Minggu, 31 Mei 2026

Khutbah Jumat

Memaknai Pengorbanan dalam Ibadah Qurban

Persoalannya bukan apakah manusia berkorban atau tidak. Persoalannya adalah: untuk siapa dan untuk apa pengorbanan itu dilakukan?

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Mustafa Husen Woyla, khatib jumat di Mesjid Agung Baitul Makmur - Meulaboh, Aceh Barat, Jumat (29/5/2026) 

Oleh: Mustafa Husen Woyla, khutbah Jum'at, 13 Zulhijjah 1447 Di Mesjid Agung Baitul Makmur - Meulaboh 

****

Setiap manusia sesungguhnya sedang berkorban.

Tidak ada seorang pun yang menjalani hidup tanpa pengorbanan. Setiap hari manusia mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, perasaan, bahkan hartanya untuk sesuatu yang dianggap berharga. 

Seorang ayah berangkat melaut sebelum fajar menyingsing. 

Petani berpanas-panasan di sawah. Pedagang membuka toko sejak pagi. Santri meninggalkan kampung halaman demi ilmu. Semua adalah bentuk pengorbanan.

Persoalannya bukan apakah manusia berkorban atau tidak. Persoalannya adalah: untuk siapa dan untuk apa pengorbanan itu dilakukan?

Ada yang berkorban demi Allah, agama, ilmu, keluarga, dan kemaslahatan umat. Namun tidak sedikit pula yang mengorbankan harta, kesehatan, bahkan masa depannya demi perjudian, narkoba, korupsi, dan berbagai kesenangan sesaat.

Di sinilah Idul Adha hadir mengingatkan bahwa nilai sebuah pengorbanan tidak ditentukan oleh besar kecilnya pengorbanan itu, melainkan oleh tujuan yang melatarbelakanginya.

Cinta yang Melahirkan Pengorbanan

Allah berfirman:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

"Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil (kekasih-Nya)." (QS. An-Nisa: 125)

Gelar Khalilullah bukanlah gelar biasa. Ia tidak lahir dari keturunan, kedudukan, atau kekayaan. Gelar itu lahir dari perjalanan panjang cinta, ketaatan, dan pengorbanan.

Cinta sejati selalu menuntut pengorbanan. Semakin besar cinta seseorang, semakin besar pula pengorbanan yang sanggup ia lakukan.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

"Orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah." (QS. Al-Baqarah: 165)

Karena itu, tidak mengherankan apabila Nabi Ibrahim mampu melakukan berbagai pengorbanan yang secara manusiawi tampak melampaui batas nalar. Padahal beliau dikenal sebagai nabi yang berpikir rasional dan argumentatif dalam membela tauhid.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

"Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya." (HR. Bukhari)

Semakin besar cinta kepada Allah, semakin besar pula pengorbanan yang sanggup dilakukan seseorang.

Empat Ujian Menuju Khalilullah

Menjadi kekasih Allah bukanlah perjalanan tanpa ujian.

Pertama, Ibrahim harus berhadapan dengan kemusyrikan kaumnya. Ia memilih berdiri bersama kebenaran meskipun harus berbeda dengan masyarakat, keluarga, bahkan ayahnya sendiri.

Kedua, ia dilemparkan ke dalam kobaran api Namrud. Kekuasaan dan ancaman tidak mampu memaksanya meninggalkan tauhid. Ketika seluruh sebab dunia tampak tertutup, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan menjadikan api itu dingin dan menyelamatkan hamba-Nya.

Baca juga: UIN Ar-Raniry Sembelih 64 Sapi, Bagikan 4.000 Paket Daging Kurban Hadiah UEA

Ketiga, Ibrahim diperintahkan meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus yang kelak bernama Makkah. Secara lahiriah, keputusan itu tampak sangat berat. Namun ketika Hajar bertanya, "Apakah ini perintah Allah?" dan Ibrahim mengangguk, Hajar menjawab dengan penuh keyakinan:

إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا اللَّهُ

"Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."

Kalimat singkat itu menjadi pelajaran besar tentang tawakal sepanjang zaman.

Keempat, datang ujian yang paling berat: perintah menyembelih Ismail, anak yang sangat dicintai dan telah lama dinantikan kehadirannya.

Namun yang menakjubkan, bukan hanya Ibrahim yang lulus ujian. Ismail juga lulus.

Allah mengabadikan jawaban Ismail:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ

"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu." (QS. Ash-Shaffat: 102)

Di sinilah kita menyaksikan sebuah keluarga yang seluruh anggotanya tunduk kepada Allah.

Keluarga yang Dibangun di Atas Ketaatan

Kisah qurban sering kali dipahami hanya sebagai kisah seorang nabi yang hendak menyembelih anaknya. Padahal sesungguhnya ia adalah kisah sebuah keluarga.

Ibrahim taat menjalankan perintah Allah.

Hajar taat menerima ketentuan Allah.

Ismail taat menerima keputusan Allah.

Ketika seluruh anggota keluarga menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan mereka, maka lahirlah keluarga yang mampu menghadapi ujian sebesar apa pun.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa syariat qurban yang kita laksanakan hari ini lahir dari keberhasilan sebuah keluarga dalam menempatkan Allah di atas segala-galanya.

Menjadi Burung Kecil di Jalan Kebenaran

Dalam berbagai riwayat dan kisah populer tentang pembakaran Nabi Ibrahim disebutkan adanya seekor burung kecil yang berusaha membawa setetes air untuk memadamkan api. Kisah ini tidak dapat dipastikan sebagai fakta sejarah yang sahih, tetapi pesan moralnya sangat kuat.

Burung itu tahu bahwa setetes air tidak mungkin memadamkan lautan api. Namun ia ingin Allah mengetahui di pihak mana ia berdiri.

Pelajaran ini sangat relevan bagi kehidupan modern.

Tidak semua orang mampu menjadi pemimpin besar. Tidak semua orang mampu menyumbang miliaran rupiah. Tidak semua orang mampu mengubah keadaan sendirian.

Namun setiap orang mampu mengambil posisi di pihak yang benar.

Baca juga: Menyembelih "Sifat Dan Perilaku kebinatangan" di Hari Raya Kurban

Mendukung pendidikan. Membantu fakir miskin. Menolak korupsi. Menguatkan persatuan umat. Menegakkan keadilan. Semua itu adalah bentuk keberpihakan kepada kebenaran.

Jangan menjadi penghalang kebaikan. Jika tidak mampu menjadi api yang menerangi, jadilah setidaknya setetes air yang membantu memadamkan kemungkaran.

Hakikat Qurban: Menyembelih yang Ada Dalam Diri

Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

"Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian." (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini mengingatkan bahwa hakikat qurban bukanlah darah yang mengalir, melainkan ketakwaan yang tumbuh.

Hewan qurban hanya disembelih sekali dalam setahun. Namun kesombongan harus disembelih setiap hari.

Keserakahan harus disembelih setiap hari.

Egoisme harus disembelih setiap hari.

Kemalasan dalam beribadah harus disembelih setiap hari.

Pisau qurban bekerja beberapa menit pada hewan sembelihan, tetapi pisau takwa harus bekerja sepanjang hidup untuk menyembelih hawa nafsu.

Dua Jalan Pengorbanan

Sejarah manusia memperlihatkan dua jenis pengorbanan.

Ada pengorbanan yang melahirkan kemuliaan.

Ayah yang melaut demi keluarga.

Ibu yang mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang.

Petani yang bekerja di sawah.

Pedagang yang mencari nafkah halal.

Pekerja tambang yang mempertaruhkan keselamatan demi keluarganya.

Ulama yang membimbing umat.

Guru dan dosen yang mencerdaskan generasi.

ASN yang melayani masyarakat.

TNI dan Polri yang menjaga keamanan.

Tenaga kesehatan yang merawat pasien.

Santri dan mahasiswa yang merantau demi ilmu.

Mereka semua sedang berkorban, dan pengorbanan itu bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah.

Namun ada pula pengorbanan yang menghancurkan.

Judi online mengorbankan harta dan masa depan.

Narkoba mengorbankan kesehatan dan akal.

Korupsi mengorbankan amanah.

Gaya hidup pamer mengorbankan ketenangan jiwa.

Utang demi gengsi mengorbankan kehormatan diri.

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ

"Sesungguhnya khamar dan perjudian adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan." (QS. Al-Ma'idah: 90)

Nabi Ibrahim berkorban demi Allah sehingga melahirkan keberkahan. Sebaliknya, mereka yang berkorban demi hawa nafsu sering kali berakhir dalam penyesalan.

Renungan Idul Adha

Di hari raya ini, pertanyaan yang paling penting bukanlah berapa ekor hewan yang kita sembelih.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa yang sedang saya korbankan hari ini?

Untuk siapa saya bekerja?

Untuk apa harta saya habiskan?

Apakah seluruh pengorbanan saya mendekatkan diri kepada Allah atau justru menjauhkan diri dari-Nya?

Karena sesungguhnya setiap manusia sedang berkorban untuk sesuatu.

Menjadi Pewaris Spirit Ibrahim

Idul Adha mengajarkan empat warisan besar dari Nabi Ibrahim:

Pertama, berani melawan kemusyrikan dan penyimpangan.

Kedua, sabar menghadapi api ujian kehidupan.

Ketiga, ikhlas melepaskan apa yang dicintai ketika Allah memerintahkannya.

Keempat, taat kepada Allah di atas segala-galanya.

Kemuliaan seseorang tidak terletak pada banyaknya harta yang ia miliki, melainkan pada apa yang rela ia korbankan demi Allah.

Pada akhirnya, setiap manusia sedang berkorban untuk sesuatu. Beruntunglah mereka yang pengorbanannya mengantarkan kepada ridha Allah, sebagaimana pengorbanan Ibrahim, Hajar, dan Ismail yang terus dikenang hingga akhir zaman. 

Fal-'ilmu ‘indallāh, wa huwal-muwaffiqu likulli khairin.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved