Abdya
Kambing Warga Abdya Mati dengan Luka Cakar, Peternak Diminta Perkuat Keamanan Kandang
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Hendri Yadi, meminta masyarakat lebih memperhatikan keamanan kandang...
Penulis: Masrian Mizani | Editor: Eddy Fitriadi
Ringkasan Berita:
- Kepala Dinas Pertanian Abdya, Hendri Yadi, meminta masyarakat lebih memperhatikan keamanan kandang ternak, terutama yang berada di sekitar kawasan hutan dan perbukitan.
- Hal ini menyusul kasus kematian 14 ekor ternak kambing milik warga Desa Kuta Bak Drien, Kecamatan Tangan-Tangan dengan luka cakar, diduga akibat serangan beruang madu.
- Hasil pemantauan petugas di lapangan menunjukkan sejumlah kandang ternak warga berada dekat dengan jalur habitat satwa liar.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Masrian Mizani I Aceh Barat Daya
SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Hendri Yadi, meminta masyarakat lebih memperhatikan keamanan kandang ternak, terutama yang berada di sekitar kawasan hutan dan perbukitan.
Hal ini menyusul kasus kematian 14 ekor ternak kambing milik warga Desa Kuta Bak Drien, Kecamatan Tangan-Tangan dengan luka cakar, diduga akibat serangan beruang madu.
Hendri menyebutkan, hasil pemantauan petugas di lapangan menunjukkan sejumlah kandang ternak warga berada dekat dengan jalur habitat satwa liar.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memancing hewan buas mendekati area peternakan karena aroma dan suara ternak mudah terdeteksi dari kawasan hutan.
“Secara alami, bau dan suara ternak dapat menarik perhatian satwa liar, terlebih kandang berada dekat kawasan gunung maupun lintasan hewan,” kata Hendri, Rabu (20/5/2026).
Baca juga: Pemerintah Abdya Peringati Harkitnas, Plt Sekda Sampaikan Pidato Menkomdigi, Ini Isinya
Hendri menjelaskan, banyak peternak selama ini memilih membangun kandang jauh dari permukiman guna menghindari gangguan bau limbah ternak terhadap warga sekitar.
Namun, pola tersebut dinilai memiliki risiko lain karena lokasi kandang justru semakin dekat dengan habitat satwa liar.
“Memang kandang dibuat jauh dari pemukiman agar tidak mengganggu masyarakat. Tetapi jika terlalu dekat dengan kawasan hutan, risiko gangguan binatang buas tentu lebih besar,” katanya.
Ia menilai persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar aktivitas peternakan masyarakat tetap berjalan aman dan produktif.
Karena itu, ia meminta masyarakat mulai memperkuat konstruksi kandang, memasang pagar pengaman, menyediakan pencahayaan yang cukup, serta menghindari lokasi yang berada di jalur pergerakan satwa liar.
Selain itu, Hendri juga menyoroti kemungkinan terganggunya habitat satwa liar akibat perubahan lingkungan dan aktivitas manusia di kawasan hutan.
Kondisi tersebut, kata Hendri, dapat memicu hewan liar turun mendekati permukiman untuk mencari sumber makanan.
“Bisa saja habitat satwa liar sudah mulai terganggu sehingga mereka turun ke sekitar permukiman warga,” ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kepala-Dinas-Pertanian-Aceh-Barat-Daya-Abdya-Hendri-Yadi.jpg)