukup terasa di berbagai daerah di Aceh, terutama di wilayah yang hubungan kekeluargaannya sangat erat seperti di Kabupaten Nagan Raya.

Dalam beberapa kasus, peusijuek kadang berlangsung lebih lama daripada masa pemulihan jamaah setelah pulang dari Tanah Suci. Tamu datang silih berganti, kenduri terus berjalan, dan agenda silaturahmi seolah tidak pernah selesai.

Tidak sedikit jamaah justru jatuh sakit karena kelelahan melayani rombongan peusijuek yang terus berdatangan.

Apalagi jika jamaah tersebut merupakan tokoh masyarakat, pejabat, orang yang berpengaruh, atau memiliki jaringan keluarga besar. 

Semakin luas hubungan sosial seseorang, semakin besar pula tuntutan sosial yang harus dihadapi.

Di sebagian masyarakat Aceh, peusijuek tidak hanya dilakukan sebelum keberangkatan, tetapi juga berlanjut ketika jamaah kembali dari Tanah Suci.

Bahkan ada jamaah yang harus menerima rombongan peusijuek dari berbagai gampong secara bergantian selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. 

Setelah menjalani ibadah yang menguras tenaga dan fisik, sebagian jamaah justru tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat karena harus terus menunggu, menerima tamu, dan melayani berbagai rombongan yang datang bersilaturahmi.

Ironisnya, perjalanan spiritual yang seharusnya menghadirkan ketenangan perlahan berubah menjadi aktivitas sosial yang melelahkan.

Jamaah yang baru pulang dari ibadah haji atau umrah kadang lebih sibuk mengurus tamu dibanding menikmati ketenangan spiritual setelah kembali dari Tanah Suci.

Bahkan ada yang mengaku lebih lelah menghadapi agenda sosial sepulang ibadah dibanding saat menjalani rangkaian ibadah itu sendiri.

Di sisi lain, banyak jamaah juga disibukkan dengan urusan oleh-oleh.

Sebelum berangkat, sebagian sudah mulai memikirkan daftar titipan, jumlah sajadah Arab yang harus dibeli, mukena yang harus dibagikan, parfum, tasbih, hingga berbagai kenang-kenangan untuk keluarga dan tamu peusijuek.

Bahkan, karena keterbatasan kapasitas bagasi pesawat, tidak sedikit jamaah yang akhirnya membeli oleh-oleh khas Arab di toko penyedia oleh-oleh Arab di Aceh setelah pulang dari Tanah Suci.

Fenomena ini menunjukkan bahwa yang kerap dijaga bukan lagi semata kebutuhan ibadah, melainkan juga ekspektasi sosial masyarakat.

Di tengah masyarakat, ada semacam kewajiban tidak tertulis bahwa jamaah yang pulang dari haji atau umrah harus membawa oleh-oleh dalam jumlah tertentu.

ika tidak, muncul rasa tidak enak atau kekhawatiran dianggap tidak menghargai orang yang datang saat peusijuek.

Akibatnya, sebagian jamaah lebih sibuk memikirkan oleh-oleh dibanding mempersiapkan ketenangan hati dan kekhusyukan ibadahnya.

Mungkin bagi jamaah yang memiliki kemampuan ekonomi kuat, keadaan ini tidak menjadi persoalan besar. Mereka bisa menikmati suasana sosial tersebut tanpa tekanan berarti.

Namun bagi masyarakat ekonomi sederhana, kondisi tersebut sering berubah menjadi tekanan yang diam-diam memberatkan.

Ada keluarga yang harus menguras tabungan, meminjam uang, bahkan menjual sebidang tanah warisan demi memenuhi biaya kenduri, peusijuek, dan berbagai kebutuhan sosial lainnya.

Yang lebih menyedihkan, ada sebagian orang yang menunda keberangkatan umrah bukan karena biaya ibadahnya belum cukup, melainkan karena belum memiliki cukup uang untuk memenuhi berbagai biaya sosial setelah pulang nanti.

Ongkos oleh-oleh, kenduri, peusijuek, hingga kebutuhan melayani tamu sering kali ikut menjadi pertimbangan besar sebelum berangkat.

Kenyataan seperti ini mungkin jarang dibicarakan secara terbuka, tetapi nyata terjadi di tengah masyarakat.

Ada orang yang sebenarnya sudah memiliki biaya untuk berangkat umrah, tetapi masih merasa belum siap karena memikirkan biaya sosial setelah pulang nanti.

Hal seperti ini memperlihatkan bahwa perjalanan ibadah kadang tidak lagi dipandang hanya sebagai urusan spiritual, tetapi juga urusan sosial yang membutuhkan biaya tambahan cukup besar.

Dalam beberapa kondisi, ongkos sosial itulah yang justru terasa lebih berat dibanding biaya keberangkatan ibadah itu sendiri.

Di titik inilah ibadah yang seharusnya menjadi perjalanan ruhani perlahan berubah menjadi beban sosial dan ekonomi.

Padahal Islam tidak pernah mengajarkan bahwa kemuliaan haji dan umrah diukur dari ramainya peusijuek atau banyaknya oleh-oleh yang dibawa pulang.

Kemabruran bukan terletak pada mahalnya sajadah Arab, banyaknya parfum yang dibagikan, atau mewahnya kenduri yang diadakan, melainkan pada perubahan akhlak, ketulusan ibadah, dan kedekatan seseorang kepada Allah SWT.

Haji dan umrah adalah ibadah yang menuntut keikhlasan, kesabaran, dan kesederhanaan.

Namun dalam praktik sosial modern, ibadah tersebut kadang ikut dibebani tuntutan simbolik yang perlahan menggeser substansi spiritualnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat tanpa sadar mulai membangun standar sosial baru terhadap ibadah.

Jamaah bukan hanya dituntut mampu berangkat ke Tanah Suci, tetapi juga seolah harus mampu memenuhi ekspektasi lingkungan setelah kembali.

Media sosial ikut memperkuat keadaan tersebut. Dokumentasi oleh-oleh, koper penuh barang, hingga momen pembagian hadiah sering dipamerkan dan akhirnya membentuk budaya kompetisi sosial secara halus.

Orang merasa tidak enak jika pulang tanpa membawa sesuatu dalam jumlah banyak. Akhirnya, perjalanan ibadah kadang lebih sibuk dipersiapkan dari sisi sosial dibanding sisi spiritual.

Padahal jika direnungkan, yang paling dibutuhkan masyarakat sebenarnya bukan oleh-oleh dari Tanah Suci, melainkan doa, keteladanan, dan perubahan sikap dari orang yang telah berhaji atau berumrah.

Nilai terbesar dari perjalanan spiritual seharusnya tercermin pada akhlak yang semakin baik, bukan pada banyaknya barang yang dibagikan.

Karena itu, masyarakat perlu mulai membangun kesadaran baru bahwa tradisi tidak boleh berubah menjadi tekanan sosial.

Peusijuek tetap harus dijaga sebagai budaya silaturahmi dan doa bersama, tetapi tidak perlu dibebani dengan kemewahan, gengsi, atau tuntutan berlebihan.

Kesederhanaan tidak mengurangi makna peusijuek. Doa tidak diukur dari banyaknya hidangan yang disajikan. Silaturahmi tidak ditentukan oleh mahalnya oleh-oleh yang dibawa pulang.

Dan penghormatan kepada jamaah haji maupun umrah tidak harus diwujudkan dalam tradisi yang memberatkan secara ekonomi.

Yang perlu dijaga adalah nilai kebersamaan, ketulusan doa, dan semangat saling menghormati di tengah masyarakat Aceh.

Sebab pada hakikatnya, peusijuek lahir dari budaya penghormatan dan rasa syukur, bukan dari budaya pamer atau gengsi sosial.

Tokoh agama, tokoh adat, dan pemerintah daerah juga perlu ikut memberikan edukasi sosial agar tradisi tetap berjalan tanpa kehilangan ruh kesederhanaannya.

Jangan sampai adat yang sakral justru berubah menjadi tekanan psikologis dan ekonomi bagi masyarakat kecil.

Sudah saatnya masyarakat membangun pemahaman bahwa tidak semua penghormatan harus diwujudkan dengan biaya besar.

Tidak semua silaturahmi harus dibalas dengan banyak oleh-oleh. Dan tidak semua peusijuek harus berlangsung berlebihan hingga menguras tenaga dan biaya jamaah.

Peusijuek akan tetap mulia meskipun dilakukan secara sederhana. Bahkan kesederhanaan justru lebih dekat dengan nilai Islam yang mengajarkan keseimbangan dan tidak berlebih-lebihan dalam urusan dunia.

Pada akhirnya, haji dan umrah harus dikembalikan pada hakikatnya sebagai perjalanan ruhani.

Jangan sampai seseorang pulang dari Tanah Suci membawa koper penuh oleh-oleh, tetapi kembali dengan hati yang lelah oleh tekanan sosial.

Sebab yang paling berharga dari perjalanan ibadah bukan apa yang dibawa pulang di dalam koper, melainkan apa yang berubah di dalam hati setelah pulang.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved