Minggu, 17 Mei 2026

Opini

Bencana, Lingkungan, dan Politik Pembangunan di Aceh: Mengapa Aceh Semakin Rentan?

Kerusakan lingkungan pada akhirnya memperbesar ketimpangan sosial, memicu konflik sumber daya, dan melemahkan kualitas hidup masyarakat

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Hamdani Hamid, Mahasiwa Magister Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta 

Oleh: Hamdani Hamid, Mahasiwa Magister Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Aceh kembali menghadapi ujian berat. Dalam dua tahun terakhir, banjir besar, longsor, cuaca ekstrem, hingga siklon tropis yang melanda sebagian wilayah Sumatra memperlihatkan bahwa Aceh berada dalam kondisi ekologis yang semakin rentan. 

Bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir 2025 hingga awal 2026 bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan sinyal serius bahwa ada persoalan mendasar dalam tata kelola pembangunan dan lingkungan hidup di Aceh.

Di berbagai wilayah seperti Aceh Timur, Aceh Tengah, Gayo Lues, Pidie, Aceh Utara, hingga Subulussalam, masyarakat harus menghadapi kerusakan rumah, gagal panen, lumpuhnya akses transportasi, hingga kehilangan mata pencaharian akibat bencana yang datang berulang. 

Data berbagai lembaga menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan dan hilangnya tutupan hutan menjadi faktor penting yang memperbesar dampak bencana tersebut.

Bencana yang Tidak Lagi Alamiah

Dalam kajian ilmu lingkungan modern, istilah “bencana alam” mulai dipertanyakan. 

Banyak pakar menilai bahwa bencana saat ini lebih tepat disebut sebagai hasil interaksi antara faktor alam dan kerusakan ekologis akibat aktivitas manusia.

Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) menyebut banjir besar di Aceh pada akhir 2025 merupakan “akumulasi kerusakan ekologis yang terus dibiarkan.”  

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa hujan ekstrem hanyalah pemicu, sementara akar persoalan sesungguhnya adalah melemahnya daya dukung lingkungan.

Baca juga: Banjir yang Merendam Dua Kecamatan di Aceh Utara Mulai Surut, Warga: Kami Was-was Kalau Mendung

Menurut data HAkA, kehilangan tutupan hutan Aceh pada 2025 mencapai puluhan ribu hektare dan meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya. 

Sebagian besar kerusakan terjadi di kawasan hutan lindung dan Kawasan Ekosistem Leuser, wilayah yang selama ini menjadi benteng ekologis Aceh.

Akibatnya sangat nyata. Ketika hutan di kawasan hulu rusak, air hujan tidak lagi terserap secara optimal. 

Sungai meluap lebih cepat, tanah menjadi labil, dan longsor mudah terjadi. Dalam konteks inilah, bencana di Aceh tidak lagi bisa dipandang sebagai kejadian alam semata.

Pakar lingkungan dari berbagai perguruan tinggi juga menilai bahwa degradasi lingkungan telah mengurangi kemampuan alam Aceh dalam menghadapi perubahan iklim global. 

Kajian akademik mengenai bencana di Sumatra menunjukkan kombinasi antara cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan memperbesar skala kehancuran yang terjadi.

Politik Pembangunan yang Belum Berkelanjutan

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved