Jumat, 5 Juni 2026

Aceh Utara

Rapai Buket Meulinteung dari Akar Tualang Berusia Ratusan Tahun, Warisan Budaya Masyarakat Pase

Dalam sebuah rumah sederhana di Desa Krueng Pirak Kecamatan Pirak Timu Kabupaten Aceh Utara, hingga kini tersimpan sebuah rapai...

Tayang:
Penulis: Jafaruddin | Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/Jafaruddin
RAPAI - Pemain rapai menampilkan atraksi dalam ajang meuroh di Aceh Utara, tradisi diwariskan secara turun-temurun yang masih bertahan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Pase. 

Ringkasan Berita:
  • Rapai Buket Meulinteung yang tersimpan di Desa Krueng Pirak, Kecamatan Pirak Timu menjadi salah satu warisan budaya tua masyarakat Pase yang masih dijaga hingga kini oleh Syekh Ahmad (73), Ketua Grup Rapai Cut Meutia. 
  • Rapai tersebut dibuat dari banie atau akar pohon tualang tua.
  • Syekh Ahmad mengatakan, rapai bukan sekadar alat musik tradisional, melainkan bagian dari sejarah penyebaran Islam serta identitas budaya masyarakat Aceh.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Dalam sebuah rumah sederhana di Desa Krueng Pirak Kecamatan Pirak Timu Kabupaten Aceh Utara, hingga kini tersimpan sebuah rapai tua yang usianya dipercaya telah melintasi beberapa generasi.

Rapai tersebut diberi nama Buket Meulinteung oleh nek tu atau buyut dari Syekh Ahmad (73) yang sampai kini masih setia menjadi Ketua Grup Rapai Cut Meutia.

Rapai itu lahir dari banie (akar) pohon tualang tua yang tumbuh di perbukitan rimba pase pedalaman Kabupaten Aceh Utara, setelah dipahat dan diukir berbulan-bulan dengan peralatan tradisional.

Hingga kini, Rapai Buket Meulinteung bukan sekadar alat musik tradisional, melainkan warisan budaya sekaligus saksi sejarah masyarakat Pase.

Alat musik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya menjadi simbol kesenian masyarakat, tetapi juga menyimpan sejarah panjang tentang asal-usul Rapai, kearifan lokal dalam pemanfaatan alam, serta jejak penyebaran Islam di wilayah Pase.

Kini rapai Buket Meulinteung dirawat oleh Ahmad (73). Kendati usianya tidak muda lagi, tapi Syekh Ahmad berupaya menjaga untuk mewarisakan budaya indatu kepada generasi.

Syekh Ahmad berasal dari keluarga yang memiliki garis keturunan kuat dalam tradisi seni Rapai. Kakek dan ayahnya dikenal sebagai pemain rapai.  Sementara buyutnya berperan sebagai donatur yang membiayai berbagai kegiatan kesenian, mulai dari proses pembuatan rapai hingga pelaksanaan meuroh atau pertandingan rapai antarkelompok.

Karena itu, sejak kecil, Ahmad telah akrab dengan bunyi tabuhan Rapai yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

“Sejak usia sekitar sepuluh tahun saya sudah bermain rapai, karena alat itu memang sudah ada di rumah,” ujar Ahmad kepada Serambinews.com, Minggu (31/5/2026).

Baca juga: Syekh Ahmad, Enam Dekade Menjaga Warisan Rapai Pase di Pirak Timu

Ahmad merupakan putra dari Tgk Abad dan telah puluhan tahun terlibat dalam aktivitas kesenian Rapai yang diwariskan ayahnya Guha Surat atau kakek dari Syekh Ahmad.

“Kalau nek tu saya tidak tahu namanya. Tapi beliau sangat dikenal masyarakat, karena memiliki kemampuan menabuh rapai, juga jadi donatur kalau mau buat rapai dan acara meuroh, termasuk rapai Buket Meulinteung, itu peninggalannya,” ungkap Ahmad.  

“Rapa’i Buket Meulinteung bukan dibuat dari batang pohon, melainkan dari banie atau akar besar pohon tualang yang tumbuh di sebuah bukit memanjang di antara bukit-bukit lainnya,” jelas Ahmad.

Cara pembuatan seperti itu, menurutnya, merupakan kearifan masyarakat masa lalu dalam memanfaatkan sumber daya alam tanpa harus menebang pohon secara keseluruhan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved